Risma, saat dijumpai diĀ  di Gelora 10 Nopember, Tambaksari Surabaya, Jumat, 31 Agustus 2018. (foto: farid/ngopibareng.id)

Dolly Bergejolak, Risma Buka Suara

Surabaya 31 August 2018 19:00 WIB

Saat ratusan orang warga eks lokalisasi Dolly terus melakukan unjuk rasa beruntun selama dua hari ini di depan Pengadilan Negeri Surabaya, secara terpisah Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini akhirnya mau memberikan responnya.

Saat ditanyai wartawan, soal apa yang sebenarnya sedang terjadi di eks lokalisasi itu, Risma sempat menolak memberikan keterangan.

Ia mengaku tak tahu menahu soal permasalahan itu. Dirinya sempat terdiam beberapa detik, sebelum akhirnya wali kota perempuan pertama di Surabaya itu mau buka suara.

"Saya fikir gini lho ya, mereka Warga Dolly itu juga berhak untuk hidup normal seperti warga yang lain, selalu saya sampaikan, saat saya menutup itu, niat saya adalah menyelamatkan anak-anak Surabaya," kata Risma, saat dijumpai di  di Gelora 10 Nopember, Tambaksari Surabaya, Jumat, 31 Agustus 2018.

Menurut Risma, anak-anak yang bermukim di eks lokalisasi itu punya kehidupan yang berbeda dengan anak-anak lain, dan hal itu yang ingin ia bereskan.

"Saya pingin dia normal kehidupannya, karena dia punya hak punya masa depan yang sama dengan anak-anak yang lain, saya kenapa menutup, awalnya karena ingin menyelamatkan anak-anak itu," kata dia.

Lebih lanjut, menurut Risma, langkahnya itu tak hnya untuk menyelematkan anak-anak Dolly saja, namun dalam lingkup lebih luas, ia juga tak ingin bila nantinya anak-anak di wilayah lain jadi terpengaruh bila anak-anak Dolly tak segera mulai ditangani.

"Dan itu bukan hanya Dolly, tapi karena dia anak Dolly lalu sekolah di tempat lain, kemudian (temannya) terpengaruh, jadi anak Surabaya yang ingin saya selamatkan," ujar dia.

Sementara itu, selama dua hari in, 30-31 Agustus ini, ratusan elemen masyarakat eks lokalisasi Dolly menggelar unjuk rasa di depan Pengadilan Negeri Surabaya.

Mereka menolak upaya class action atau gugatan hukum kepada Pemerintah Kota Surabaya dengan nilai Rp270 Miliar atas dasar telah merenggut mata pencaharian perekonomian warga, karena telah menutup kawasan lokalisasi Dolly beberapa tahun lalu.

Selain itu mereka juga menolak upaya-upaya dibukanya rumah musik yang dianggap sebagai pintu masuk bagi bibit-bibit prostitusi di kawasan eks lokalisasi Dolly.

Mereka membentangkan spanduk di antaranya bertuliskan "Penutupan Lokalisasi Dolly Harga Mati", "Dolly Sekarang Sudah Baik Jangan Diganggu Lagi", dan spanduk lainnya. (frd/wit)

Penulis : Farid Rahman

Bagikan artikel ini

Berita terkait:

14 Aug 2020 18:38 WIB

Beberapa Mantan Pemain Persebaya Merapat ke Eri Cahyadi?

Pilkada

Tindakan mereka diprotes keras Bonek Mania.

14 Aug 2020 17:17 WIB

PKB: Baiknya Calon Pendamping MA Tunggu Rekom PDIP

Pilkada

Akan lebih mudah menghitung kekuatan lawan.

14 Aug 2020 16:50 WIB

2.307 Kasus Covid-19 Baru, Jakarta dan Jatim Konsisten Memimpin

Reportase

Jakarta sumbang kasus terbanyak, Jawa Timur laporkan kematian terbanyak.

Lihat semua

Topik Lainnya

Temukan topik menarik lainnya.

Tirto.ID
Loading...