Pemilik P-WEC, Rosek Nursahid, saat menjelaskan jenis-jenis pohon kepada pungunjung (Theo/ngopibareng.id)

Ekowisata P-WEC Malang, Tolak Segala Bentuk Eksploitasi Hewan

Destinasi 05 October 2019 19:49 WIB

Mengunjungi ekowisata Petungsewu-Wildlife Education Centre (P-WEC), di Kecamatan Dau, Malang. Jangan membayangkan Anda akan bertemu hewan lalu dengan mudah bisa berswafoto dengan mereka.

Konsep wisata tersebut ditolak oleh P-WEC sendiri. Bagi mereka konsep tersebut menyimpan sejumlah praktik eksploitasi terhadap hewan.

Hal itu disampaikan Pemilik P-WEC, Rosek Nursahid. Menurutnya, menikmati hewan secara natural di alam bebas lebih manusiawi dibanding dikurung di dalam sangkar untuk dijadikan objek foto semata.

"Saya pernah melihat praktik di suatu kebun binatang, terdapat seekor harimau diberi obat penenang agar dia bisa diajak berfoto," terangnya, Sabtu 5 Oktober 2019.

Selain itu, menurutnya, berdasarkan pengamatan di lapangan, agar bisa dijadikan objek untuk berfoto, seekor burung harus dicabut terlebih dahulu bulu terbangnya.

"Jadi agar burung itu bisa diajak foto, bulu terbangnya dicabut. Maka burung itu hanya bisa loncat saja. Ini kami anggap tidak manusiawi. Sebab semata-mata hewan diperlakukan sedemikian rupa hanya untuk kepentingan manusia saja," ujarnya.

Atas dasar itu, Rosek mendirikan P-WEC pada 2003, yang menawarkan safari hewan secara natural di alam bebas. Tanpa kurungan sangkar dan tanpa eksploitasi.

"Menurut saya jika ingin menikmati burung berterbangan maka kitalah yang mengunjungi habitatnya. Kita amati mereka terbang di alam bebas," katanya.

Di P-WEC sendiri, Rosek menjelaskan mereka mengusung konsep Living Harmony, yakni harmonisasi antara manusia, hewan dan alam.

"Menikmati dan melihat burung secara natural. Justru di situlah letak petualangannya. Agar kita sebagai manusia selalu merasa superior dibandingkan makhluk hidup lain," ucapnya.

Lahan seluas 5 hektar tersebut ditanami Rosek sebanyak 225 jenis pohon, di antaranya adalah pohon jenis Kerson, Beringin, Flamboyan dan masih banyak lagi, untuk menjaga habitat dari hewan.

"Makanya banyak Tupai, Lutung itu bermigrasi ke P-WEC ini. Bahkan, buah-buahan di sini kita prioritaskan untuk hewan. Jika nanti ada sisa baru kami dan petugas di sini memakannya," ujar Rosek

Dalam kawasan P-WEC terdapat berbagai macam buah seperti Manggis, Delima, Jeruk, Pisang dan lain-lain.

Ada tiga jenis paket wisata yang ditawarkan P-WEC, Wildlife Education, Outbound dan Leadership.

Paket wisata Wildlife Education adalah yang membedakan P-WEC dengan tempat wisata safari yang lainnya.

Di mana para wisatawan akan diajak untuk menikmati burung, tupai, serangga di alam bebas.

"Untuk burung misalnya, itu sudah disediakan buku panduannya. Pengunjung nanti diberi teropong agar dapat melihat burung secara dekat. Nanti bisa diidentifikasi itu burung jenis apa, dia hidup bagaimana, nanti akan dijelaskan juga oleh pemandu," terangnya.

Karena usahanya tersebut, Rosek menerangkan tak jarang tamu dan media dari luar negeri mengunjungi tempat wisatanya itu.

"Bulan Juli itu ada media BBC London ke sini, dalam kontraknya mereka sanggup membayar per-menit untuk pemberitaan (video) di sini. Bayangkan saya dapat berapa," ujarnya sembari tertawa.

Rosek berharap Pemerintah Daerah (Pemda) mulai melirik konsep ekowisata yang diterapkannya tersebut. Sebab, Rosek mengungkapkan dalam setahun saja omzet dari P-WEC bisa menyentuh miliaran rupiah.

"Pemerintah hanya fokus mengembangkan mass tourism. Padahal exclusive tourism seperti ini lebih menguntungkan. Karena segmennya menyasar kelas menengah ke atas," tuturnya.

Selain itu Rosek juga memaparkan dampak negatif dari mass tourism yaitu adanya kerusakan lingkungan.

Penulis : Lalu Theo Ariawan Hidayat Kabul

Editor : Riadi

Bagikan artikel ini

Berita terkait:

20 Jan 2020 11:42 WIB

Pembalakan Liar di Hutan Lindung Sendiki Malang Memprihatinkan

Jawa Timur

Ada tiga metode pembalakan liar yang digunakan, dibakar, diracun dan digergaji

Lihat semua

Topik Lainnya

Temukan topik menarik lainnya.

Tirto.ID
Loading...