Bayangan sejumlah jurnalis saat mengabadikan spanduk dan poster dalam aksi unjuk rasa di depan Kedutaan Besar Arab Saudi, Jakarta, Selasa 20 Maret 2018). Para pengunjukrasa memprotes eksekusi mati yang dilakukan pemerintah Arab Saudi terhadap seorang tenaga kerja Indonesia (TKI) bernama Muhammad Zaini Misrin pada Minggu 18 Maret 2018 lalu. (Foto; Antara)
Bayangan sejumlah jurnalis saat mengabadikan spanduk dan poster dalam aksi unjuk rasa di depan Kedutaan Besar Arab Saudi, Jakarta, Selasa 20 Maret 2018). Para pengunjukrasa memprotes eksekusi mati yang dilakukan pemerintah Arab Saudi terhadap seorang tenaga kerja Indonesia (TKI) bernama Muhammad Zaini Misrin pada Minggu 18 Maret 2018 lalu. (Foto; Antara)

FPKS Minta Kemlu Kirim Nota Protes Terkait WNI Dipancung

Ngopibareng.id Nasional 21 March 2018 08:44 WIB

Ketua Fraksi PKS DPR RI Jazuli Juwaini meminta pemerintah dalam hal ini Kementerian Luar Negeri mengirimkan nota protes kepada pemerintahan Kerajaan Arab Saudi terkait Warga Negara Indonesia bernama Zaini Misrin yang dihukum pancung tanpa diberitahukan kepada pemerintah Indonesia.

"Kemenlu wajib protes keras karena perlindungan WNI di luar negeri adalah kewajiban negara yang dibebankan kepada Kemenlu melalui kedutaan besar kita di setiap negara termasuk kepada mereka yang melakukan pelanggaran hukum sekalipun," kata Jazuli di Jakarta, Rabu.

Hal itu menurut dia menyangkut penghilangan nyawa WNI di luar negeri, kenapa Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Arab Saudi sampai tidak diinformasikan.

Menurut Anggota Komisi I DPR RI itu, pelaksanaan eksekusi mati tanpa notifikasi ke KBRI jelas melanggar tata aturan internasional.

"Pemberitahuan penting agar KBRI bisa melakukan langkah pendampingan hukum. Bahkan, saya dengar Pemerintah RI juga sedang menempuh kasasi kedua terhadap vonis Zaini Misrin," ujarnya.

Dia menegaskan bahwa kedepannya Kemenlu tidak boleh kecolongan lagi dan jangan ada kasus-kasus serupa yaitu hukuman mati yang menimpa WNI.

Jazuli menilai Pemerintah melalui Kemenlu harus melakukan pendampingan kepada WNI sejak kasus hukum terjadi bahkan sejak pelaporan dan penangkapan.

"Ini untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak kita inginkan seperti kasus ini dan kasus-kasus lainnya," katanya.

Dia menyampaikan data berdasarkan catatan Migrant Care, yaitu selama 2008 sampai 2018, sudah ada 5 buruh migran di eksekusi mati di Arab Saudi yaitu Yanti Iriyanti, Ruyati, Siti Zaenab, Karni, Zaini Misrin.

Sementara itu, sejumlah WNI juga menanti eksekusi hukuman mati yaitu Tuty Tursilawati dan Eti binti Toyib asal Jawa Barat setelah pada 2010 divonis bersalah karena kasus serupa.(ant)

Penulis : Moch. Amir

Bagikan artikel ini

Berita terkait:

27 Nov 2020 22:43 WIB

Pekerja Migran Disiksa di Malaysia, Bentuk Penghinaan yang Nyata

Internasional

Bekerja pada pelaku penyiksaan selama 13 bulan

27 Nov 2020 21:52 WIB

TKI Disiksa Warga Malaysia, Kemenlu Ambil Langkah Tegas

Internasional

Anti-Trafficking in Persons and Anti-Smuggling of Migrants Act 2007

25 Nov 2020 11:35 WIB

Pakar Hukum UB: Perlu Bangun Kontrol Preventif terhadap PP

Pojok Unibraw

Perlu adanya kontrol preventif di samping kontrol represif.

Lihat semua

Topik Lainnya

Temukan topik menarik lainnya.

Tirto.ID
Loading...