Era Disruption Bola di Piala Dunia

19 Jun 2018 16:55 Bola Kultural

Semua itu membuat pekan pertama Piala Dunia di Rusia ini seperti masa disruption. Yakni masa ketisakmenentuan atau ketidakmapanan dalam jagat bola. Yang diunggulkan tak berhasil mewujudkan keunggulannya. Yang tidak diperhitungkan mampu membuat kejutan dengan perlawananya terhadap tim-tim besar.

Ketidakmenentuan merambah piala dunia di Rusia. Tim-tim besar kesulitan mengoleksi poin di babak awal perhelatan sepakbola terbesar se jagat ini.

Juara bertahan Jerman dipecundangi tim yang tak diunggulkan, Mexico, di laga perdana di stadion Luzniki. Brazil yang diunggulkan juara harus puas dengan posisi imbang oleh Swiss.

Argentina yang dikapteni bintang Barcelona FC Lionel Messi tak mampu menunjukkan tajinya. Ia ditahan imbang oleh tim negara yang tak menonjol dalam prestasi sepakbolanya: Islandia. 

Hanya Belgia yang memang diunggulkan menang mudah dengan Panama mampu mewujudkan keunggulannya. Meski sempat kesulitan membobol gawang lawan di babak pertama, akhirnya tim yang diperkuat De Bruyne dan Lukaku ini mampu mengoleksi 3 gol.

Sebelumnya, Swedia hanya merengkuh satu gol menghadapi tim dari Asia: Korea Selatan. Padahal timnas negeri Kpop ini hanya dimasukkan sebagai tim hiburan dalam piala dunia.

Yang juga diharap mencatat prestasi tapi dianggap wajar menuai kekalahan adalah Mesir. Saat menghadapi Urugay, timnas negeri Piramid ini kebobolan 0:1. Dianggap wajar kalah karena Mesir berlaga tanpa M Salah.

Yang pasti, tim-tim besar dengan para pemain bintangnya tak mampu bersinar di laga perdana sampai hari kelima sejak pembukaan Piala Dunia. Belum ada yang menonjol dilihat dari segi permainan.

Kalau pun ada yang menarik barulah pertandingan antara Portugal dan Spanyol. Kedua tim dari negeri bola ini seakan menjadi pertandingan final di awal Piala Dunia dengan hasil koleksi gol masing-masing tiga.

Malah kejutan yang semestinya tidak terjadi menimpa peraih berkali-kali Ballon d'Or Messi. Si kaki malaikat ini gagal melakukan tendangan penalti saat melawan Islandia. Memalukan!

Yang patut bertepuk sorak hanyalah tuan rumah Rusia. Ia berhasil melumat Arab Saudi di laga pembukaan 5:0. Inilah laga dengan jumlah gol kemenangan terbesar selama sepekan Piala berlangsung.

Pertandingan pembuka yang ditonton Presiden Rusia Vladimir Putin dan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammad bin Salman lebih menarik penampakan akrabnua kedua tokoh itu ketimbang pertandingannya. Keduanya tampak akrab dan berkali menjadi perhatian publik lewat televisi.

Kiai seniman Ahmad Mustofa Bisri yang biasa dipanggil Gus Mus tak heran dengan kekalahan telak Arab Saudi. "Karena ditonton langsung rajanya, pemain Arab jadi tak bisa bermain tim. Ingin menonjol sendiri-sendiri," katanya seperti dikutip menantunya Ulil Absar Abdalla lewat akun facebooknya.

Banyak analisis guyonan berkembang diantara para penggemar bola Indonesia. "Pemain Arab memaksa tetap puasa sih. Jadi kurang stamina," kata penggila bola dari Surabaya.

Yang lain bilang, selain terteror suporter tuan rumah, pemain Arab Saudi juga tertekan oleh iklan Qatar Airways yang menjadi sponsor Piala Dunia. Loh apa hubungannya? Arab kan sedang musuhan dengan Qatar dan melarang maskapainya terbang di atas wilayah udaranya.

Arab juga harus malu dengan prestasi negara lain yang menjadi musuhnya: Iran. Negeri muslim Syiah ini berhasil mengalahkan Maroko yang negeri muslim Sunni 1:0. 

Jadilah Arab dipermalukan dengan kalah dari negeri komunis dan disindir musuhnya Iran yang berhasil mengoleksi satu gol di laga perdana. Ya ini tentu bukansesuatu yang serius. Ini soal bola bung, bukan agama.

Semua itu membuat pekan pertama Piala Dunia di Rusia ini seperti masa disruption. Yakni masa ketisakmenentuan atau ketidakmapanan dalam jagat bola.

Yang diunggulkan tak berhasil mewujudkan keunggulannya. Yang tidak diperhitungkan mampu membuat kejutan dengan perlawannya terhadap tim-tim besar.

Era disruption belakangan begitu populer di bidang ekonomi. Ini setelah sejumlah korporasi besar yang mapan keteteran dengan inovasi baru yang tak pernah diduga sebelumnya. Ero ekonomi kolaboratif yang didukung oleh kemajuan teknologi informasi. 

Sampai kapan era disruption Piala Dunia ini akan berlangsung? Bisa jadi tidak akan lama. Jerman yang dijuluki si Panser dipercayai akan bangkit. Ia dikenal seperti mesin diesel yang panasnya butuh waktu.

Argentina dan Brazil bisa jadi juga segera menggeliat. Masih terlalu awal meramalkan akan betul-betul terjadi era disruptive dalam jagat bola di Piala Dunia.

Bisa jadi ini hanya ingin mempermainkan emosi kita para supporter lepas dari negeri kita yang timnasnya belum mampu menembus perhelatan besar dunia ini. Karena itu, ndak usah galau berketerusan.

*) Arif Afandi adalah Founder Ngopibareng.id dan Mantan Ketua Umum Persebaya.