Yusril Ihza Mahendra di antara para pendukung Capres Nomor 01 Joko Widodo-Ma'ruf Amin. (Foto: dok ngopibareng.id)
Yusril Ihza Mahendra di antara para pendukung Capres Nomor 01 Joko Widodo-Ma'ruf Amin. (Foto: dok ngopibareng.id)

Gagal ke Parlemen Partai Koalisi 01 Ganti Melirik Jatah Menteri

Ngopibareng.id Nasional 23 April 2019 18:39 WIB

Partai koalisi pendukung capres cawapres 01 Jokowi - Ma'ruf, melirik kursi di kabinet setelah gagal di parleman. Kegagalan ini karena terbentur aturan, hanya partai yang memperoleh sedikitnya 4 persen suara Pemilihan Legislatif yang bisa lolos ke  Senayan.

Partai koalisi pendukung Jokowi yang sementara ini perolehan suaranya masih di bawah 4 persen adalah:

Perindo 3,18%

PSI 2,35%

Hanura 1,85%

Garuda 0,98%

PBB 0,90% dan paling buncit PKPI 0,38 persen.

Dengan perolehan suara yang kurang dari 4 persen, otomatis ambisi kadernya untuk duduk di parlemen, kandas.

Sedang partai koalisi 01 yang berjaya ke parlemen karena suaranya menembus ambang batas 4 persen antara lain PDI Perjuangan, Partai Golkar, PKB, Nasdem dan PPP.

Partai yang gagal ke Parlemen itu berharap memperoleh jatah kursi di kabinet meskipun perolehan suaranya kecil. Tapi menganggap suaranya cukup lantang saat membela dan memenangkan Jokowi di Pilpres.

Mereka yang merasa ikut berjuang di garis depan membela Jokowi, antara lain Ketua Umum Partai Bulan Bintang ( PBB ) Yusril Ihza Mahendra, Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesi ( PSI ) Grace Nataly dan Ketua Umum Perindo Hari Tanoe.

Ketua Umum PBB Yusril Ihza Mahendra, yang merangkap sebagai pengacara pasangan Jokowi - Ma'ruf, mengatakan, dirinya tidak mau mencampuri hak prerogatif presiden. Yusril anggap biasa spekulasi bermunculan pasca pilpres dan jelang penyusunan kabinet.

"Tahu dirilah, Pilpres saja belum beres ngomong soal menteri," kata Yusril di Jakarta 23 April 2019.

Ngopibareng.id pun menghubungi Ketum PSI, Grace Nataly. Ia enggan bicara soal jatah mentri meskipun ukut berjuang memenangkan Jokowi. Ketika ditanya bagaimana kalau diminta Jokowi jadi mentri?" Grace anggap pertanyaan ini masih terlalu pagi, apalagi ada 'kalaunya'.

Peneliti senior dan pengamat politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Siti Zuhro menilai wajar dalam dunia politik berharap imbalan, karena merasa ikut berjuang. Cuma cara atau strateginya saja yang berbeda.

Ia membandingkan, orang yang tidak ikut berjuang saja pingin jadi mentri, apalagi yang merasa ikut berjuang.

"Istilahnya kura-kura dalam perahu, pura pura tapu mau," kata Siti Zuhro, ilmuan LIPI.

Tapi yang perlu dipahami, tolak ukur jadi mentri adalah kemampun, bukan sekadar balas jasa, pesan Siti Zuhro. (asm)

"Tahu dirilah, Pilpres saja belum beres ngomong soal menteri," kata Yusril

Penulis : Asmanu Sudharso

Editor : Riadi

Bagikan artikel ini

Berita terkait:

17 Oct 2020 20:44 WIB

Haedar: Islam dan Nasionalisme Tak Patut Dipertentangkan

Khazanah

Pesan khusus songsong Hari Sumpah Pemuda 2020

11 Oct 2020 15:19 WIB

1.637 Seli-ers se-Indonesia Mengikuti Jamselinas X Secara Virtual

Gowes Bareng

Meski dilakukan secara virtual, tapi malah bisa menjangkau banyak peserta.

08 Oct 2020 06:14 WIB

Liburan Emas

Dahlan Iskan

Tongkom sudah macet total di liburan emasnya. Sudah tak ada pandemi?

Lihat semua

Topik Lainnya

Temukan topik menarik lainnya.

Tirto.ID
Loading...