10 Ton Padi Per HektarEksperimen Wisanggeni dan Suport dari Para Petani

06 Feb 2019 10:00 Feature

Pawakan-nya setengah tambun. Rambutnya cepak nyaris seperti potongan tentara. Berkumis cukup tebal. Tak segan menunjukkan kulitnya yang menghitam laiknya petani yang terbakar matahari.

Gaya bicaranya cukup ceplos-ceplos. Tersirat keluguan mendalam khas kehidupan desa. Enerjik, dan sama sekali tidak menyiratkan kepasrahan kaum petani seperti pada umumnya.

Itulah Jumari, Ketua Kelompok Tani Mulya, Desa Kasreman, Kabupaten Ngawi yang tengah menjadi bintang di antara kaum tani berkat padi Wisanggeni.

Di Kasreman itu Jumari sejak lama dikenal sebagai petani plus. Ya, plus pegawai di instansi PDAM Ngawi, plus Ketua Kelompok Tani Mulya, plus Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Kasreman, Ketua Kelompok Tani dan Nelayan Andalan (KTNA) Ngawi dan sederet plus-plus lain yang sifatnya adalah jabatan sosial.

Semua dilakoninya dengan serius. Karena itu, sejak rahun 2005 para petani di Kasreman merasa nyaman mendapatkan ketua yang mau peduli dan ngopeni para wong tani.

Sedikitnya, 78 petani aktif bernaung di bawah bendera Kelompok Tani Mulya. Besarnya jumlah anggota kelompok tani ini, dan juga karena kekompakannya, membuat Balai Benih Dinas Pertanian Ngawi sering menggandengnya dengan menitipkan bermacam benih untuk dilakukan uji tanam di sawah-sawah produktif milik petani.

Meski sifatnya ada muatan eksperimen, yang boleh jadi nanti tidak akan mendapatkan keuntungan saat panen tiba, toh Jumari sebagai “kepala suku” berikut barisan petaninya tak pernah menolak diajak menggarap program demikian.

“Gagal panen atau kurang beruntung saat panen tiba, bagi kami di Kasreman, itu adalah seperti makanan sehari-hari. Hal yang sudah sangat biasa di sini. Namanya juga gagal, jadi apa mau dikata. Kita sebagai petani, ya menanam lagi. Tidak ada istilah kapok. Eksperimen jalan terus. Sebab itu, petani di sini dijuluki petani “gila”. Selain tak mengenal istilah kapok, sukanya juga menanam yang aneh-aneh,” terang Jumari bersemangat.

Bulir Wisanggeni 9 unggulan jempolan FotoWidiKamidingopibarengid
Bulir Wisanggeni 9, unggulan jempolan. (Foto:WidiKamidi/ngopibareng.id)

Karena “kegilaannya” itu, tak henti-hentinya Jumari menyerukan ke para anggotanya untuk menjadi petani plus. Selain menggarap sawah yang mungkin saja gagal saat panen, petani harus punya pendapatan lain. Meski hanya kegiatan sampingan, minimal ada gantungan harapan jikalau memang panenan merugi atau gagal disaat iklim tak menentu seperti sekarang.

Seruan ini tampaknya cukup mendapat respon, jadi tidak mengherankan jika di Kasreman banyak dijumpai petani sekaligus pemilik kolam lele, peternakan ayam kampung, ternak sapi, jamur tiram, usaha tithik batu dan sebagainya.

Harus menjadi petani plus. Karena petani rawan gagal saat panen. Sebab itu petani harus punya pendapatan lain.

Wisanggeni 9
Di tengah terjangan musim yang ekstrem beberapa tahun terakhir, tak banyak petani yang merelakan tenaga, dana berikut sawahnya untuk melakukan serangkaian terobosan untuk menyiasati musim itu sendiri. Ini yang membedakan petani di Kasreman dengan para petani lain. Padahal yang dihadapi adalah sama, yaitu potensi merugi jika panenan gagal.

Di tahun 2009 Kelompok Tani Mulya mendapat titipan 20 varietas benih padi lokal dari Balai Benih. Karena sudah terbiasa digandeng untuk melakukan program uji tanam Jumari dan kelompok taninya — seperti biasa — tanpa banyak bertanya segera saja menanam benih padi titipan tersebut secara suka rela.

“Wong pekerjaannya menanam, begitu ada kesepakatan untuk tanam maka ya ditanamlah benih-benih itu,” ujar Jumari sembari mengingat awal mula kemunculan Wisanggeni.

Menurut Jumari — yang ternyata juga pernah dikirim Litbangda Kabupaten Ngawi untuk belajar penangkaran benih di Sukamandi, Subang, Jawa Barat di tahun 2006 — tak ada perlakukan khusus terhadap 20 varietas benih padi titipan Balai Benih yang ditanam petaninya. Semua dikerjakan seperti biasa. Hanya yang membedakan barangkali adalah sebisa mungkin mengurangi pupuk dan obat-obatan kimiawi dan menggantinya dengan bahan-bahan organik.

Para petani Kasreman yakin, di saat musim yang ekstrem seperti sekarang, dimana tanah tidak begitu cukup mendapat sinar matahari, petani tidak bisa main-main dengan pupuk kimia.

Rapatrapat serius kelompok tani white board penuh catatan penting FotoWidiKamidingopibarengid
Rapat-rapat serius kelompok tani, white board penuh catatan penting. (Foto:WidiKamidi/ngopibareng.id)

Tahun 2006 belajar menangkar benih di Subang, tahun 2007 Jumari sudah mahir menangkar benih sendiri. Ilmu menangkar benih yang didapatnya tersebut sangat berperan dalam penemuan benih Wisanggeni. Saat nyantrik di Subang itu, hal paling wajib yang harus dilakukan seorang penangkar adalah mengamati pertumbuhan padi hingga saat memanen.

Ketika 20 varietas benih padi lokal titipan itu memasuki masa tanam, termasuk ditanam disawahnya yang luasnya sekitar 2 hektar, secara otomatis ia pun mengamati pertumbuhannya seperti saat latihan di Subang. Statusnya yang menjadi staf perusahaan daerah di PDAM Ngawi sejak tahun 1994 tak membuat aktivitas wajib seorang penangkar ini diabaikannya.

“Minimal saya dua kali dalam sehari harus tetap ke sawah,” aku Jumari.

Sejak tumbuh hingga menjadi padi berisi, Wisanggeni sudah menunjukkan perbedaan dan kejanggalannya. Di antara hektaran sawah yang ditanami benih titipan itu, Jumari hanya menemukan 5 malai saja. Sebelum berisi padi, batang padi tampak kokoh, lebih kokoh dari batang-batang lain di sekitarnya. Anakan juga jauh lebih banyak, sedang tingginya di atas rata-rata padi lain. Setelah padi berisi, bentuknya lonjong tidak, bulat juga tidak. Malai juga jauh lebih panjang. Sementara kulit padinya lebih tipis dibanding 20 varietas lain di sekitarnya.

Naluri seorang penangkar benih pun akhirnya bicara. Padi berisi dari malai yang berbeda itu kemudian disisihkan. Maka, mulailah Jumari melakukan penangkaran. Dari hanya 5 malai kemudian menjadi 1 kilogram. Dari 1 kilogram benih kemudian menjadi bentuk eksprimen di sawah seluas 1 hektar. Sementara ekperimen sedang berlangsung, Jumari sudah berhasil menangkarkan Wisanggeni menjadi Wisanggeni 1 sampai Wisanggeni 11. Hebatnya, Jumari sudah berhasil pula menemukan maskot Wisanggeni, yaitu Wisanggeni nomer 9. Hasil panenan lebih meledak ketimbang Wisangeni lainnnya.

Dikatakan Jumari, dari serangkaian eksperimen yang sudah dilakukannya dengan menggunakan lahan milik mertua, padi Wisanggeni cukup menunjukkan keunggulannya.

“Benih padi ini lebih tahan terhadap hama, juga tidak mudah rebah kalau cuaca memburuk karena angin kencang. Selain tahan hama dan tahan rebah, hasil panen padi Wisanggeni ini juga lebih banyak dibanding benih padi lain. Ini bisa dilihat dari perbedaan jumlah malainya. Malai adalah sekumpulan bunga-bunga padi (spikelet) yang timbul dari buku paling atas, sedangkan butir-butirnya terdapat pada cabang-cabang pertama maupun cabang-cabang kedua. Panjang malai suatu varietas dan banyaknya cabang cabang tiap malai serta jumlah butir tiap-tiap cabang, tergantung kepada varietas padi yang ditanam dan cara bercocok tanam. Satu rumpun benih Wisanggeni memiliki 20-30 malai, sedangkan padi lain di bawah 20 malai,” urai Jumari.

Untuk satu hektar padi benih Wisanggeni nomor 1-6, bisa menghasilkan 6-7 ton padi per hektar. Sedangkan Wisanggeni nomor 9, adalah benih yang paling unggul karena bisa menghasilkan 9-10 ton per hektar. Hasil Wisanggeni 9 ini lebih besar dari padi lain yang rata-rata cuma menghasilkan 7-8 ton/hektar. Hanya saja usia tanam Wisanggeni 9 lebih lama, yakni sekitar 100 hari, sedangkan Wisanggeni 1-6 sekitar 85-90 hari.

Saat ini benih padi Wisanggeni sudah banyak ditanam petani di Ngawi, Madiun, dan Nganjuk. “Saya perkirakan Wisanggeni sudah ditanam di 300-500 hektar sawah. Sedangkan kelompok tani kita sudah menanam Wisanggeni di lahan seluas 13 hektar yang ada di Desa Karang Malang. Petani di Jember, Bojonegoro, dan Banyuwangi tak henti-hentinya berusaha mendapatkan benih, namun kita saat ini sama sekali tak ada benih,” kata Jumari.  

Karena keunggulannya tersebut, Wisanggeni menjadi perhatian Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih Tanaman Pangan dan Holtikultura (BPSB TPH) Provinsi Jawa Timur. 
BPSB TPH bersama Dinas Pertanian Kabupaten Ngawi saat ini sedang berjuang mengusulkan temuan Jumari ke BPSB Pusat untuk diteliti sebelum dipatenkan. Rencana ini malah dikawal langsung oleh Gubernur Jawa Timur Soekarwo. Jumari mengaku, Dari benih nomor 1-11 itu, hanya Wisanggeni nomor 5 yang kurang layak. Benih nomor 1-6 untuk kategori usia tanam pendek, dan benih nomor 9-11 untuk usia tanam sedang. (widikamidi/bersambung 2 dari 3 tulisan)

Reporter/Penulis : Widi Kamidi


Bagikan artikel ini