Ustad Ma'ruf Khozin, Direktur Aswaja NU Center Jawa Timur. (Foto: nu/ngopibareng.id)

Dua Ukuran Bahagia di Dunia, Ini Penjelasan Ustad Ma'ruf Khozin

Khazanah 20 October 2019 05:36 WIB

Bahagia selalu dirindukan setiap insan. Adakah kita memahami soal kebahagiaan dan ukuran-ukurannya? Berikut Ustad Ma'ruf Khozin, Direktur Aswaja NU Center Jawa Timur menguraikan masalah ukuran bahagia:

Al-Hafidz Jalaluddin As-Suyuthi memiliki kitab kumpulan hadits yang memuat 45.756 hadits. Namanya adalah Jami' Al-Ahadits. Makna kebahagiaan maupun keberuntungan hampir semuanya dikutip dalam kitab besar tersebut.

- Kebahagiaan Materi

Dalam riwayat hadis dijelaskan:

ﺇﻥ ﻣﻦ ﺳﻌﺎﺩﺓ اﻟﻤﺴﻠﻢ اﻟﻤﺴﻜﻦ اﻟﻮاﺳﻊ ﻭاﻟﺠﺎﺭ اﻟﺼﺎﻟﺢ ﻭاﻟﻤﺮﻛﺐ اﻟﻬﻨﻴﺊ (اﻟﺒﻴﻬﻘﻰ ﻓﻰ ﺷﻌﺐ اﻹﻳﻤﺎﻥ، ﻭاﺑﻦ اﻟﻨﺠﺎﺭ ﻋﻦ ﻧﺎﻓﻊ ﺑﻦ ﻋﺒﺪ اﻟﺤﺎﺭﺙ اﻟﺨﺰاﻋﻰ)

Di antara kebahagiaan seorang Muslim adalah rumah yang terasa luas, tetangga yang baik dan kendaraan yang layak (HR Baihaqi dan Ibnu Najjar)

- Kebahagiaan Non-Materi

Namun kebahagiaan yang lebih penting adalah:

اﻟﺴﻌﺎﺩﺓ ﻛﻞ اﻟﺴﻌﺎﺩﺓ ﻃﻮﻝ اﻟﻌﻤﺮ ﻓﻰ ﻃﺎﻋﺔ اﻟﻠﻪ (اﻟﺤﺎﻛﻢ، ﻭاﻟﺪﻳﻠﻤﻰ ﻋﻦ اﺑﻦ ﻋﻤﺮ)

"Kebahagiaan yang sebenarnya bahagia adalah panjang umur untuk ibadah kepada Allah" (HR Al-Hakim dan Dailami)

Dalam riwayat lain:

ﺇﻥ ﻣﻦ ﺳﻌﺎﺩﺓ اﻟﻤﺮء ﺃﻥ ﻳﻄﻮﻝ ﻋﻤﺮﻩ ﻭﻳﺮﺯﻗﻪ اﻟﻠﻪ اﻹﻧﺎﺑﺔ (اﻟﺤﺎﻛﻢ ﻋﻦ ﺟﺎﺑﺮ)

"Di antara kebahagiaan seseorang adalah panjang umur dan Allah memberi rezeki ia dapat mendekatkan dirinya kepada Allah" (HR Al Hakim)

Hadis di atas memang dihukumi dlaif, namun semuanya semakna dengan hadits berikut:

ﺧﻴﺮ اﻟﻨﺎﺱ ﻣﻦ ﻃﺎﻝ ﻋﻤﺮﻩ ﻭﺣﺴﻦ ﻋﻤﻠﻪ (ﺃﺣﻤﺪ، ﻭﻋﺒﺪ ﺑﻦ ﺣﻤﻴﺪ، ﻭاﻟﺘﺮﻣﺬﻯ - ﺣﺴﻦ ﻏﺮﻳﺐ - ﻭاﻟﻄﺒﺮاﻧﻰ، ﻭاﻟﺒﻴﻬﻘﻰ، ﻭاﻟﻀﻴﺎء ﻋﻦ ﻋﺒﺪ اﻟﻠﻪ ﺑﻦ ﺑﺴﺮ)

"Sebaik-baik manusia adalah yang panjang umurnya dan baik amalnya" (HR Ahmad, Tirmidzi, Thabrani dan Al Baihaqi)

Sementara itu, kini banyak yang memaknai bahwa bekas sujud pada salah satu ayat Alquran adalah dahi atau jidat yang hitam. Padahal yang benar adalah terpancarnya aura kebaikan dari dalam diri dan kebaikan perangai.

Menurut Kiai Ma’ruf, ayat yang disalahartikan tersebut adalah pada Surat al-Fath ayat ke 29. Kiai Ma’ruf, sapaan akrabnya kemudian mengemukakan bahwa arti dari ayat dimaksud adalah: Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan Dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud.

“Banyak orang yang salah paham dengan maksud ayat ini. Ada yang mengira bahwa dahi yang hitam karena sujud itulah yang dimaksudkan dengan tanda-tanda dari bekas sujud,” kata Ustad Ma'ruf Khozin. Sehingga sejumlah cara dilakukan agar terlihat ada bekas sujud, termasuk dengan membuat dahi menjadi hitam.

“Padahal itu min atsaril karpet, atau lantaran bekas kasarnya karpet,” katanya berseloroh.

Penulis : Riadi

Bagikan artikel ini

Berita terkait:

10 Jul 2020 15:54 WIB

Ganjar Minta Ada Gugus Tugas Khusus Awasi Perusahaan

Nusantara

Klaster perusahaan diharapkan bisa dicegah.

10 Jul 2020 14:18 WIB

Ganjar Sambangi Rumah Kemasan

Nusantara

Di sela gowes, Ganjar sambangi rumah kemasan.

09 Jul 2020 18:39 WIB

Ganjar Geram Pembuang Limbah di Bengawan Solo

Nusantara

Gubernur Ganjar Pranowo memimpin rapat pencemaran Bengawan Solo.

Lihat semua

Topik Lainnya

Temukan topik menarik lainnya.

Tirto.ID
Loading...