Lokasi pohon mangrove di muara Sungai Kalilo yang rencananya akan dilakukan pemotongan (Foto: Muh Hujaini/ngopibareng.id)

DLH Banyuwangi Akan Cabut Surat Permohonan Pemotongan Mangrove

Jawa Timur 16 December 2019 19:25 WIB

Setelah mendapatkan protes dan masukan dari sejumlah aktivis lingkungan dan lembaga pemerhati lingkungan, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Banyuwangi akhirnya "menyerah". DLH segera mengirim surat untuk mencabut permohonan rekomendasi pemotongan 4.000 pohon mangrove.

Kepala DLH Banyuwangi, Husnul Chotimah menyampaikan hal ini setelah pertemuan dengan sejumlah lembaga pemerhati lingkungan dan  aktivis lingkungan di Aula Minak Jinggo, kompleks Pemkab Banyuwangi, Senin, 16 Desember 2019.

"Tentu saya akan menindaklanjuti pertemuan ini kepada Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi  Jawa Timur. Permohonan itu akan saya cabut untuk kita kaji bersama-sama sesuai kebutuhan realitanya," kata Husnul Chotimah usai pertemuan.

Dalam persoalan ini, menurut Husnul Chotimah, pihaknya juga ingin menjaga lingkungan, menjaga sosial ekonomi masyarakat sekitar. Dia juga ingin membangun lingkungan dengan estetika  yang bagus.

"Sekali lagi, sebetulnya surat itu memang keliru kalau asumsinya hanya sekedar masalah sampah. Sehingga membunuh pohon yang sangat berjasa memberikan oksigen," katanya.

Mengenai surat pencabutan Husnul Chotimah berjanji akan membuatnya sesegera mungkin. Dia meminta, surat yang sebelumnya agar dianggap aus. "Saya akan buat (surat pencabutan) besok," katanya.

Pada kesempatan yang sama, Ketua RW 02 Lingkungan Ujung, Kelurahan Kepatihan, Banyuwangi, Dwi Sasongko mengaku, pemotongan pohon mangrove itu memang aspirasi warga. Sebab aliran air tidak mengalir sehingga menyebabkan banyak nyamuk.

"Kalau sekarang masyarakat tidak merasakan manfaatnya, mungkin hanya oksigen saja. Kalau ingin jelas silakan tanya masyarakat saya.  Coba ditanya apakah benar ini keinginan masyarakat dan kenapa ini ingin ditebang," katanya.

Meski demikian, menurutnya warga tidak kekeuh harus ditebang. Menurutnya yang penting ada solusi agar air bisa mengalir dan tidak ada sampah.

"Masyarakat tidak saklek. Ini sifatnya permohonan tergantung pada yang memberi. Karena kalau malam nyamuknya banyak," katanya.

Penulis : Muh Hujaini

Editor : Witanto

Bagikan artikel ini

Berita terkait:

07 Aug 2020 12:20 WIB

Dokter Dianiaya, Polisi Banyuwangi Dalami Kasus

Kriminalitas

Polisi Masih Kembangkan Kasus Penganiayaan Dokter RSUD Blambangan

06 Aug 2020 21:11 WIB

Jatim Bermasker, Kampanyekan Penggunaan Masker Menjadi Pola Hidup

Jawa Timur

Penggunaan masker menjadi pola hidup baru.

06 Aug 2020 19:38 WIB

Pembunuh Mayat Dibakar di Banyuwangi Dituntut Hukuman Mati

Hukum

JPU anggap terdakwa tak menunjukkan rasa bersalah.

Lihat semua

Topik Lainnya

Temukan topik menarik lainnya.

Tirto.ID
Loading...