Di Tengah Prajurit Brawijaya, Begini Pesan Habib Luthfi

04 Dec 2018 12:51 Jawa Timur

Nabi Muhammad pernah berpesan kepada seluruh umatnya untuk saling menghormati sesama. Kasih sayang Rasulullah tidak hanya di dunia. Melainkan juga pada saat menjelang kematiannya.

“Rasulullah Muhammad saw pada saat sakaratul maut, juga pernah memohon kepada kepada Allah untuk memaafkan umatnya yang berbuat kesalahan,” kata Maulana Al-Habib Muhammad Luthfi bin Ali Bin Yahya.

Rais Am Jam’iyah Ahith Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyah (JATMAN) mengungkapkan hal itu, bersama tokoh lintas agama dan tokoh masyarakat di Surabaya dan Jatim. Dalam rangka memperingati Maulid Nabi dan Hari Pahlawan 2018, di Lapangan Brawijaya di Kompleks Kodam V Brawijaya, Senin 3 Desember 2018 malam.

Hadir pada kesempatan itu, Gubernur Jatim, Soekarwo, Pangdam V Brawijaya, Mayjen TNI Arif Rahman, ada juga Kapolda Jatim, Irjen Pol Luki Hermawan, serta Kapolrestabes Surabaya, Kombespol Rudi Setiawan.

“Hal itu harus terus dipelihara bahkan hingga anak tumbuh menjadi dewasa. Rasa cinta itu merupakan modal dalam pembangunan negara. Selain menanamkan rasa cinta tanah air, juga perlu diajarkan kepada anak sejak dini yakni dengan meneladani akhlak yang mulia Nabi Besar Muhammad saw”, kata Habib Luthfi bin Yahya.
BELA NEGARA Kedekatan Habib Luthfi dan kalangan militer TNI dan Polri Foto dok ngopibarengid
BELA NEGARA: Kedekatan Habib Luthfi dan kalangan militer TNI dan Polri. (Foto: dok ngopibareng.id)

Dalam tausyiahnya Habib Luthfi menekakankan agar jamaah menjaga persatuan dan kesatuan negara. "Saya tidak heran kalau negara punya nuklir, saya tidak heran kalau negara punya mesin tempur yang canggih tapi pagar yang paling ampuh adalah persatuan dan kesatuan negara yang kuat," kata Habib Luthfi. “TNI-Polri, adalah benteng yang paling solid di negeri ini. Kita harus bersatu, jangan bercerai-berai. Kita satu NKRI”.

Menurut Habib Luthfi, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) akan kuat ketika ditunjang fanatisme para pemuda dan masyarakat kepada bangsa dan negaranya.

"Tapi kalau fanatisme itu melentur, bisa menggoyahkan persatuan dan kesatuan," ucap ulama asal Pekalongan, Jateng ini.

Habib Luthfi juga mewanti-wanti kepada para jamaah agar jangan sampai kalah dan termakan berita serta informasi hoax yang bisa memecah belah umat dan bangsa.

"Masa kena hoax saja kita sudah kalah," ucapnya.

Habib Luthfi juga mengatakan pada tahun politik ini beda pilihan boleh dan hal tersebut sudah biasa.

"Beda baju beda partai beda ormas masa bodoh, tapi kita hanya satu Indonesia," teriak Habib Luthfi.

Dalam kesempatan tersebut, Habib Luthfi juga meyakinkan para jemaah dengan berkumpulnya para santri, tokoh lintas agama, pemerintah, serta TNI dan Polri adalah bukti bahwa Indonesia tidak mudah digoyahkan.

Pada bagian lain, Habib Luthfi mengingatkan, dengan mendidik anak sejak kecil untuk mencintai tanah air akan memiliki rasa kecintaan yang tinggi terhadap tanah tumpah darahnya, tanah air tempatnya tumbuh dan berkembang.

“Hal itu harus terus dipelihara bahkan hingga anak tumbuh menjadi dewasa. Rasa cinta itu merupakan modal dalam pembangunan negara. Selain menanamkan rasa cinta tanah air, juga perlu diajarkan kepada anak sejak dini yakni dengan meneladani akhlak yang mulia Nabi Besar Muhammad saw”, tegasnya.

Habib Luthfi bin Yahya menegaskan, salah satu pesan yang kita ingat dari peringatan Maulid Nabi adalah ajaran agar kita taat pada pemerintah. Bangsa lain fokus membangun kita masih memperdebatkan khilafiah, khilafah. “Pancasila sudah final. Boleh berdebat penafsirannya tidak boleh memperdebatkan butir-butirnya”.

“Pada Muktamar NU di Situbondo sudah menegaskan Pancasila sebagai asas Negara dan Jam’iyah Toriqah menegaskan NKRI harga mati. Pendakwah dahulu begitu toleran menghormati perbedaan. Untuk itu Sunan Kudus enggan menyembelih sapi, karena menghormati tradisi non muslim. Bahkan bangunan masjid kudus mengakomodasi arsitektur non muslim yang berkembang pada waktu itu. Tidak anti dengan kebudayaan lokal. Simpatik”.

“Muslim itu harus seperti air laut, meskipun ratusan sungai mengalikan air tawar, ia tetap asin dan tak pernah memaksa ikan di dalamnya menjadi asin. Ketika kita akan melakukan perbuatan tercela, ingat merah putih, malu di dalamnya ada tumpah darah para pahlawan dan jadi diri bangsa yang memiliki adat dan etika ketimuran,” tuturnya.

“Walau hanya sebutir pasir, selama ada di atas tanah air ini akan kita jaga mati-matian. Kata siapa cinta tanah air atau nasionalisme tidak ada dalilnya?

Nabi Muhammad SAW mengatakan, “Aku cinta Arab karena aku adalah bangsa Arab”. Ini contoh konkret kecintaan suatu bangsa pada tanah airnya. Cinta tanah air itu sebagai wujud syukur kepada Allah atas anugrah bumi pertiwi ini. Ulama adalah benteng idiologi, TNI-POLRI adalah benteng NKRI. Mari kita bersatu. Jangan goyahkan persatuan karena oknum kiai, TNI atau POLRI.

JAGA PERSATUAN Para prajurit TNI ketika memperingati Maulid Nabi dan Hari Pahlawan 2018 di Lapangan Brawijaya di Kompleks Kodam V Brawijaya Senin 3 Desember 2018 malam Foto pendam vbrawijaya for ngopibarengid
JAGA PERSATUAN: Para prajurit TNI ketika memperingati Maulid Nabi dan Hari Pahlawan 2018, di Lapangan Brawijaya di Kompleks Kodam V Brawijaya, Senin 3 Desember 2018 malam. (Foto: pendam v/brawijaya for ngopibareng.id)

Pesan Pandam Brawijaya

Pada kesempatan itu, Pangdam V Brawijaya, Mayjen TNI Arif Rahman mengatakan, dalam pengajian tersebut, Kodam V Brawijaya bersama Pemprov Jatim dan Polda Jatim mengajak masyarakat untuk lebih mempererat persatuan dan kesatuan antarumat beragama.

"Ini tentang kebersamaan antar umat beragama, bukan hanya umat Islam tapi juga tokoh-tokoh umat beragama lain kita ajak berkumpul di sini," kata Mayjen TNI Arif Rahman.

Jika persatuan dan kesatuan tersebut terus terjalin, lanjut Arif, kondusivitas di Indonesia khususnya di Jatim juga akan terus terjaga.

"Kebetulan ini yang hadir Habib Luthfi, karena beliau ini sebelum disini juga menghadiri acara yang serupa juga di Semarang di Lampung serta daerah lain, dan malam ini di Kodam V Brawijaya," tuturnya. (adi)