Di Tengah Perundingan Damai, Taliban Serang Afghanistan

08 Sep 2019 14:48 Internasional

Afghanistan makin menghangat dalam pekan ini. Di tengah perundangan yang sedang berlangsung, Taliban justru menyerang Kota Farah di Afghanistan bagian barat pada Jumat 6 Septemer 2019. Serangan itu dilakukan pada malam hari.

Belum ada laporan korban di antara pasukan Afghanistan maupun Taliban.

Pada hari Kamis, aliansi militer yang dipimpin NATO mengatakan seorang tentara Amerika dan seorang tentara Rumania tewas ketika bertugas di Kabul, Afghanistan. Hal ini meningkatkan jumlah kematian militer AS menjadi 16 di tahun ini.

Pentagon pada hari Jumat mengidentifikasi tentara AS itu sebagai Sersan Kelas 1 Elis Barreto Ortiz dari Puerto Rico. Dikatakan ia tewas ketika alat peledak meledak di dekat kendaraannya.

Taliban mengklaim bertanggung jawab atas pengeboman mobil bunuh diri pada hari Kamis di Kabul yang dikatakan Taliban menewaskan personil militer asing dan lokal.

Juru bicara Kementerian Dalam Negeri Afghanistan, Nasrat Rahimi, dalam pernyataannya membenarkan ledakan Kamis telah menewaskan sekurangnya 10 orang dan melukai 42 lainnya. Ia menegaskan semua korban adalah warga sipil.

Taliban melancarkan serangan bom bunuh diri dengan mobil hari Kamis 5 September, di ibukota Afghanistan, menewaskan sedikitnya 10 orang.

Menurut Nasrat Rahimi, serangan bom ini terjadi di kawasan diplomatik yang dijaga ketat, tempat di mana Kedutaan Besar Amerika dan kantor-kantor penting pemerintah Afghanistan berada.

Seorang juru bicara Taliban menyatakan bertanggung jawab, seraya menyatakan pengeboman itu menarget orang-orang asing.

Kelompok militan ini juga berada di balik serangan lainnya pekan ini di kawasan lain yang menewaskan sedikitnya 16 orang dan mencederai lebih dari 100 orang.

Seperti dilansir VOA, Utusan Amerika Zalmay Khalilzad mengunjungi Kabul pekan ini untuk bertemu para pejabat Afghanistan guna membahas apa yang ia sebut sebagai “perjanjian prinsip” yang dicapai Amerika Serikat dengan Taliban mengenai penarikan pasukan Amerika dari lima pangkalan militer.

Rencana ini melibatkan 5 ribu dari 14 ribu tentara Amerika yang sekarang ini ditempatkan di Afghanistan.

Sebagai imbalan, Taliban akan memutuskan hubungan dengan al-Qaida dan menjamin Afghanistan tidak akan digunakan untuk merencanakan serangan teroris terhadap Amerika atau sekutu-sekutunya.

Para pejabat Amerika menyatakan Taliban juga akan diwajibkan untuk membuka pembicaraan dengan delegasi yang mewakili seluruh kalangan masyarakat Afghanistan, termasuk para pejabat pemerintah.

Para pejabat Afghanistan telah mengungkapkan kekhawatiran mengenai perjanjian itu, menyatakan antara lain proses ini berlangsung terlalu cepat.

Penulis : Riadi


Bagikan artikel ini