Digital Self Harm, Bisa Jadi Sinyal Seseorang Untuk Minta Tolong

09 Sep 2019 18:30 Kesehatan

Psikiater RSUD Dr Soetomo, Dr. Yunias Setiawati,dr,Sp.KJ (K) mengatakan, perilaku self harm pada remaja di Indonesia seperti fenomena gunung es. Hanya sebagian kecil yang ketahui, tapi sebenarnya banyak yang belum diketahui.

Karena itu perlu gerakan masif kampanye tentang kesehatan mental mulai usia anak dini. "Mereka harus mengetahui informasi awal tentang kesehatan mental. Ini bisa dimulai diperkenalkan mulai sekolah dasar. Kenalkan informasi dasar dulu, seperti bagaimana mereka harus merasa bahagia dan lainnya," kata Yunias kepada ngopibareng.id.

Perilaku self harm, bisa dilakukan bermacam-macam. Ada menyilet dirinya sendiri, mencakar, menjambak sampai membenturkan kepalanya ke tembok, hanya untuk megalihkan rasa sakit hatinya.

Tidak hanya itu, bahkan beberapa remaja lainnya juga terkadang membagikan konten self harm ke media sosial.

"Ini namanya digital self harm. Kegiatan memposting, membagikan konten penyakiti diri sendiri. Seperti foto tangan penuh darah karena disilet dan banyak lagi," ujar Yunias.

Yunias menambahkan, istilah self harm mulai banyak dilakukan remaja sejak 2013 lalu.  Setelah diketahui bahwa Hanna Smith, 14 tahun, remaja asal Leicestershire, Inggris, mengirim pesan pada temannya yang berisi konten menyakiti diri sendiri di media sosial. 

"Awalnya dari sini. Kemudian diikuti banyak temannya. Setidaknya ada 13 sampai 18 persen remaja di usia 12 sampai 17 tahun melakukan perilaku ini karena ingin mencari perhatian," kata Yunias.

Perilaku seperti ini tidak bisa didiamkan. Mungkin remaja tersebut butuh ditolong, karena bisa jadi orang di sekelilingnya tidak peduli. Sebaiknya, bila menemukan perilaku digital self harm, cari tahu apa masalahnya, mungkin dia butuh pertolongan. 

"Bisa jadi remaja tersebut tertutup atau introvert. Sehingga digital self harm ini sebagai bentuk sinyal yang dikirimkan melalui media sosial supaya ingin ditolong," katanya. 

Yunias berharap, sebaiknya tidak perlu melakukan digital self harm, karena perilaku ini bisa saja ditiru oleh remaja lain. Selain itu digital self harm itu bisa dilacak rekam jejak di media sosial. 

"Saat ini orang gampang melihat rekam jejaknya. Sehingga, kalau tidak ingin mau, tidak usah melakukan perilaku tersebut," katanya. 

 

Penulis : Pita Sari
Editor : Witanto


Bagikan artikel ini