ilustrasi

Doa Mengetuk Alam Ruhani, Mengubah Alam Fisik

Khazanah 31 May 2020 02:38 WIB

Hari-hari ini kita berada di masa krisis yang risikonya bisa menimpa siapa saja di antara kita. Oleh karena itu, seperti telah disinggung dalam dua tema sebelum ini, kita harus terus waspada dan berikhtiar tanpa harus merasa panik. Juga, kita perlu mengambil hikmah, karena setiap musibah pasti ada hikmahnya.

Lalu, orang sering menanyakan, apa peran doa? Betulkah doa punya peran praktis? Jangan-jangan doa “hanya” sebuah pelajaran dari Allah swt. agar manusia pasrah kepada-Nya, lalu mau mendekat kepada-Nya?

Haidar Bagir, seorang aktivis tasawuf, memberikan pesan-pesan dalam perspektif tasawuf. Berikut kami sajikan tulisan tersebut dari ceramahnya soal tasawuf di youtube:

Benar, doa mempunyai beberapa peran, di antaranya adalah peran spiritual, yaitu suatu medium untuk mengeluh dan meminta kepada Allah.
Dengan cara itu, diharapkan kita menjadi dekat dengan Allah swt. Doa juga disebut sebagai ungkapan ta’abbud atau ‘ubudiyyah kepada Allah swt. yang menyadarkan manusia, bahwa ia adalah hamba yang dha’if (lemah) yang tidak bisa hidup kecuali bergantung kepada-Nya.

Sehubungan dengan ini Rasulullah Saw. Bersabda: “Doa itu otak/sumsumnya ibadah”. Semua hal itu benar, namun apakah doa tidak punya peran dalam menciptakan suatu realitas atau mewujudkan sesuatu? Apakah semua kejadian di dunia ini sudah diatur oleh sunnatullah, yang tidak ada sesuatu pun dapat mengubahnya? Atau apakah hukum alam tidak bisa berubah sesuai dengan harapan manusia?
Untuk mengetahui hal ini, kita harus mempelajari apa yang disampaikan Alquran dan memahami sifat kehidupan atau alam semesta sebagai sesuatu yang terbagi menjadi dua alam yang berbeda.

Pertama, ‘alam al-khalq (alam fisik), yaitu alam natural atau alam ciptaan yang diatur oleh hukum alam (saintifik). Hukum alam ini bisa diduga dan diramalkan karena sifatnya yang diatur oleh kausalitas dan berulang, serta berlaku pada setiap tempat dan waktu. Keberadaan hukum ini merupakan suatu realitas yang tidak bisa dinafikan.

Kedua, ‘alam al-amr (alam ruhani).

Sebagaimana disebutkan dalam Al-Quran,
“Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah: “Ruh itu berada di bawah pengarahan Tuhanku, dan kamu tidak diberikan pengetahuan tentang ruh, kecuali sedikit”. (QS Al-Isra’ [17]:85)

Dalam terjemahan populer, ayat tersebut dimaknai sebagai: “Urusan ruh adalah urusan Tuhan, dan manusia tidak bisa ikut campur”. Padahal sambungan ayat Al-Quran tersebut berbunyi: “... dan kamu tidak diberikan pengetahuan tentang ruh, kecuali sedikit”. Artinya, betapa pun juga, manusia bisa memiliki pengetahuan tentang ruh. Sehingga para mufasir yang lebih teliti menafsir kata “al-amr” bukan sebagai “urusan”, melainkan “pengarahan”.

Kesimpulannya, di samping ada alam fisik, juga ada alam ruhani. Di dalam alam fisik terdapat sunnatullah, juga di alam ruhani terdapat sunnatullah. Apa yang terjadi di dunia ini sesungguhnya merupakan hasil dari interaksi bekerjanya sunnatullah baik di alam fisik maupun sunnatullah di alam ruhani.

Bila ada perubahan di alam ruhani, maka apa yang terjadi di alam fisik juga bisa berubah. Nah, bagaimana menggerakkan sunnatullah atau hukum-hukum yang ada di alam ruhani?

Pertama, adalah dengan doa. Fungsi doa selain bersifat spiritual, juga memiliki fungsi untuk menggerakkan hukum-hukum di alam ruhani. Jadi, hukum-hukum alam ruhani mampu mempengaruhi kejadian di alam fisik.

Artinya, ada ‘inayah (dukungan) dari Allah swt. Kadang ini disebut imdad ghaibiyah, yaitu dukungan yang bersifat ghaib atau ruhani, yang mampu mengubah akibat yang terbentuk melalui bekerjanya hukum alam.

Misalnya, ada sebuah penyakit dalam ilmu kedokteran yang secara keilmuan tidak dapat diobati dengan dasar hukum alam fisik. Namun, apabila kita berdoa dan mampu menggerakkan hukum-hukum yang berlaku di alam ruhani, kemudian hukum itu bekerja mempengaruhi hukum-hukum yang berlaku di alam fisik, maka apa yang tadinya mustahil menurut hukumhukum alam fisik, bisa saja berubah karena adanya pengaruh dari bekerjanya hukumhukum di alam ruhani itu.

Selain doa, ada hal-hal lain yang mampu mempengaruhi berlakunya hukum-hukum di alam fisik, yaitu sedekah. Sedekah bisa jadi ‘penolak bala’ dan mengubah takdir. Atau, amal saleh secara umum. Selain itu, amal silaturahim, yaitu berhubungan dengan makhluk Allah yang lain berdasarkan kasih sayang. Ini juga mampu memberikan pengaruh. Ini semua seharusnya mendorong kita untuk melakukan kebaikan kepada makhluk Allah yang lain.

Kesimpulannya, kita harus memaksimalkan ikhtiar, dan mengikuti arahan-arahan dari ahli kedokteran, ahli mikrobiologi, ahli virus, termasuk arahan pemerintah. Setelah kita lakukan ikhtiar secara maksimum, mari berdoa, bersedekah dan perbaiki silaturahim.

Dengan itu semua, mudah-mudahan selain ikhtiar yang kita lakukan untuk menyembuhkan orang yang sakit dari penyakitnya, insya Allah kita juga mendapatkan dukungan dari alam ruhani yang mempermudah untuk melakukan upaya-upaya penyembuhan dalam menyelamatkan seluruh manusia dari bencana yang sekarang menimpa kita ini.

Penulis : Riadi

Bagikan artikel ini

Berita terkait:

05 Jul 2020 05:30 WIB

Muhammadiyah Salurkan Bantuan Bagi Pengungsi Rohingya di Aceh

Khazanah

Wujudkan Ta'awun Universal

04 Jul 2020 09:14 WIB

Erdogan dan Museum Hagia Sophia, Riwayatmu Kini

Khazanah

"Kesalahan besar mengubah Hagia Sophia menjadi museum”

04 Jul 2020 06:47 WIB

Penyatuan Kalender Hijriyah, Komitmen Ormas Islam Susun Roadmap

Khazanah

Bersama Tim Falakiyah Kementerian Agama RI

Lihat semua

Topik Lainnya

Temukan topik menarik lainnya.

Tirto.ID
Loading...