Dialog di Yerusalem, Prof. Nadirsyah: Kiai Yahya Telah Menyampaikan Pesan Langit

14 Jun 2018 15:31 Khazanah

Guru Besar Hukum Islam Monash Law School, Prof Nadirsyah Hosen mengajak publik memahami pesan anggota Dewan Pertimbangan Presiden yang juga Katib Am Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH Yahya Staquf (Gus Yahya) ketika menghadiri acara yang diselenggarakan American Jewish Committee Global Forum di Yerusalem pada 10 -13 Juni 2018.

"Tiba-tiba dunia mafhum peranan apa yang bisa dimainkan oleh kyai, NU, dan Indonesia. Konsisten membawa pesan yang melampaui keadilan yang diperebutkan dan perdamaian yg dipertarungkan, yaitu pesan Rahmah. Rahmah tidak hanya menuntut, tapi memberi keadilan. Pesan untuk pihak yang bertikai," tulis Nadirsyah Hosen, dikutip ngopibareng.id, Kamis (14/6/2018) dari Twitter.

Nadirsyah Hosen mengajak merenungkan betapa sering orang menuntut atas nama keadilan, tapi tanpa Rahmah. Hanya akan menuntut, dan lupa untuk juga memberi keadilan. Ini pesan yang menohok, tulis putra ulama legendaris Prof KH Ibrahim Hosen (almaghfurlah).

"Anda menuntut hak atas tanah, tapi sudahkah anda juga memberi keadilan pada pihak lain. Pahamkah anda apa yang dituju Kiai Yahya?" tulis dia.

 

Disampaikan pula, pesan Rahmah disampaikan dengan cara yang Rahmah. Tak ada caci-maki; tak ada penghakiman pada pihak yang bertikai, tapi semua yang paham bisa merasakan pembelaan yang jelas pada perdamaian dan rekonsiliasi.

"Yang berharap akan keluar cacian pada pihak tertentu, pasti kecewa. Inilah Rahmah!" tulis Nadirsyah Hosen.

Nadiryah Hosen menambahkan I stand with Palestine dimaknai lewat pesan Rahmah. Bukan dipahami secara literal “saya berdiri” karena pesan Rahmah disampaikan dengan kalem dan duduk santai. Mendukung Palestina, kata Nadirsyah Hosen, bukan karena membenci Israel, tapi karena perwujudan Rahmah.

"Itupun disampaikan tanpa nada heroik. Kalem!" tulis dia.

"Dunia telah melihat seorang kyai dari Rembang, datang atas nama pribadi ke Yerussalem, bicara dengan datar dan kalem, mencari titik temu (kalimatun sawa) lewat konsep Rahmah yang merangkul, bukan memukul. Aku menyebutnya suara adem dan kalem dari Rembang menyampaikan pesan langit," Nadirsyah Hosen menambahkan.

Nadirsyah Hosen menjelaskan peradaban dunia saat ini terancam oleh konflik global. Tiga jantung persoalan harus ditembus untuk menyampaikan pesan Rahmah. Sebelumnya, Kiai Yahya sudah ke Gedung Putih ketemu Wapres Amerika, lantas ke Yerusalem.

"Tinggal satu lagi: ketemu putra mahkota MBS di Saudi Arabia," tulis dia.

"Anda boleh tidak setuju dengan apa yang dilakukan Kiai Yahya. Tapi jangan meremehkan pesan Rahmah yang dibawanya untuk perdamaian dunia. Ini adalah pesan langit. Anda mungkin tidak menyadarinya, tapi Kanjeng Nabi ada di sana saat pesan Rahmah itu diucapkan Kiai Yahya," Nadirsyah Hosen menambahkan.

“Tidaklah Kami mengutusmu wahai Muhammad kecuali sebagai rahmat untuk semesta alam.”

Dikatakan Nadirsyah Hosen, setiap umat Muhammad yang menggaungkan kembali pesan Rahmah yang telah diajarkan Nabi, sejatinya akan didampingi dan dibela oleh Nabi Muhammad.

"Ini bukan lagi masalah Kiai Yahya, NU, dan Indonesia. Pesan langit sudah disampaikan Kiai Yahya. Caci-maki sudah beliau terima. Banyak pihak berlepas diri. Banyak pihak meninggalkannya. Namun mereka yang paham bahwa ini pesan langit, akan menyebut asma-Nya dan bershalawat pada Kanjeng Nabi. Mari kita terus sampaikan pesan Rahmah ini," tulis Nadirsyah Hosen.

"Sisi lain. Dari sudut pandang yang berbeda. Begitulah peranan Pak Kiai Yahya Cholil Staquf. Datang sebagai pribadi, tapi mendadak sorot mata, baik yang memuji maupun mencela, tertuju padanya, pada NU ormas terbesar di dunia, pada Indonesia negeri terbesar di dunia. Bergema kemana-mana!" Nadirsyah Hosen menambahkan. (adi)