Dikonseling, Pemakan Sabun Disarankan Hobi Makan Ikan

16 Feb 2019 11:38 Jawa Timur

Setelah viral melalui media sosial dan diberitakan sejumlah media, kasus perempuan yang “hobi” makan sabun mandi juga membetot perhatian Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Probolinggo. Bahkan Dinkes akan melakukan pendampingan (konseling) terhadap Mubarokatul Khosyiah, 21 tahun, warga Dusun Sumberan, Desa Dungun, Kecamatan Tongas, Kabupaten Probolinggo.

“Ya, memang perempuan yang makan sabun itu lagi viral. Nanti kami akan melakukan konseling biar kebiasan makan sabun mandi itu bisa dihilangkan,” ujar Kepala Dinkes Kabupaten Probolinggo, dr Anang Budi Yoelijanto, Sabtu, 16 Februari 2019.

Dinkes, kata Anang, akan menugaskan pihak Puskesmas Tongas untuk mendampingi terapi stop makan sabun mandi terhadap Khosik, panggilan akrab Mubarokatul Khosyiah. “Sabun kan bukan makanan jadi kebiasaan seperti itu sebaiknya dihentikan. Apalagi sabun mandi kan ada bahan kimianya, yang berpotensi membahayakan kesehatan,” ujar mantan Direktur RSUD Waluyo Jati, Kraksaan itu.

Khosik sedang menyapu rumahnya di Desa Dungun Kecamatan Tongas Kabupaten Probolinggo Foto Ikhsanngopibarengid
Khosik sedang menyapu rumahnya di Desa Dungun, Kecamatan Tongas, Kabupaten Probolinggo. (Foto: Ikhsan/ngopibareng.id)

Saran agar kebiasan buruk Khosik diakhiri juga diungkapkan dr Aminuddin SpOG MKes. Dokter spesialis kandungan dan kebidanan itu mengatakan, biasanya orang hamil memang suka ngidam.

“Ngidam pada perempuan hamil dipicu faktor psikologis. Bisa dikatakan ingin selalu mencari perhatian terutama dari suaminya,” ujar dr Amin, panggilan akrab dr Aminuddin SpOG MKes. Biasanya ngidam hilang dengan sendirinya saat usia kehamilan mencapai empat bulan.

Disinggung kasus Khosik yang ngidamnya “keterusan” mulai hamil hingga anaknya berusia sekitar setahun, dokter yang juga pemilik Rumah Sakit Amanah di Kota Probolinggo itu mengatakan, yang bersangkutan diduga mengidap pica.

“Itu termasuk kelainan yang disebut pica yakni, orang yang suka makan benda-benda seperti, sabun, tanah, kapur, hingga logam,” ujar dr Amin.

Dikatakan, pica merupakan bahasa Latin untuk burung magpie, burung pemakan segala yang memiliki kebiasaan makan tak lazim. Tak heran jika kemudian pica digunakan sebagai istilah untuk kelainan makan benda aneh yang biasa ditemui pada anak-anak.

Terkait kebiasaan Khosik yang termasuk pica, dr Amin menyarankan, segera dihentikan. “Bisa kok segera dihentikan asal ada niat yang kuat,” ujarnya.

Soal sejauh ini tidak ada efek negatif terhadap Khosik dan anaknya, dr Amin mengatakan, sesuatu yang bukan makanan kemudian dikonsumsi jelas berdampak. Bisa saja dampaknya muncul setelah sekian lama.

“Sebaiknya memang dihentikan, lha wong makan sabun mandi. Kan sabun mengandung bahan kimia? Mengapa tidak diubah, hobi makan ikan?” ujar dr Amin.

Sebenarnya jika diubah dengan gemar makan ikan maka akan klop dengan keseharian Khosik dan suaminya, Khoirul Anwar, 29 tahun. Keduanya bergelut dengan “perikanan” setiap hari.

Bokir, panggilan akrab Khoril Anwar adalah nelayan yang biasa memancing ikan di tengah laut dengan perahu tradisionalnya. Sementara Khosik yang alumnus Pesantren Al Yasini, Kabupaten Pasuruan itu bekerja di gudang pengolahan ikan segar tujuan ekspor.

Bokir sendiri ketika pertama kali mengetahui istrinya “nglamuti” sabun juga kaget. “Ya, kalau ada saran dari dokter agar kebiasan makan sabun dihentikan, saya akan ikut mencegah agar istri tak makan sabun lagi,” ujarnya.

Dengan berkelakar, Bokir sempat mengatakan, mungkin istrinya bosan makan ikan laut segar setiap hari. “Bosan makan ikan akhirnya istri mencoba mencicipi sabun dan ketagihan,” ujarnya sambil ngakak.

Beruntung, Assyifa Khoirun Nisa’, anak pasangan Bokir-Khosik tidak ikut-ikutan ibunya makan sabun. Meski ibunya saat hamil ngidam makan sabun, bocah kelahiran 13 Januari 2018 itu tidak mau makan sabun. Bocah perempuan berusia setahun itu lebih suka makan nasi dengan lauk ikan goreng hasil tangkapan ayahnya. (isa)

Reporter/Penulis : Ikhsan Mahmudi
Editor : Moch. Amir


Bagikan artikel ini