Dituding Berbohong Soal Angka Kemiskinan, Ini Cuitan SBY

01 Aug 2018 17:43 Politik

Ketua Umum DPP Partai Demokrat yang juga Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengklarifikasi pernyataannya terkait 100 juta orang miskin di Indonesia yang saat ini menuai pro kontra.

Klarifikasi ini disampaikan SBY melalui akun resmi Twitter-nya, @SBYudhoyono, pada Rabu 1 Agustus 2018.

Menurut SBY, pernyataan 100 juta orang miskin dengan melihat "The bottom 40".

"Banyak yg salah mengerti arti "the bottom 40%", Tak benar jumlah penduduk miskin 100 juta org" *SBY*," tulis SBY dalam twitnya.

“Ada pejabat negara yang mengatakan menurut BPS yang miskin hanya sekitar 26 juta. Tentu saya SANGAT MENGERTI angka itu *SBY*,” lanjut dia.

SBY menyebutkan, istilah "the bottom 40%" digunakan oleh World Bank Group, yaitu 40 persen penduduk "golongan bawah" di masing-masing negara.

Menurut dia, di negara berkembang yang income perkapitanya belum tinggi, mereka termasuk kaum sangat miskin, kaum miskin, dan "di atas miskin" (near poor).

"Ketika saya jadi Ketua HLP PBB susun bahan "SDGs", "the bottom 40%" jadi perhatian utama *SBY*," twit SBY.

SBY mengatakan, kelompok ini sangat rawan dan mudah terdampak jika ada kemerosotan ekonomi, terutama jika ada kenaikan harga, termasuk sembako.

Dengan melemahnya ekonomi, "the bottom 40%" mengalami persoalan.

"Ini saya ketahui dari hasil survey & dialog saya dgn ribuan rakyat di puluhan kab/kota *SBY*," kata dia.

Oleh karena itu, SBY berpendapat, hal ini harus menjadi pemerintahan saat ini maupun pemerintahan mendatang.

Mengenai tanggapan pemerintah bahwa angka orang miskin di kisaran 26 juta, SBY mengaku memercayainya dan memahami bahwa menurunkan angka kemiskinan bukan pekerjaan mudah.

Selama 10 tahun menjabat presiden, bersama Jusuf Kalla (2004-2009) dan Boediono (2009-2014), SBY menyebutkan, berhasil menurunkan kemiskinan sebesar 6 persen yang dicapai melalui program pro-rakyat yang masif.

"Pemerintah sekarang dlm waktu 3 th berhasil turunkan kemiskinan sebesar 1%. Mudah-mudahan hingga akhir 2019 bisa mencapai 3% *SBY*," kata SBY.

Melalui twitnya, SBY juga menyatakan mengapresiasi keputusan pemerintah untuk menunda beberapa proyek infrastruktur demi menyelamatkan perekonomian negara.

“Biasanya dalam musim pemilu, kalau berbeda posisi langsung DIHAJAR. Saya bukan tipe manusia seperti itu. Kalau benar harus saya dukung *SBY*” demikian SBY pada akhir twitnya.

Sebelumnya, seusai bertemu Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto, Senin 30 Juli 2018, SBY mengatakan, orientasi pemerintahan selanjutnya harus fokus pada penyelesaian masalah kemiskinan di Indonesia.

Menurut SBY, hal itu disepakati dalam pembicaraan antara dirinya dengan Prabowo. SBY menyebutkan, dalam pertemuan tersebut diidentifikasi apa saja yang dihadapi rakyat miskin yang menurut dia angkanya mencapai sekitar 100 juta orang.

Menanggapi pernyataan SBY, pemerintah membantah angka orang miskin yang disebut SBY. Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan, data Badan Pusat Statistik (BPS) per Maret 2018 menyebutkan angka orang miskin jauh di bawah 100 juta.

Kepala BPS Suharoyanto mengatakan, BPS berpatokan pada metode yang digunakan Bank Dunia untuk menentukan garis kemiskinan.

Jika dibandingkan September 2017, ada kenaikan 3,63 persen garis kemiskinan dari Rp 387.160 per kapita per bulan menjadi Rp 401.220 per kapita per bulan.

Namun, hitung-hitungannya bukan dengan membagi pendapatan Rp 401.220 per bulan menjadi Rp 13.374 per hari.

Suhariyanto mengatakan, ada faktor lain yang perlu diperhatikan, yakni jumlah anggota keluarga.

"Kalau dibagi 30 hari, saya rasa tidak relevan. Saya sarankan dikalikan anggota rumah tangga. Kan yang dibutuhkan per rumah tangga," kata Suhariyanto.

Menurut dia, keluarga miskin memiliki anak lebih banyak. BPS mendapat angka 4,5 rata-rata anggota keluarga. Jadi, pendapatan perkapita per bulan tersebut dikalikan dengan 4,5. Didapatkan hasil Rp 1,8 juta.

Dengan indikator itu, BPS mencatat adanya penurunan angka kemiskinan per Maret 2018. Angka kemiskinan mencapai 9,8 persen.

Angka ini merupakan yang pertama kalinya dalam sejarah Indonesia kemiskinan berada di level single digit. (man)

Penulis : Rohman Taufik


Bagikan artikel ini