Produser Sexy Killers (nomor dua dari kiri) dalam acara diskusi film di Malang. (Foto: Fajar.ngopibareng.id)

Film Sexy Killers Mengampanyekan Golput?

Politik 16 April 2019 10:39 WIB

Film Sexy Killers sedang ramai diperbincangkan. Dua hari diunggah di Youtube, sudah ditonton lebih dari 5 juta kali. Yang menjadi perdebatan, ada anggapan kalau film ini menggiring opini publik untuk golput pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019. Pasalnya, film garapan Watchdoc tersebut membahas tentang oligarki perusahaan tambang batu bara yang dimiliki oleh segelintir orang.

Nama-nama segelintir orang tersebut berkaitan erat dengan dua kubu yang sedang memperebutkan kursi kepresidenan. Baik itu dari kubu pasangan Joko Widodo-Ma’ruf Amin maupun pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Karenanya, di beberapa tempat Sexy Killers sempat dilarang untuk diputar. Seperti yang terjadi Indramayu pada Kamis, 11 April 2019 pemutaran film Sexy Killers dihentikan oleh Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu).

Arief Fiyanto salah seorang produser dari film tersebut menceritakan kalau pembatalan pemutaran Sexy Killers juga sempat terjadi di Universitas Gajah Mada (UGM) dengan alasan tidak kondusif.

Terkait tuduhan bahwa film garapan WatchDoc ini menggiring opini masyarakat agar golput, Arief menampiknya. “Ini salah kaprah, tidak ada sama sekali niat kita ketika mendiskusikan gagasan  produksi film ini mengajak orang untuk golput,” ujar Arief saat ditanyai pada Senin, 15 April 2019.

Arief mengatakan jika Sexy Killers hanya memaparkan seluruh fakta yang ada secara objektif dan lugas. Fakta yang dimaksud yakni kedua kandidat memiliki kepentingan terutama di bidang energi pembangkit listrik dari batu bara.

Seperti yang digambarkan dalam film, di mana setiap ada pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) dapat dipastikan banyak merugikan warga sekitar dan kelestarian lingkungan.

“Film ini tentang energi bersih, keadilan agraria, dan tentang oligarki. Bagaimana kandidat yang berkonstelasi dalam ranah elektoral ini sebenarnya punya jejak hitam,” terangnya.

Selain itu, pembuatan film ini sudah diinisiasi sejak lama oleh Direktur WatchDoc, Dandhy Laksono, yaitu tahun 2018 sebagai bagian dari Ekspedisi Indonesia Biru. Secara teknis, Arief juga menjelaskan bahwa film ini baru selesai secara keseluruhan pada tanggal 5 April 2019.

Soal pilpres, Arief mengatakan, “Siapapun nantinya yang menang, patut kita jaga. Kita harus menjaga nurani kita.” Bagi pria yang juga pernah aktif di Greenpeace Indonesia ini, Film Sexy Killers sebagai tantangan agar kedua kandidat berpihak pada rakyat, bukan hanya pada korporat.

Meski Arief sendiri mengaku golput, dia tetap menegaskan bahwa tujuan film ini tidak untuk mengajak orang golput. Dia hanya berharap jika semakin banyak yang menonton film Sexy Killers semakin banyak pula yang tersadarkan dan ikut berjuang. (fjr)

Penulis : Fajar Dwi Ariffandhi

Editor : Moch. Amir

Bagikan artikel ini

Berita terkait:

19 Sep 2020 09:48 WIB

Pertimbangkan Daerah Tunda Pilkada, Ini Solusi Terbaik

As’ad Said Ali

Berpotensi penyebaran Corona di arus bawah (grassroot)

18 Sep 2020 11:55 WIB

Jelang Pilpres, Donald Trump Diterpa Skandal Pelecehan Seksual

Internasional

Laporan dibuat oleh mantan model.

04 Sep 2020 23:10 WIB

Amerika Bagikan Vaksin Covid-19 Dua Hari Menjelang Pilpres

Internasional

Vaksin diberikan pada kelompok rentan.

Terbaru

Lihat semua
22 Sep 2020 00:59 WIB

MAMA 2020 Digelar Virtual 6 Desember

ngopiK-pop
22 Sep 2020 00:40 WIB

Gedung Baru Agensi BTS Mewah

ngopiK-pop
Lihat semua

Topik Lainnya

Temukan topik menarik lainnya.

Tirto.ID
Loading...