Erick Thohir Harus Mulai Belajar untuk Tidak Profesional

08 Sep 2018 15:09 Editorial

Dipilihnya Erick Thohir menjadi Ketua  TKN (Tim Kampanye Nasional ) pasangan calon Joko Widodo-Ma’ruf Amin adalah keputusan yang tepat. Erick masih muda, 48 tahun. Usianya setahun lebih muda dibanding  Sandiaga S Uno, bacawapres pasangan Prabowo Subianto.

Erick memiliki banyak media, antara lain koran Republika, yang sejak pilpres 2014 cenderung mendukung Prabowo. Apakah setelah Jokowi menjadikannya sebagai ketua kampanye, arah kecenderungan Republika akan tetap kritis terhadap Jokowi, atau justru sebaliknya?

Di dalam internal redaksi harian yang terbit perdana tahun 1993 ini, tentu muncul gejolak. Pro dan kontra. wajar. Dan itu pasti akan terjadi. Sebab sebelum ada perubahan kepemilikan menjadi milik Erick Thohir, koran ini diterbitkan oleh Yayasan Abdi Bangsa milik ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia).    

Erick juga tercatat sebagai pemilik Jak TV, AN-TV, punya minoritas saham di TV-One,  selain  juga memiliki beberapa radio seperti Gen FM, Delta FM dan Female Radio. Erick termasuk salah satu  raja media. Dia akan bergabung dengan dua orang raja media lainnya, yaitu Surya Paloh dan Hary Tanoe untuk memenangkan Jokowi-Ma’ruf Amin.

Surya Paloh, Ketua Umum DPP Partai Nasdem, adalah  pemilik Metro-TV dan harian Media Indonesia, sedang Hary Tanoe Ketua Umum DPP Partai Perindo pemilik RCTI, Global TV, MNC, media cetak/online Sindo.

Erick Thohir murni adalah seorang professional. Asian Games 2018 telah membuktikan berhasilnya multi even tingkat Asia yang dikelola secara professional. Erick berhasil menjalin komunikasi dan kemitraan secara professional dengan berbagai kalangan di dalam dan luar negeri.

Sebagai tuan rumah, dua target yang harus dicapai jelas yaitu sukses penyelenggaraan dan prestasi. Keduanya berhasil dicapai, membuat Presiden Jokowi, bersama sebagian rakyat Indonesia, kesengsem dan lengsung merekrutnya menjadi Ketua TKN.

Pilihan  Jokowi yang diumumkan hari Jumat 7 September kemarin, sama sekali tidak ada penolakan dari partai-partai pendukung. Padahal sebelumnya para petinggi partai-partai itu sudah berceloteh tentang siapa saja yang dijagokan untuk jadi Ketua KTN Jokowi-Ma’ruf Amin. Sekarang semua diam. Bahkan memberi pujian. 

Kampanye untuk memenangkan calon presiden dan wakilnya, adalah kerja politik. Sayangnya, ini yang sebelumnya tidak pernah dilakukan Erick Thohir. Sebagai profesional, dia akan bersentuhan dengan makhluk-makhluk politik yang cenderung tidak profesional, bahkan banyak yang tidak rasional. Dari tingkat pusat hingga daerah.

Berurusan dengan orang-orang partai, tidak lebih gampang dibanding berurusan dengan singa. Singa diberi makan hingga kenyang, beres. Sedang orang-orang partai, kebanyakan,  tidak pernah merasa kenyang.  

Dukungan moral serta kebijakan para elit partai terhadap Erick Thohir, tidak berarti dia akan mendapat dukungan pula dari struktur partai di daerah. Di sanalah nanti Erick akan menemui fakta bahwa di dunia politik yang irasional, apa saja memerlukan dana. Bahkan untuk berbohongpun diperlukan anggaran/ Ada dana ada kerjanya. Ada dana ada suara. Ada dana ada saksi di TPS. Ada dana ada baliho. Ada kaos, ada berita, ada foto, ada stiker, semuanya harus ada dananya.

Yang jadi persoalan kemudian, dari mana dia akan mendapatkan dana besar yang dibutuhkan untuk memenangkan pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin itu? Yang jelas bukan dari APBN atau APBD.

Sebagai ketua INASGOC atau Indonesia Asian Games 2018 Organizing Committe sebagai pelaksana Asian Games ke XVIII, anggaran yang diperoleh sudah jelas.  Demikian pula pengeluarannya, semua disusun berdasarkan perencanaan yang matang.

Untuk menyelenggarakan Asian Games, Erick memperoleh anggaran selain dari OCA (Olympic Council of Asia) dan KOI (Komite Olimpiade Indonesia) atau NOC (National Olympic Committe),  juga ditunjang dana dari pemerintah melalui Kemenpora. Belum lagi dana dari para sponsor, baik BUMN maupun perusahaan swasta. Semua dana itu diperoleh secara resmi dan terukur, terukur pula pengeluarannya.

Sedang anggaran untuk memenangkan pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin, akan diperoleh dari mana? Besarannya berapa? Lantas anggaran yang terkumpul itu nanti digunakan untuk apa saja, kepada siapa saja, tidak mudah disusun dan direncanakan. Dana bisa saja menggerojok dari segala penjuru, tetapi pengeluarannyapun  juga bisa jauh lebih besar yang celakanya lagi, nyaris tanpa bukti administratif sebagai pertanggung-jawaban.

Berhubungan dengan politik, artinya berhubungan dengan banyak orang yang sama sekali tidak profesional. Kini Erick Thohir harus mulai belajar untuk tidak profesional. (m. anis)

Penulis : M. Anis


Bagikan artikel ini