Djaduk Ferianto (kanan, almarhum) bersama Butet Kartaredjasa (pegang mic) dan Susilo Nugroho (rambut putih) dalam diskusi teater. (Foto: Istimewa)

Gandrik Bukan Kelompok Dagelan, Wasiat Djaduk Ferianto

Seni dan Budaya 29 November 2019 09:25 WIB

Teater Gandrik Sambang Suroboyo ternyata mencatat sejumlah hal penting, sebelum pentaskan lakon Para Pensiunan, di Ciputra Hall, Surabaya, 6-7 Desember 2019. Di antaranya, wasiat Djaduk Ferianto, sutradara yang juga penata musiknya, sebelum meninggal dunia pada 14 November lalu.

Dalam pementasan lakon Para Pensiunan, akhirnya diputuskan akan disutradarai Susilo Nugroho, menggantikan Djaduk Ferianto. Susilo Nugroho termasuk di antara generasi pendiri Teater Gandrik bersama Heru Kesawa Murti (almarhum) pada 1983. Susilo Nugroho juga yang mengadaptasi naskah Para Pensiunan bersama Agus Noor.

Lalu, apa sesungguhnya pesan-pesan penting Djaduk Ferianto terhadap eksistensi Teater Gandrik?

Adik kandung Butet Kartaredjasa ini pernah menyampaikan pesannya, bahwa Teater Gandrik bukanlah kelompok dagelan.

Banyak orang menonton pementasan Teater Gandrik biasanya merindukan ungkapan-ungkapan satire dan kekocakannya. Selanjutnya bisa membuat tertawa dan terhibur. Namun Djaduk menegaskan, “Gandrik bukan kelompok dagelan. Itu penting,” kata Djaduk.

Djaduk pun tak memungkiri, masyarakat menonton Teaer Gandrik karena berorientasi pasti lucu. Seperti dagelan. Tapi bukan.

“Kalau lucu bukan karena aktornya., tapi peristiwanya sudah lucu,” kata Djaduk.

Dia mencontohkan lakon “Para Pensiunan 2049” yang semula mengacu dari naskah buatan Heru Kesawa Murti (almarhum). Kemudian ditata ulang oleh Agus Noor dan dibongkar lagi oleh Den Baguse Ngarso. Mengisahkan peristiwa lucu tentang orang mati yang tidak bisa dikuburkan karena tak punya SKKB (Surat Keterangan Kematian yang Baik).

“Tapi terbangun citra. Gandrik itu mesti lucu. Mau nonton kelucuannya di bagian mana? Mungkin tidak didapatkan,” kata Djaduk.

Pemain pun diminta Djaduk untuk tidak berpretensi mencari kelucuan. Setelah karakter yang dilakoni terbentuk, pemain bisa berkreativitas menafsirkan ulang dialog-dialog itu.

Seperti menambah ungkapan-ungkapan, menyisipkan isu ke dalam lakon dengan tetap berkorelasi pada tema besarnya.

“Itulah kreativitas para aktor. Makanya muncul kelucuan-kelucuan itu,” papar Djaduk.

Itulah pesan-pesan penting yang disampaikan Djaduk Ferianto, di Warung Bu Ageng, Jogjakarta, 5 April 2019.

Seperti diketahui, Teater Gandrik mempersiapkan diri dengan optimal. Dengan melakukan latihan untuk persiapan pentas lakon telah ditunjuk Susilo Nugroho sebagai sutradara, bersama Butet Kartaredjasa sebagai Pimpinan Produksi lakon Para Pensiunan ini.

"Sebenarnya, ini merupakan karya terakhir Djaduk Ferianto sebagai penata musik," kata Arif Afandi, Founder dan CEO ngopibareng.id, penyelenggara pementasan Teater Gandrik Sambang Suroboyo ini.

''Naskah banyak diubah, latihan reading lagi, menyamakan tafsir. Ini latihan lagi setelah Djaduk nggak ada,'' kata Butet Kartaredjasa, terkait perombakan menyusul meninggalnya Djaduk Ferianto, yang juga adiknya.

"Kami dari ngopibareng.id mementaskan Teater Gandrik di Surabaya sebagai bentuk kepedulian portal berita berbasis di kota ini. Selama ini, pertunjukan seni apresiatif seperti teater dirasa masih sangat kurang. Diharapkan pementasan Gandrik ini bisa merangsang kelopok teater di kota pahlawan ini bangkit kembali," tutur Arif Afandi, menambahkan.

Penulis : Riadi

Bagikan artikel ini

Berita terkait:

24 May 2020 13:22 WIB

Menolak Punah karena Corona, Warga Jogjakarta Memang Istimewa

Feature

Ini gerakan warga Jogjakarta melawan pandemi Corona.

22 May 2020 15:30 WIB

Lebaran, Pemkot Jogjakarta Minta Warganya Kelola Sampah Mandiri

Nusantara

Libur Lebaran, TPA Piyugan libur dua hari.

22 May 2020 12:40 WIB

Data 2,3 Juta Penduduk Jogjakarta Bocor di Internet

Internet

Data yang bocor diduga berasal dari daftar pemilih tetap KPU setempat.

Lihat semua

Topik Lainnya

Temukan topik menarik lainnya.

Tirto.ID
Loading...