Dengkul Lurah Choirul Tak Lagi Bikin Unggul

17 Oct 2019 12:14 Feature

Seharian saya mengikuti Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) Serentak di Blitar. Bahkan sejak semalam sebelumnya.

Kebetulan adik saya salah satu kandidatnya. Choirul Anam namanya. Ia sudah dua periode memegang jabatan lurah.

Kali ini maju lagi. Karena memang diijinkan undang-undang. Kepala desa bisa menjabat 3 periode. Masing-masing 6 tahun.

Lurah Choirul, demikian biasa kami memanggil, berarti sudah 12 tahun menjabat. Waktu yang cukup lama berkiprah.

Tapi bagi lurah Choirul, jabatan tak dianggap berkah. Bukan kebanggaan. Melainkan belenggu.

"Alhamdulillah, kini saya dan teman-teman yang sejak dulu membantu telah terlepas dari belenggu," katanya.

Ia mengatakan itu setelah kalah 194 suara dari pesaingnya. Dalam Pilkades yang penghitungan suaranya baru tuntas jam 9 malam. Pemenangnya mantan calon anggota DPRD. Dari Partai Amanat Nasional (PAN).

Lurah Choirul langsung mengakui kekalahannya. Begitu penghitungan suara usai, ia menyalami pemenangnya.

Selang sehari, ia menulis status panjang di media sosialnya. Isinya mengucapkan terima kasih kepada panitia Pilkades, Pemerintah Desa, para pendukungnya, dan warga desa atas dukungan moril dan materiil selama ini.

''Dalam proses demokrasi Pilkades kemarin saya kalah. Saya mengucapkan selamat kepada yang terpilih Pak Suwondo,'' tulisnya tanpa beban.

Ia pun berharap di bawah lurah baru terjadi perubahan yang mendasar bagi kemajuan dan perkembangan desa Gogodeso yang lebih maju dan sejahtera.

Ciamik. Gentel. Ndak cemen.

Dia sadar, eranya bukan lagi cukup dengan modal dengkul. Dia tahu dengkulnya tak lagi cukup untuk menjadi unggul dalam kontestasi politik di jaman sekarang.
Lurah Choirul memang kalah terhormat. Tanpa melakukan gerakan apa-apa. Hanya ngglundung semprong. Ini bahasanya orang Blitar. Mengalir saja.

Tak membentuk tim sukses. Tak menyiapkan serangan fajar. Tidak kampanye. Hanya selamatan sekali mengundang 100 tokoh masyarakat. Juga melekan atau jagongan sampai malam dengan para tetangga dan pendukungnya di rumah.

Dengan nggelundung semprong, ia masih bisa mengantongi seribu lebih suara. Sementara dua dari empat calon lainnya masing-masing tak lebih dari 200 suara yang berhasil digaetnya.

Lurah Choirul selama 12 tahun menjabat memang sepenuhnya mengabdikan dirinya sebagai pelayan. Ia tak mengenal waktu. Kapan pun warganya membutuhkan, ia turun tangan.

Ia bikin gerakan pertanian dengan pupuk alami. Tanpa pestisida. Menuju pertanian organik.

Dalam mengembangkan pertanian desa, ia dibantu guru besar dari IPB. Prof Hermanu namanya. Juga para dosen dari Universitas Brawijaya Malang.

Atas bantuan para ahli pertanian itu, desa Gogodeso sudah bisa memproduksi pupuk organik. Untuk mengembalikan hara tanah yang sudah tercermar pestisida sejak lama.

Lurah Choirul juga membuat instrumen pemasarannya. Lewat BUMDes. Mulai dari instrumen pendanaan untuk petani dan pemasaran produknya. Dengan brand Godes.

Ini sesuai dengan visi misinya. Saat menyampaikan visi misi cakades, ia mengatakan ingin mengangkat BUMDes sebagai pilar dalam mensejahterakan masyarakat.

Juga menjadikan pertanian sebagai tonggak ekonomi warga, industrialisasi pertanian dan industri kreatif sebagai mesin ekonominya. Sedangkan pendidikan dan seni budaya menjadi penyelaras irama pembangunan.

Visi keren. Sesuatu yang sudah dirintisnya selama dua periode kepemimpinanya sebagai lurah. Bukan sesuatu yang akan dikerjakan.

Tapi, kata dia, suara rakyat adalah suara Tuhan. Mereka telah memilih yang lain. Tidak ingin ia meneruskan apa yang telah dirintisnya.

Lurah Choirul telah berjuang selama 12 tahun memikirkan kemajuan warganya sepenuh hati. Bahkan, tanpa banyak memikirkan dirinya sendiri. Terbukti dua periode jadi lurah tak punya apa-apa.

Karena itu, ketika ia mendeklarasikan kekalahannya di media sosial, ribuan komentar menyertai. Ada yang menangisi, ada yang menyamangati.

''Masih banyak tempat pengabdian lain Pak Lurah Choirul,'' kata mereka.

Kini ia sudah punya waktu banyak memikirkan dirinya sendiri. Mengembangkan passion di bidang pertanian yang telah digelutinya.

Rasanya tak lama lagi ia akan punya kreasi baru di bidang ini. Sebagai rakyat biasa. Menebar manfaat tanpa embel-embel jabatan dan tanggung jawab besar.

Percayalah, orang baik akan tetap menemukan jalannya.

Penulis : Arif Afandi


Bagikan artikel ini