Dari Napi Jadi Dai, Evie Effendie Hijrah Setelah Dipenjara

22 May 2018 14:35

Lihat versi non-AMP di Ngopibareng.id

Penampilan nyentrik Evie Effendi tidak pernah berubah, sekalipun saat berdakwah, baik di luar dan di dalam mesjid. Justru karena penampilannya yang berbeda dengan dai pada umumnya itulah, ustad kelahiran Garut itu banyak digandrungi anak muda.

Gaya bahasanya yang ceplas-ceplos, apa adanya dan mudah dicerna audience, menjadikan ustad beranak empat itu semakin viral di media sosial. Setiap kali ceramah selalu dibanjiri jamaah hingga ribuan orang.

Ustad yang mengaku pernah menjalani hidup di penjara selama 3 bulan itu, mengatakan, kalau penampilannya berbeda dengan dai yang lainnya lantaran Allah hanya melihat umat dari taqwanya.

“Allah tidak melihat dari penampilannya, dari fisiknya, tapi dari taqwanya. Kalau saya berbeda, itu cara saya. Jalan yang berbeda, untuk tujuan yang sama. Karena yang membuat perpecahan itu bukan perbedaan, tapi kedengkian. Karakter para sahabat juga berbeda-beda, tapi tujuannya sama menumbuhkan ketauhidan,” tutur Evie.

Dakwah on the street

Ustad pengisi program Islami di beberapa stasium televisi, yang pernah menjadi santri di Darul Arqom dan Pesantren Persatuan Islam Rancabogo Garut ini, mengaku akan lebih fokus berdakwah dan mengajak generasi muda untuk berhijrah kepada hal yang lebih baik.

“Saya malu kalau hidup ini tidak berkarya, berdakwah itu bukan hanya tugas ustad, tapi tugas semua umat. Ajaklah mereka, jangan diejek, rangkul mereka, jangan dipukul. Saya lihat banyak ustad yang egois, baca Alquran di mesjid sendiri, padahal anak jalanan juga banyak yang mau kalau diajak. Saya mencoba menjembatani mereka, agar mereka mau berhijrah dari kehidupan yang tidak teratur di jalanan, menjadi lebih teratur dan lebih baik dengan menjalankan ibadah,” paparnya.

Sebelum terkenal seperti sekarang ini, Evie sudah berdakwah di berbagai tempat, termasuk mendakwahi anak-anak jalanan, dakwah di tempat prostitusi, seperti kawasan Saritem Bandung, bahkan ketika tinggal di Lapas Kebonwaru, ia rajin berdakwah.

Sehingga banyak anak jalanan, mantan narapidana yang hijrah dari kehidupan kelamnya. “Alhamdulillah, ribuan orang sudah kembali ke jalan yang benar dengan cara saya berdakwah on the street (di jalanan),” ungkapnya.

Bangkit dari keterpurukan

Masa muda yang kelam telah Evie arungi. Pernah merasakan menjadi berandal, adu jotos, hingga meringkuk di lantai ruang penjara.

Ia mengingat kisah tersebut terjadi pada tahun 2000. Usianya menginjak 24 tahun. “Waktu itu masa saya transisi," ujar Evie yang tenar dijuluki ustad ‘gapleh’ atau gaul tapi soleh.

Pria kelahiran Bandung 19 Januari 1976 ini merenung selama masa tahanan. Tobat begitu bergejolak di benaknya. Hidup di dunia hanya sementara, dia mengingat ajal kematian yang hanya menjadi rahasia Maha Pencipta.

“Penjara itu neraka dunia. Kebayang enggak neraka akhirat?” ucap Evie.

Dia bangkit. Sel jeruji besi membawanya menapaki lika liku lembaran cerita baru. “Di dalam penjara itu enaknya zikir. Selama di dalam (Rutan Kebonwaru) kerjaan saya salat dan zikir,” kenangnya.

Anak pasangan Teti Rusmiati dan Iyus Rusdi ini mantap bertobat. Evie sadar telah menyusahkan kedua orang tuanya tersebut gara-gara kenakalan berujung bui. Namun, ibu tercinta Evie tak henti menyemangati dan berdoa sambil berurai air mata.

“Dari situ saya berpikir, jangan nakal lagi. Mamah (Teti) sudah sakit saat merasakan saat melahirkan saya, tapi lebih sakit lagi ketika anaknya ini ngaco,” ucap Evie.

Hijrah

Sejak menghirup udara bebas, Evie mulai membuka lembaran baru. Dia buang-buang jauh hikayat bejat. Evie percaya, tidak ada kata terlambat menuju arus kebaikan.

“Setiap orang suci punya masa lalu, orang berdosa seperti kita jangan pesimis, pasti punya masa depan. Bertobatlah sebelum ajal tiba. Karena ajal itu tidak pernah menunggu tobat kita,” tuturnya.

Ia rajin mendatangi kajian dan pengajian di masjid-masjid. Evie belajar lebih dekat memahami ilmu pengetahuan dan syariat ajaran Islam. Evie yang hanya tamatan SMP 49 Bandung ini terus belajar memperdalam agama.

Ia bahkan rela meninggalkan pekerjaannya sebagai peracik warna yang digelutinya selama 10 tahun di salah satu perusahaan kain.

“Sekarang saya banting setir ke hijrah. Pengen ngurus barudak (anak-anak yang hijrah) bagaimana mereka konsisten menjaga wudhu,” ucapnya.

Proses hijrah Evie dan hengkang dari pekerjaannya sempat menemui alur rumit. Istrinya, Anie Mulyanie, meminta cerai. Risiko itu Evie hadapi.

“Saya mulai dari nol lagi. Istri waktu itu belum paham bahwa proses hijrah itu makan komitmen. Tapi ya sudahlah,” ucapnya.

Namun, sambung Evie, Allah berkehendak lain. Setelah sempat bercerai, Evie kembali rujuk dan menikah dengan Anie. “Sama Allah dikembalikan, kami sekarang ngariung (ngumpul) lagi,” ucap Evie.

Kini Evie dan Anie tinggal bersama empat anaknya Shakkilla Tushalimah, Nazwa Amalia Tsaqib, Dzakira Talitha Eviani dan Shaquena Humaira. (*)