Ditolak karena LGBT, Penonton Film Kucumbu Tubuh Indahku 8 Ribu

Film 27 April 2019 15:25 WIB

Ramai ditolak karena unsur LGBT, 'Kucumbu Tubuh Indahku' meraup 8.082 penonton yang menyaksikan di bioskop. Ini diketahui lewat situs filmindonesia.or.id yang diketahui kerap mencatat perolehan jumlah penonton untuk film-film Tanah Air.

Saat ini, film tentang kisah seorang penari Lengger tersebut perlahan turun dari bioskop seiring 'demam' Avengers: Endgame. Meski demikian, film Kucumbu Tubuh Indahku garapan sutradara Garin Nugroho ini ramai disebut tak layak tonton oleh sebuah petisi di change.org yang digagas Rakhmi Mashita. Kini, petisi tersebut telah ditandatangani oleh lebih dari delapan ribu akun.

Petisi itu menyebut film ini dikhawatirkan berdampak buruk kepada penonton terutama generasi muda yang menyaksikan.

Garin Nugroho dikenal sebagai sutradara yang kerap menghadirkan tema-tema variatif tentang Indonesia. Kali ini, ia kembali menghadirkan film yang mengangkat seni dan tradisi.

Garin membawa kisah tentang seorang penari Lengger bernama Juno yang bisa tampil luwes meski ia seorang pria. Kisah Juno diceritakan dalam 3 masa, yaitu Juno Kecil, Juno Remaja, dan Juno Dewasa.

Juno Kecil terpaksa harus hidup sendiri sejak ditinggal pergi oleh ayahnya. Di tengah kesendiriannya, Juno bergabung dengan sanggar tari Lengger. Sejak itu, Juno harus hidup berpindah- pindah tempat.

Seiring perjalanannya menjadi dewasa, Juno mendapat perhatian dan kasih sayang dari beberapa orang terdekat di sekelilingnya. Ada guru tari, bibi penjual ayam, paman penjahit, seorang petinju, dan seorang Warok. Semua pengalaman yang dilaluinya membuat Juno memiliki sebuah perjalanan hidup yang membawanya kepada pemahaman akan keindahan hidup.

Seorang penari Lengger bernama Rianto digaet Garin Nugroho membintangi film ini. Rianto, yang kisahnya menginsiprasi film ini adalah penari dan koreografer ternama yang menguasai berbagai jenis tarian yang telah membawa tubuh maskulin dan feminimnya berkeliling dunia.

Karyanya yang terkenal adalah Medium dan Softmachine. Karya Medium telah dipentaskan 25 kali dan Softmachine telah dipentaskan sebanyak 56 kali di berbagai negara, di Asia, Eropa, America, Africa. (yas)

Penulis : Yasmin Fitrida

Bagikan artikel ini

Berita terkait:

26 Jun 2020 02:35 WIB

Dihujani Petisi, Unilever Ganti Nama Produk Fair & Lovely

ngopiCANTIK

Unilever ganti nama produk Fair & Lovely.

03 Jun 2020 01:31 WIB

Nyinyir, Netizen Minta Gelar Miss Universe Malaysia Dicopot

Internasional

Gelar putri kecantikan Malaysia diminta untuk dicopot.

30 May 2020 13:58 WIB

Kompetisi Imagi Digital Sosok Bung Karno

Nasional

Museum Kepresidenan Balai Kirti menyelenggarakan kompetisi imagi digital.

Lihat semua

Topik Lainnya

Temukan topik menarik lainnya.

Tirto.ID
Loading...