Dua Kisah Kewalian Gus Miek yang Tak Banyak Diketahui Orang

09 Oct 2019 17:36 Tokoh

Meninggalnya Bu Nyai Lilik Suyati atau Bu Yat atau Bu Nyai Miek, istri KH Chamim Thohari Djazuli (Gus Miek), pengasuh Pesantren Al Falah, Ploso, Kediri, membuka kembali perbincangan publik tentang bagaimana kedahsyatan karomah atau kewalian Gus Miek ketika beliau masih hidup.

Banyak kisah kembali diperbincangkan publik terkait kewalian sang kiai. Ngopibareng yang kebetulan pernah bersinggungan atau minimal pernah bertemu dengan Gus Miek serta beberapa kerabatnya mendapatkan banyak cerita tentang bagaimana sang Gus ini memang sangat unik.

Keunikan ini kadang tidak bisa dinalar oleh akal manusia. Ada dua kisah tentang kewalian Gus Miek yang mungkin tidak banyak diketahui publik.

Salah satu kisah itu adalah bagaimana Gus Miek yang tidak pernah membeli BBM di SPBU.

Kisah ini diceritakan oleh seorang wartawan senior yang kebetulan pernah mendampingi Gus Miek ketika sedang berdakwah di berbagai diskotik di Surabaya.

Wartawan ini sebenarnya beragama Katolik, namun oleh Gus Miek, dia kerap dianggap sebagai saudara dan sering diajak berkeliling untuk masuk ke diskotik maupun tempat hiburan malam di Surabaya.

Gus Miek, biasanya berada di Surabaya antara tiga hari hingga satu pekan. Ke mana-mana, Gus Miek senang menggunakan Hardtopnya, namun selama seminggu di Surabaya, si wartawan ini tidak pernah melihat Gus Miek mengisi BBM di SPBU. Padahal kita tahu sendiri bagaimana borosnya Hardtop itu.

"Pernah suatu saat, saya yang diminta nyetir. Beliau minta diantar pulang ke Ploso. Saya lihat penunjuk bensinnya sudah hampir habis, apalagi Hardtop kan boros. Gus Miek tak kasih tahu, Gus Ini harus beli BBM, beliau hanya jawab, wis ayo sopirono aku kesel tak turu," ujarnya.

Mengetahui BBM yang menipis, sepanjang jalan, si wartawan ini agak panik juga. Dia kawatir kehabisan BBM dan harus mendorong mobil bongsor itu.

"Tapi sampai Mojokerto ternyata mobil masih jalan, begitu juga sampai Jombang, Kertosono dan bahkan masih jalan sampai masuk pelataran ndalem (rumah) Gus Miek," ujarnya.

Keanehen tidak hanya sampai di situ, saat mobil baru saja berhenti di pelataran rumah, seorang santri tiba-tiba datang dan membawa satu jerigen berisi BBM. "Padahal saat itu kan belum ada telepon, tapi kok bisa ini santri tahu kalau mobilnya sudah waktunya mengisi BBM," kata dia sambil masih merasa heran.

Tak hanya soal BBM, kisah kewalian Gus Miek juga diceritakan oleh seorang pedagang pasar yang ada di Karangan, Trenggalek. Pedagang ini kebetulan memang masih saudara Gus Miek dari jalur KH Djazuli Utsman terutama dari jalur Mayan, Kediri. Saking dekatnya Gus Miek dan pedagang ini, hingga nama anak-anak dari pedagang ini yang memberikan nama adalah Gus Miek.

Ketika masih hidup, Gus Miek yang kerap ziarah ke Makam Mbah Mesir di Durenan Trenggalek, atau sedang menghadiri Jantiko Mantab sering mampir ke toko pedagang ini. Selain bersilaturahmi untuk menanyakan kabar dari saudara Gus Miek yang ada di Trenggalek, Gus Miek ternyata juga kerap berhutang uang kepada pedagang satu ini.

"Gus Miek itu sering mampir dan pinjam uang. Biasanya sekarang pinjam, besok sudah dikembalikan. Ada santri yang mengantarkan uang ke sini," kata dia.

Keanehan selalu muncul karena tiap kali pinjam uang, Gus Miek selalu bilang kehabisan uang untuk pulang ke Kediri. Namun besoknya santrinya selalu mengembalikan uang dengan kondisi persis seperti yang dipinjam Gus Miek.

"Kan dulu di pasar, uang saya gendeli (ditali jadi satu) dikareti gitu, ada yang seribuan ada lima ribuan. Biasanya Gus Miek tidak ngitung, tapi besoknya ya uangnya posisinya tetap karetan gitu persis seperti yang kemarin saya kasihkan. Seperti tidak digunakan uangnya itu. Dan selalu saja begitu, sampai tak titeni (saya ingat-ingat), pernah satu lembar uang saya coret bolpoin. Besoknya uang yang saya coret itu juga ikut kembali ke sini," ujarnya keheranan.

Padahal, Gus Miek ketika datang dan berhutang tidak selalu menggunakan mobil pribadi. Sering kali Gus Miek datang dengan mengendarai bus sehingga uang itu harusnya digunakan untuk membayar bus untuk pulang ke Kediri.

Penulis : Rohman Taufik
Editor : Moch. Amir


Bagikan artikel ini