Seorang bocah sedang menyaksikan ubur-ubur di kolam dermaga Pelabuhan Tanjung Tembaga, Kota Probolinggo. (Foto: Ikhsan Mahmudi/Ngopibareng.id)

Dermaga Probolinggo Mirip “Kolam Dawet” Ubur-ubur

Jawa Timur 21 April 2020 01:50 WIB

Sejak sekitar sepekan terakhir, ratusan ribu ubur-ubur (jellyfish) menyerbu kawasan perairan utara Probolinggo. Kolam dermaga di Pelabuhan Tanjung Tembaga dan Pelabuhan Perikanan Mayangan (PPM), Kota Probolinggo misalnya dipenuhi ubur-ubur.

Tidak hanya di kawasan pelabuhan, ubur-ubur juga banyak dijumpai di perairan Selat Madura. Termasuk di perairan Pulau Giliketapang, Kecamatan Sumberasih, Kabupaten Probolinggo.

Para nelayan dan warga yang biasa mandi di laut (berendam) mengaku, terganggu dengan kehadiran ratusan ribu ubur-ubur itu. Sebagian remaja malah bersenang-senang dengan berselfie ria dengan latar belakang dermaga yang berubah menjadi “kolam dawet” ubur-ubur itu.

“Kalau air sedang pasang, ubur-ubur semakin banyak terlihat memenuhi kolam dermaga Tanjung Tembaga dan Pelabuhan Perikanan,” kata Abdul Ghoni, warga Kota Probolinggo, Senin, 20 April 2020.

Gogon, panggilan akrab Abdul Ghoni yang biasa berendam di kawasan Pelabuhan Perikanan Mayangan mengaku, terganggu denga ribuan ubur-ubur itu. “Soalnya ubur-ubur berlendir dan tentakelnya bisa gatal kalau menyengat,” katanya.

Bahkan, M. Yusuf, warga Jalan Serma Abdurrahman punya pengalaman pahit terkait ubur-ubur. “Tahun lalu, saat berenang di pantai, lengan saya disengat ubur-ubur kecil yang tentakelnya panjang. Sengatannya beracun, kulit lengan saya melepuh dan panas. Sampai-sampai saya berobat ke dokter spesialis kulit, baru sembuh,” kenang dia.

Ubur-ubur yang tentakelnya beracun oleh warga Mayangan, Probolinggo biasa disebut kok-sangkok (Madura). “Ubur-ubur kok-sangkok ukurannya lebih kecil dibandingkan ubur-ubur putih,” kata Agus Salim, warga Mayangan.

Warga yang biasa memancing ikan di kawasan pelabuhan juga mengaku terganggu dengan koloni ubur-ubur. “Ikan-ikan pada kabur karena perairan laut dipenuhi ubur-ubur,” kata Bambang, pemancing di Pelabuhan Tanjung Tembaga.

Keluhan serupa diungkapkan sejumlah nelayan yang menangkap ikan dengan jaring. “Selain ikan menjauh, jaring pun dipenuhi ubur-ubur. Terpaksa kami harus membuangi ubur-ubur yang nyangkut di jaring,” kata Hambali, seorang nelayan.

Memang tidak semua orang mengeluhkan kehadarian ubur-ubur. Sejumlah remaja pun justru asyik berselfie ria dengan latar belakang ubur-ubur.

Bahkan kemunculan ubur-ubur mengundang warga untuk datang ke tepi pantai. Sebagian bocah bahkan mencoba menangkap hewan lunak, tidak bercangkang itu. “Ubur-ubur itu lucu, mirip di film SpongesBob Squarepants,” ujar Zakki, pelajar SD di Kota Probolinggo.

Ubur-ubur termasuk kelas Scyphozoa. Tubuhnya berbentuk payung berumbai, dapat membuat gatal pada kulit bila tersentuh. Rongga pada tubuh kelompok ubur-ubur disebut gastrovaskuler.

Lubang besar tempat keluarnya air disebut osculum. Larva ubur-ubur disebut planula. Tercatat ada sekitar 1.800 jenis ubur-ubur. Ubur-ubur merupakan invertebrata (hewan tak bertulang belakang). Jenis ubur-ubur yang paling berbahaya dari kelompok Cubozoa.

Sengatan tentakelnya bisa menimbulkan kematian. Ubur-ubur yang paling mematikan dari kelompok ini adalah ubur-ubur Irukandji, yang ukurannya kecil. Ubur-ubur ini hidup di sekitar pantai Australia.

Penulis : Ikhsan Mahmudi

Editor : Yasmin Fitrida

Bagikan artikel ini

Berita terkait:

07 Aug 2020 23:26 WIB

Tegal Diminta Lebih Serius Tangani Pandemi

Nusantara

Ganjar minta pemerintah Tegal lebih serius.

07 Aug 2020 23:15 WIB

10 Hari Lagi Rumput Standar FIFA untuk GBT Datang

Surabaya

Pemkot Surabaya sedang mempercepat pengerjaan renovasi GBT

07 Aug 2020 23:05 WIB

Dilarang Dangdutan di Kampanye Terbuka Pilkada 2020

Nasional

Peserta Pilkada 2020 terancam didiskualifikasi jika melanggar aturan.

Lihat semua

Topik Lainnya

Temukan topik menarik lainnya.

Tirto.ID
Loading...