PENDAMPING: Gus Yahya dalam diplomasi ke Israel, didampingi dua santri. (foto: yahya c staquf for ngopibareng.id)

Diplomasi untuk Perdamaian Palestina-Israel (2)Di antara Pemimpin Saleh, Gus Yahya Yakin Temukan Nilai Transenden

23 Jun 2018 11:38

Lihat versi non-AMP di Ngopibareng.id

"Untuk memotong kompas pertentangan dalam agama, penulis yakin yang diperlukan adalah menemukan nilai transendental yang menjadi aspirasi bersama dari semua agama."

KH Yahya C Staquf ke Israel, mengguncang kesadaran dunia Islam. Diplomasi untuk Perdamaian Palestina-Israel diperlukan. Namun, banyak yang kurang setuju dengan langkah Direktur Urusan Keagamaan pada Bayt Ar-Rahmah, Winston Salem, North Carolina, AS, ini.

Guna memperjelas perjalanan diplomasi Gus Yahya Staquf, panggilan akrab Pengasuh Pesantren Raudlatut Thalibin Rembang ini, berikut ngopibareng.id, menghadirkan testimoni Gus Yahya secara langsung, usai kunjungan diplomasi tersebut.

Berikut penuturan Gus Yahya, bagian kedua testimoninya:

Karena ingin mengambil untung sebesar-besarnya, penulis memberi syarat agar diperbolehkan membawa tiga orang teman dan tinggal selama sepekan dengan seluruh biaya perjalanan dan logistik ditanggung panitia. AJC menyanggupi.

 

Ke dalam daftar rombongan, penulis memasukkan Kiai Ahmad Nadlif dari Kajen, Pati, dan Kiai Aunullah Al Habib dari Boyolali. Mereka kiai-kiai muda berbakat. Pasti besar manfaatnya bagi masa depan jika mereka bisa belajar sesuatu dari perjalanan ini.

Seorang lagi adalah C Holland Taylor, teman dekat almarhum Gus Dur--dan juga Gus Mus--warga AS yang hampir 20 tahun malang-melintang di dunia diplomasi publik internasional, pernah dipuji Wall Street Journal sebagai pembawa panji diplomasi publik masa depan, dan telah diangkat menjadi duta khusus Gerakan Pemuda Ansor untuk PBB, Amerika, dan Eropa.

Masalah selanjutnya, pesan apa yang harus penulis sampaikan? Enam belas tahun lalu, Gus Dur melontarkan gagasan untuk menambahkan elemen agama dalam upaya perdamaian Israel-Palestina.

Selama ini, upaya hanya melibatkan aspek politik dan militer, semua gagal. Tapi Gus Dur pun mengelaborasi, agama membawa kesulitan-kesulitannya sendiri. Antara lain, karena di setiap agama ada mazhab dan kelompok berbeda yang saling bersaing. Jadi harus bagaimana?

Untuk memotong kompas pertentangan dalam agama, penulis yakin yang diperlukan adalah menemukan nilai transendental yang menjadi aspirasi bersama dari semua agama. Maka itu, penulis berangkat ke Yerusalem dengan menyiapkan dua artikulasi.

Pertama, tantangan untuk pemimpin dan orang shaleh dari semua agama. Di tengah suasana peradaban yang terancam runtuh oleh berbagai konflik ini, apakah agama punya sesuatu untuk ditawarkan sebagai inspirasi menuju solusi?

Kedua, seruan kepada dunia, “Mari kita memilih rahmah!”. Ini nilai inti dalam Islam dan penulis yakin akan disepakati semua agama.

Dengan rahmah, pihak-pihak yang bermusuhan akan lebih siap bekerja sama untuk mewujudkan perdamaian yang nyata. (bersambung)