Gaharu Anies, Lem Aibon, dan Mimpi Dibon

04 Nov 2019 13:18 Ajar Edi
Ujar Ajar

Belakangan ini pemberitaan atas Gubernur Anies Baswedan melesat. Urusan penyusunan APBD 2020 DKI Jakarta. Ada rencana pembelian beberapa barang yang mengusik publik.

Dari lem Aibon, komputer, alat tulis, helm proyek, hingga rencana menyewa influencer media sosial. Pengajuan besaran budgetnya bikin orang pening melihatnya. Entahlah, apakah para penginput data hanya ingin mengamankan besaran plafon anggaran dinas saja?

Nanti, saat pembahasan dengan DPRD, kegiatannya bisa diubah. Bisa jadi, untuk menampung proyek aspirasi dari para anggota dewan. Jamak, para anggota dewan dapat “jatah” kegiatan aspirasi, agar para kepala dinas tak pusing menghadapi polah anggota DPRD.

Peristiwa itu, membuat banyak orang mencibir. Tapi, secara tidak langsung, ada yang juga suka. Lebih kepada efek pemberitaannya.

Namanya, Tim Gaharu. Inilah tim yang membantu Mas Anies. Menjaga reputasinya juga memasarkan hasil pencapaian kerjanya. Peristiwa ini membuat nama Mas Anies makin lekat di bawah sadar banyak orang. Kencang, sekuat eratan lem Aibon.

Tinggal tugas Tim Gaharu, menyulap berita negatif, tetap dipersepsikan positif. Jadi wangi. Seperti bau pohon Gaharu.

Besar kemungkinan, tim ini juga mempersiapkan untuk pertempuran berikutnya. Pencalonan Mas Anies di laga Pilpres 2024. Derasnya pemberitaan, baik negatif atau positif, membuat namanya selalu disebut. Orang akan selalu ingat.

Mas Anies juga pintar memanfaatkan momen. Saat ramai-ramai, dia langsung menyerang Koh Basuki Cahaya Purnama. Dia menyampaikan kalau kecacauan input data karena sistem budjeting warisannya.

Dia tahu, kalau langsung memarahi stafnya, dia tidak dapat efek beritanya. Tapi saat yang disentil Koh Basuki, pasti ada efeknya. Sayangnya, Koh Basuki masuk perangkap.

Dia sontak menyerbu balik. Mungkin karena telingga tipisnya. Serta bilang, Mas Anies terlalu smart.

Tak cukup itu. Para fanatikers Koh Basuki langsung turut menyerbu. Heboh isu berseliweran di media mainstream dan media sosial.

Saya yakin, Mas Anies dan Tim Gaharunya tertawa bersama. Mantan sekondan Koh Basuki, Mas Djarot Syaiful Hidayat mencoba menetralisir. Namun, sudah terlambat.

Efeknya sudah tak terkontrol. Terbaru, ada yang melaporkan pendukung utama Pak Jokowi dan Koh Basuki, karena meme Mas Anies yang dibuat seperti Joker.

Cerita laporan pidana ini, pasti akan digireng lagi oleh Tim Gaharu. Jadi ya, siap-siap saja, kita akan terus disuguhi cerita Mas Anies ini.

Pukulan berikutnya, Mas Anies memarahi para staffnya. Tak perlu menunggu lama Dua pejabat terasnya mengajukan mundur.

Jadi, Mas Anies tergambarkan jadi pemimpin yang berwibawa. Ditakuti para pegawainya. Cerdik sekali.

Yang pasti, serangan para fantikers Presiden Joko Widodo dan Koh Basuki, telah menjadikan Mas Anies sosok utama. Dia jadi calon alternatif dari kalangan muslim.

Jangan heran, sentimen agama ini pulalah yang terus dipupuk pendukung Mas Anies. Penguatan dukungan di Jakarta terus dilakukan. Gerilya ke akar rumput tak pernah henti.

Mas Anies terus mencitrakan diri sebagai wakil independen. Tidak jadi anggota partai politik apa pun. Harapannya, dia akan diterima oleh gabungan partai.

Target berikutnya yang masuk akal, adalah Bang Surya Paloh. Jamak, Bang Surya masih bete dengan peristiwa salaman dengan Bu Mega. Beberapa pos menteri yang diincar Partai Nasdem hilang.

Saat penyusunan menteri kemarin, faksi Sentul (tempat pidato kemenangan Pak Jokowi dan Abah Kiai) yang berjaya. Di sana ada Pak Luhut dan Pak Pratikno. Faksi MRT (tempat Pak Jokowi dan Pak Prabowo bertemu) lumayan ada hasil.

Namun, faksi Gondangdia (tempat Bang Surya Paloh berkantor), agak masuk angin. Pos penting Jaksa Agung dan Menteri ESDM diambil oleh PDI P di tikungan. Kubu PBNU setali tiga uang.

Menyodorkan tiga posisi, semua hilang. Termasuk posisi utama, Menteri Agama. Lainnya yang disasar, pos Menteri Pertanian juga terbang.

Langkah kuda Bang Surya yang bersilatutahmi dengan PKS, banyak ditafsirkan sebagai kekecewaannya. Mas Anies dan timnya, pasti turut mencermatinya. Siapa tahu, bisa dibon buat calon presiden.

Hingga kini, Partai Nasdem dan PKS tak ada jagoan utama. Tak heran, upaya komunikasi terus dibangun. Bang Surya, tampaknya, memposisikan diri sebagai “king maker”. Terbaru, Mas Anies diundang datang ke Konggres Nasdem. Agar visi dan misi keduanya, makin selaras.

Figur Mas Anies, bisa jadi, alternatif buat mereka. Jika Nasdem dan PKS bersatu, PAN bisa bergabung jadi sekutu. Untuk nambah suara, tinggal ajak saja Demokrat.

Sudah ada Mas AHY yang siap jadi sekondan Mas Anies. Pasangan muda ini, bisa jadi alternatif pertama. Tapi, masih ada sedikit celah bagi kandidat lain. Lebih karena kadar popularitas Mas Anies.

Setelah Mas Anies menyelesaikan periode pertama pada 2022, ada jeda dua tahun. Karena Pilkada DKI berikutnya akan bergabung dengan Pemilu pada 2024. Memang, Mas Anies tidak sendirian.

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil dan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, juga mengalami hal serupa. Mereka terhambat aturan Pasal 21 ayat (9) UU No. 10 Tahun 2016 tentang Pilkada. Aturan itu mempersiapkan penyerentakan pilkada dan pemilu pada 2024.

Bisa jadi, momen vakum ini membuat popularitasnya turun. Pada fase ini, semua orang yang merasa dirinya kandidat, bisa bertarung pada titip yang sama. Kang Emil, panggilan akrab Ridwan Kamil, bisa mengambil peran.

Memperkuat popularitas sambil terus mengenggam dukungan kaum muslim. Kegiatannya Salat Subuh berjamaah, bisa terus digenjot. Menyapu di seluruh Jawa Barat.

Areanya lantas bisa makin diperluas. Selain itu, maksimalkan lagi keahliannya. Jika Mas Anies pintar menguntai kata, Kang Emil pintar mengambar. Jadi, ya mengambar dan mendesain sebanyak-banyaknya.

Sudah dimulai dengan Masjid 99 Kubah di Makasar. Sekarang, sebarkan desain masjid terbaik ke seluruh Indonesia. Jadi, ada alasan melakukan kunjungan ke penjuru Indonesia.

Mengecek pembangunan, juga terus memupuk simpati kaum sarungan. Tentu saja, seiring perjalanan waktu, masih akan terjadi banyak perubahan.

Jadi, bagi yang merasa ada garis tangan jadi petinggi negeri ini, bersiap dan bergerak. Yang penting, mulai saja dulu.

Ajar Edi, kolomnis “Ujar Ajar” di ngopibareng.id

Penulis : Ajar Edi
Editor : Witanto


Bagikan artikel ini