Doa Neno Bukan untuk Bangsa Nano-Nano

23 Feb 2019 10:47 Arif Afandi

Artis jaman dulu Neno Warisman bikin heboh lagi. Setelah namanya jadi perbincangan setelah memimpin gerakan ganti presiden, kini dia kembali menjadi viral di dunia maya karena doanya.

Doa yang tidak biasa. Doa yang dimodifikasi dari doa Nabi Muhammad ketika Perang Badar. Perang yang tidak imbang dari segi kekuatan antara kaum Muslim dan kaum kafir-musyrik. 

Doa yang dia panjatkan di depan peserta Munajat 212 di Lapangan Monas Jakarta itu berbunyi seperti ini: ''Ya Allah menangkanlah kami (Prabowo), jika kami kalah, kami khawatir tidak ada lagi yang menyembahmu.''

Terang saja, doa yang ia bacakan dengan suara campur menangis itu menjadi viral. Ada yang mengamini, ada yang menentangnya. Seperti pada umumnya doa politik yang dibacakan setiap menjelang kontestasi politik seperti pemilihan presiden sekarang.

Yang mengamini berarti setuju dengan narasi doa itu. Atau memang pendukungnya Prabowo. Sedangkan yang menentang beragam alasannya. Bisa karena pendukung Jokowi, bisa juga karena narasi doanya dianggap berlebihan.

Bagi sebagian kamu muslim yang mumpuni ilmunya di bidang tarih, sirah, atau sejarah ke-Nabi-an serta hadist, menilai doa itu tidak pada tempatnya. Sebab, doa itu dipanjatkan Nabi Muhammad ketika Perang Badar yang kekuatan umat Islam dan kaum kafir-musyrik tidak imbang.

Pasukan muslim hanya berjumlah 319 orang. Senjatanya apa adanya. Ada yang membawa pedang dan tombak, tapi ada juga yang hanya bersenjatakan kayu. Sementara pasukan Musyrikin Makkah berjumlah ribuan dengan persenjataan yang lengkap.

Pada kondisi yang tidak imbang dan terdesak seperti itu, Rasulullah sambatan kepada Tuhan. ''Ya Allah, tunaikan apa yang telah Engkau janjikan kepada kami. Ya Allah datangkan apa yang Engkau janjikan kepada kami. Jika pasukan Muslim yang sedikit ini kalah, Engkau tak akan lagi disembah di muka bumi.'' (Hadis Bukhori-Muslim).

Pertanyaannya kemudian apakah Neno sudah menyamakan dirinya sejajar dengan Nabi?. Sehingga ia patut dan layak menagih janji kepada Tuhannya. Lalu apakah memang situasi umat Islam sedang berhadap-hadapan dengan orang kafir-musyrik seperti saat perang Badar.

Dalam konteks Pilpres, doa ini tidak tepat. Lawan calon presiden yang didukung Neno bukanlah kaum kafir dan musyrik. Mereka seorang muslim. Malah, calon wakil presidennya adalah seorang kiai mantan Rais Aam PBNU. Sebuah jabatan keulamaan tertinggi di organisasi kaum Nahdliyin.

Bangsa Indonesia juga tidak terbelah antara dua kekuatan agama yang saling berhadap-hadapan. Sejak awal sudah ada konsensus untuk menjadikan negeri ini sebagai bangsa yang berbeda-beda tetapi tetap satu. Bhineka Tunggal Ika.

Memang sempat ada aspirasi untuk menjadikan Islam sebagai dasar ideologi. Juga sempat muncul Piagam Jakarta yang memasukkan kata-kata "Kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya'' setelah kata Ketuhanan dalam konsep Pembukaan UUD 1945.

Namun, naskah yang disiapkan panitia 9 yang mewakili berbagai elemen bangsa itu akhirnya sepakat untuk menghapus kata-kata itu dengan kesadaran membangun kesatuan bangsa. Penghilangan kata-kata itu bisa disebut hadiah terbesar ummat Islam untuk bangsa ini.

Dengan bahasa sekarang, para pendiri bangsa telah menyapakati untuk merajut kehidupan bangsa dengan keberagaman suku, agama, ras, dan antar etnik. Menjadikan masyarakat bangsa ini tetap penuh warna. Atau dengan bahasa anak sekarang bangsa yang nano-nano.

Apakah dalam bangsa yang masyarakatnya nano-nano itu, ummat Islam menjadi tersingkirkan? Ummat Islam menjadi terdzalimi sehingga muncul doa yang dimodifikasi seperti doa Nabi saat menghadapi musuh Islam saat perang Badar?

Rasanya kok tidak. Kehidupan keagamaan di Indonesia tetap berjalan dengan baik. Pengajian yang hampir tiap hari berjalan di kampung-kampung tidak pernah ada larangan. Negara memfasilitasi dengan anggaran besar pembinaan kehidupan agama melalui Kementerian Agama. 

Manarasikan dan memframing seakan-akan umat Islam teraniaya hanya akan membuat Islam makin ekslusif. Hanya akan menjadikan mereka yang berpikir demikian teralienasi dari realitas kehidupan keagamaan yang sebenarnya. Apalagi kalau perasaan itu dihidup-hidupkan hanya untuk kemenangan kontestasi politik.

Neno memang besar bukan sebagai seorang pemikir negara. Ia mengukir namanya mulai dari seorang artis sinetron dan penyanyi. Kemudian masuk dalam dunia kepenyairan. Baru kemudian ''hijrah'' dan menjadi aktifis politik. Saya tidak tahu siapa mentor politiknya saat memasuki dunia ini.

Saya khawatir Neno mengkonstruksi dinamika politik kini dalam rumusan yang sangat sederhana. Bahwa Islam yang mayoritas kini disingkirkan. Bahwa Islam sedang diadudomba dan dipecah belah. Dan karena itu harus dilakukan perlawanan dengan merebut kekuasaan.

Padahal, sebagian besar ummat Islam telah menganggap persoalan ideologi dan dasar negara ini sudah final. Kita sepakat menjadi negara yang telah menggunakan Pancasila sebagai dasar negara yang memberi ruang kemajemukan.

Persoalannya tinggal bagaimana ummat Islam yang mayoritas ini mengembangkan diri menjadi bagian dari bangsa yang berkualitas? Bagaimana menjadikan ummat Islam berperan lebih banyak dalam kemajuan bangsa melalui multiperannya.

Doa Neno tidak ada masalah kalau diungkapkan dengan lirih dan sebagai keprihatinan pribadinya. Tapi, doa itu tidak tepat untuk realitas sosial politik bangsa Indonesia sekarang. Itu bukan doa untuk bangsa nano-nano seperti kita. (Arif Afandi)

Penulis : Arif Afandi


Bagikan artikel ini