David Christian, mahasiswa Papua yang hadir dalam acara bertajuk
David Christian, mahasiswa Papua yang hadir dalam acara bertajuk

David Klarifikasi Terkait Kehadirannya di Simpang Balapan Ijen

Ngopibareng.id Jawa Timur 26 August 2019 14:34 WIB

Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Papua (IPMAPA) melakukan konferensi pers dan klarifikasi mengenai keikutsertaan mahasiswa Papua dalam acara yang digelar oleh berbagai pihak di Kota Malang.

Dalam kesempatan tersebut, David Christian Nauw memberikan klarifikasi mengenai kehadirannya pada acara "Indonesia Tersenyum". 

Acara tersebut digelar pada 23 Agustus 2019, di Simpang Balapan Ijen, dengan mengundang semua elemen mahasiswa dari luar daerah yang berkuliah di Malang.

"Saya tidak tahu bahwa itu adalah event besar yang akan diliput oleh media, yang saya tahu saya hanya diajak saudara untuk makan dengan teman-teman," ungkap mahasiswa asal Timika tersebut.

David mengaku bahwa ia sebelumnya diajak oleh saudaranya ke acara tersebut. Namun ia tidak tahu-menahu mengenai siapa yang mahasiswa Papua yang lainnya. 

"Terus berikutnya mengenai pernyataan yang saya katakan di media. Itu hanyalah berdasarkan sudut pandang saya pribadi. Tidak mewakili seluruh mahasiswa Papua," ucapnya pada 25 Agustus 2019.

David menerangkan bahwa ia lalai dan kurang tahu mengenai informasi pernyataan sikap yang telah diambil oleh IPMAPA se-Jawa dan Bali.

Dalam rilis pernyataan sikap IPMAPA se-Jawa dan Bali yang diterima oleh ngopibareng.id. Pada poin satu dan dua dituliskan bahwa menolak kunjungan dan agenda pencitraan dari pihak pemerintah.

"Menolak kunjungan Pemerintah Jawa Timur beserta aparat militer yang merupakan aktor di balik pembungkaman ruang demokrasi dan pengepungan Asrama Mahasiswa Papua di Surabaya," dikutip dari rilis tersebut.

Untuk poin kedua dituliskan bahwa mereka menuntuk Pemerintah Indonesia segera hentikan agenda-agenda pencitraan di seluruh wilayah Indonesia yang bertujuan menjebak pelajar dan mahasiswa Papua dalam menciptakan berita-berita hoax.

Di sisi lain, Franz Huwi, Ketua Umum IPMAPA Malang, menuturkan bahwa hal itu adalah upaya untuk penggiringan opini.

"Kami melihat itu adalah upaya penggiringan opini yang dilakukan oleh aktor kemudian disetting oleh negara," terang pria yang juga merupakan mahasiswa Universitas Merdeka Malang tersebut.

Franz menegaskan berkaca dari kejadian yang menimpa mahasiswa Papua di Malang dan Surabaya ia menolak segala bentuk negosiasi untuk kompromi.

Acara konferensi pers dan klarifikasi tersebut diselenggarakan di Sekretariat IPMAPA Malang, Jalan Kecubung Barat No. 5E, Tlogomas, Malang, pada Minggu 25 Agustus 2019.

Penulis : Lalu Theo Ariawan Hidayat Kabul

Editor : Moch. Amir

Bagikan artikel ini

Berita terkait:

01 Dec 2020 13:35 WIB

Ada yang Pakai Koteka, Simpatisan Papua Merdeka Gelar Aksi

Reportase

Mahasiswa Papua tuntut kemerdekaan.

20 Sep 2020 15:28 WIB

Tiga Poin Pernyataan Sikap, PBNU: Tunda Pilkada Serentak

Nasional

Sulit terhindar dari konsentrasi orang dalam jumlah banyak

18 Aug 2020 11:05 WIB

Puluhan Massa di Surabaya Peringati Rasisme pada Mahasiswa Papua

Reportase

Mereka memperingati aksi rasisme setahun lalu di asrama mahasiswa Papua.

Lihat semua

Topik Lainnya

Temukan topik menarik lainnya.

Tirto.ID
Loading...