Film 'Wiro (yang) Sableng' vs 'Sultan (yang) Agung'

21 Sep 2018 13:42 Seni dan Sastra

Ada dua film ‘epic- kolosal’ produksi Nasional, Wiro Sableng dan Sultan Agung, yang belakangan ini ramai dibicarakan publik. Dari kedua film Wiro Sableng lah yang paling heboh dibicarakan. Mungkin karena film ini merupakan film Indonesia pertama yang dalam memproduksinya berhasil menggandeng perusahaan raksasa perfilman dunia, 20 Century Fox. Perusahaan yang sudah berpuluh tahun memproduksi ratusan film bermutu, sekelas film pemenang Oscar. Publik penonton pun sangat antusias menyambut produksi yang spektakuler ini. Mereka dibuat penasaran ingin menyaksikan seperti apa kedahsyatan hasil kerjasama ini. 

Pada saat film ini tayang perdana di berbagai sinema ibukota, remaja dan anak-anak yang ditemani para ibu-ibu muda, tampak begitu antusias berdesakan antri untuk mendapatkan tiket yang begitu cepat ‘sold out ’. Antusias publik yang sangat tinggi ini tidak lepas dari kerja promosi fihak produser film yang begitu luar biasa. Gairah calon penonton berhasil dipompa lewat sejumlah iklan dan pemberitaan yang cerdas dan menarik. Panjangnya antrian, persis adegan antri seperti pada saat film Star Wars atau film-film produksi Marvel tayang di minggu pertama peredarannya. 

Saat film Wiro Sableng tayang, adegan pembuka yang penuh dengan adegan gedebak-gedebuk disajikan sebagai menu pembuka film. Wiro Sableng yang selalu berpakaian rapih, dihadirkan sebagai seorang legenda yang pandai bersilat-kungfu. Gaya berkelahi dan humoritas akrobatiknya, dimiripkan seperti si pendekar mabok ala Jackie Chan dalam film Drunken Master. Begitulah Wiro Sableng hadir dari awal hingga akhir cerita, bercanda dan berkelahi tanpa henti. 

Anak-anak dan remaja yang menonotan tampak puas ketika ke luar dari ruang teater. Karena film Wiro Sableng yang digarap lewat pendekatan cenderung kekanak-kanakan, memang pas dan tepat untuk dijadikan film hiburan bagi anak-anak, dan publik-remaja yang tak suka berpikir, gemar tontonan yang ringan dan menghibur, walau tak mencerdaskan sekalipun. Bagi penonton yang mengharap kualitas teknik yang hebat, pengadegan yang tergarap baik, dan penampilan kolosal yang mengesankan sebuah produksi yang mahal, dipaksa harus bersabar menanti produksi berikut yang diharapkan akan lebih digarap secara prima dan berkelas standar internasional.

Ada satu lagi film Nasional yang pembuatannya tergolong spektakuler, film Sultan Agung. Pasca menonton film Wiro Sableng, seorang kawan mendesak saya untuk meluangkan waktu menonton juga film Sultan Agung yang menurutnya sangat layak untuk ditonton. Saat menyaksikan film Sultan Agung yang memakan waktu tayang sekitar 2 jam 20 menitan, walau terasa panjang masih menyisakan waktu bagi saya untuk duduk mengikuti rolling title di akhir pemutaran film. Jumlah crew tak sebanyak nama para crew yang terlibat dalam produksi Wiro Sableng. Konon Wiro Sableng memang melibatkan ribuan crew, artis dan figuran. Hanya anehnya yang justru menampakkan berbagai adegan yang kuat mengesankan sebuah pengadegan kolosal, justru lebih menonjol dan meyakinkan yang terdapat dalam film Sultan Agung. Begitu juga kesan bahwa film digarap secara pendekatan sinematografi yang baik dan pengadegan yang terencana, tertata, terkontrol dengan baik, dan mahal, lebih nampak pada film Sultan Agung. 

Kesamaan keduanya, sama-sama ditangani art director yang gemar menampilkan busana-pakain terkesan baru keluaran penjahit anyar, dan bangunan set yang serba terasa anyar dan tidak riil, alias kelihatan buatan dan seolah-olah. Perbedaannya, film Sultan Agung dibuat dengan pendekatan yang menempatkan film bukan semata-mata barang dagangan; tapi juga tontonan sekaligus tuntunan. Setidaknya ada pesan bahwa hidup merdeka dan pantang dijajah adalah sikap rakyat Mataram. Dan kekalahan kita sebagai bangsa selalu disebabkan oleh penghianatan orang-orang kita sendiri yang rela menjadi antek penjajah. Sementara Wiro Sableng, film ini dibuat dengan konsep dagang 100 persen komersial, itu saja! 

Sebagai catatan tambahan, permainan prima yang dilakukan oleh Adinia Wirasti, Lukman Sardi dan alm. Deddy Sutomo, telah memberi pewarnaan akting yang berhasil menghidupkan suasana. Sehingga pengadegan dalam film Sultan Agung menjadi lebih terasa natural dan meyakinkan. Sementara dalam film Wiro Sableng, adegan demi adegan dipenuhi oleh penampilan para pemain yang lebih tampil ber-pretending ketimbang acting. Walau demikian, sebagai tontonan ‘Wiro yang Sableng’ lebih diminati publik penonton ketimbang ‘Sultan yang Agung’. Hal mana merupakan cerminan dari kadar kualitas publik kita yang masih berada dalam fase dan taraf ‘Sableng’ dimensional!

Namun, apa pun hasilnya, yang perlu diberikan acungan jempol pada para produser dan sineas  di kedua film ini adalah upaya memberikan yang terbesar dan terbaik kepada publik penonton. Partisipasi aktif mereka dalam memajukan perfilman Nasional sangat perlu diapresiasi…Bravo!

*) Erros Djarot - Dikutip sepenuhnya dari laman watyutink.com

Reporter/Penulis : Farid Rahman


Bagikan artikel ini