Dufi Bekerja Sebagai Pencari iklan Bukan Wartawan di TVMu

19 Nov 2018 13:17 Kriminalitas

Direktur Utama TV Muhammadiyah, Gatot Triyanto, mengatakan almahum Abdullah Fitri Setiawan alias Dufi, adalah bagian dari TVMu, yang berada di Kantor Pusat Dakwah Muhammadiyah Jl Menteng Raya Jakarta Pusat.

Tapi status almarhum bukan sebagai wartawan, tapi di bagian pencari iklan dengan status tenaga lepas atau freelance.

"Selama ini  hubungan kami baik baik saja, tidak pernah ada masalah," kata Gatot kepada ngopibareng.id Senin 19 Nopember 2018.

Gatot sebagai pimpinan di TVMu kaget mendengar kematian Dufi yang tragis itu. "Mudah mudahan pelakunya segera terbongkar," kata Gatot yang lagi terburu-buru akan yang akan mengikuti rapat.

Sementara itu polisi sampai saat ini masih bekerja untuk menyelidi penyebab kematian Abdullah Fithri Setiawan berusia 43, yang diduga menjadi korban pembunuhan.

Keluarga Abdullah Fithri Setiawan alias Dufi meminta polisi mengusut tuntas kasus tewasnya Dufi yang ditemukan dalam drum di Klapanunggal, Kabupaten Bogor, pada hari Minggu pagi 18 Nopember 2018.

"Kami percayakan kepada Polsek Klapanunggal Resor Bogor untuk segera menuntaskan kasus ini. karena bagaimana pun kami pengen tahu motifnya kenapa," kata  adik Dufi, Muhammad Ali Ramdoni, kepada wartawan di TPU Budi Darma, Jakarta Utara, Senin 19 November 2018.

Doni panggilan Ramdoni mengatakan, Dufi semasa hidup berkepribadian  baik dan tidak pernah menyimpan dendam dengan siapa pun. Karena itu, keluarga ingin mengetahui motif diduga pembunuhan ini.

Ia juga mengatakan, semasa hidupnya almarhum itu tidak pernah mencari musuh. Kalau berdebat dalam pekerjaan biasa adalah hal biasa. "Tapi kalau nyari musuh sampai akhirnya kaya gini sepertinya (mustahil) apakah ada persaingan bisnis atau apa, karena kan beliau pengusaha pemilik PT Cahaya Gemilang," kata Doni.

Di mata sang adik, Dufi memang memiliki sifat kreatif. Ilmu yang didapat saat bekerja di beberapa media dijadikannya sebagai peluang untuk membuka usaha. 

"Iya itu perusahan advertising, jadi beliau orangnya kreatif karena beliau kreatif. Dari dulu memang begitu, orangnya kreatif semenjak mulai di Indopos, Inews jadi bukan sekadar kerja tapi dia juga cari peluang membuka usaha," cerita  Doni. 

Sebelum kejadian, Dufi sedang dalam perjalanan membawa mobil menuju stasiun. Doni mengatakan sampai saat ini polisi belum menemukan mobil tersebut.

"Kan emang kakak saya lagi di jalan menuju stasiun naik mobil. Pihak kepolisian belum ada titik terang menemukan mobilnya, tapi pelat nomor sudah dicatat sampai kepolisian, foto copy STNK sudah diterima karena tidak ada satu identitas yang melekat di tubuh kakak kami, hanya sepatu itu pun sebelah," katanya. 

Mayat Dufi ditemukan pada Minggu 18 November 2018 sekitar pukul 06.00 WIB oleh pemulung bernama Santi. Santi saat itu sedang mengais sampah di sekitar Klapanunggal, Bogor. 

"Awalnya dikira sampah kan, saya buka itu lakban yang nutupin tong itu, memang saya yang buka lakbannya. Pas saya buka ada kaki orang, langsung saya lari kasih tahu orang-orang sini," kata Santi.

Saat itu SA sedang mencari barang bekas, yang bisa ia pulung. Ia kemudian mendekati drum plastik berwarna biru yang tertutup rapat dan terikat oleh lakban hitam. Ia mengira drum plastik warna biru itu berisikan sampah. Namun saat setelah dibuka, Ibu pemulung tersebut kaget saat melihat bahwa di dalam drum plastik tersebut adalah sesosok mayat. Sontak ia berteriak meminta bantuan warga sekitar.

"Saya kira tong plastik berwarna biru itu isinya sampah. Tapi setelah dibuka tutup dan lakbannya ternyata mayat," kata saksi kepada petugas di Mapolsek Klapanunggal.

Karier Dufi di media dimulai Dufi dengan merintis mendirikan Indo Pos. Dufi semula bekerja di koran Rakyat Merdeka, kemudian bergabung menjadi manajer pemasaran iklan. Sekitar tahun 2008, Dufi pindah kerja ke Berita Satu. Dufi kemudian bekerja TVMU. Stasiun TV milik Muhammadiyah. Sebagai tenaga marketing iklan. (asm)

Penulis : Asmanu Sudharso
Editor : Moch. Amir


Bagikan artikel ini