Film Kucumbu Indah Tubuhku Ditolak karena Unsur LGBT

27 Apr 2019 14:05 Film

Film Kucumbu Tubuh Indahku menjadi perbincangan hangat. Film garapan sutradara Garin Nugroho, yang bercerita tentang penari Lengger itu, muncul di change.org. Seperti diketahui situs ini biasa digunakan untuk melayangkan petisi oleh netizen.

Seorang pengguna bernama Rakhmi Mashita membuat petisi untuk menolak penayangan dan penyebarluasan film yang dianggap LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender).
"Tolak penanyangan dan penyebarluasan film LGBT dengan judul Kucumbu Tubuh Indahku Sutradara Garin Nugroho".

Petisi itu menyebut film ini dikhawatirkan berdampak buruk kepada penonton terutama generasi muda yang menyaksikan.

"Sebuah film selain dibuat untuk menceritakan true story, seharusnya sebuah film bisa membawa efek positif bagi penontonnya, seperti menjadi inspirasi positif,kreatif,dan menambah wawasan yg bernilai positif jg, jika film seperti ini diijinkan tayang dan disebarluaskan, kita mesti khawatir, bahwa generasi muda yg mengalami kesulitan menemukan jati diri akan mencontoh perilaku dalam film ini." tulis Rakhmi Mashita, lima hari lalu.

Kini petisi penolakan film ini sudah ditandatangani oleh 8 ribu akun lebih. Mereka berharap bisa sampai angka sepuluh ribu tandatangan.

Menanggapi hadirnya petisi tersebut, Garin Nugroho buka suara. "Petisi untuk tidak menonton film Kucumbu Tubuh Indahku lewat ajakan medsos, tanpa proses dan ruang dialog, bahkan tanpa menonton telah diviralkan di media sosial. Penghakiman massal lewat media sosial berkali terjadi pada karya seni dan pikiran atas keadilan. Gejala ini menunjukkan media sosial telah menjadi medium penghakiman massal tanpa proses keadilan, melahirkan anarkisme massal," ungkap Garin Nugroho dalam keterangan pers.

"Bagi saya, anarkisme masa tanpa proses dialog ini akan mematikan daya pikir terbuka serta kualitas warga bangsa, memerosotkan daya kerja serta cipta yang penemuan warga bangsa, serta mengancam kehendak atas hidup bersama manusia untuk bebas dari berbagai bentuk diskriminasi dan kekerasan sebagai tiang utama demokrasi," sambungnya. (yas)

Penulis : Yasmin Fitrida


Bagikan artikel ini