Dalam Kehidupan Kebangsaan, Ini Peran Muhammadiyah

23 Oct 2019 23:17 Khazanah

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir mengingatkan tentang peran Muhammadiyah dalam kehidupan kebangsaan. Menurutnya, Muhammadiyah sejak perang kemerdekaan ikut berjuang untuk melawan penjajah lewat gerakan perang Angkatan Sabil di Yogyakarta dan Jawa Tengah. Dengan tokohnya Ki Bagus Hadikusumo yang merupakan Ketua PP Muhammadiyah pada masa itu.

Bersamaan dengan perang sabil, pada perang gerilya, Panglima Jendral Sudirman yang merupakan kader Muhammadiyah turut ambil peran.

“Tokoh-tokoh Muhammadiyah ini terlibat dalam baik perang kemerdekaan atau setelah kemerdekaan Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa integrasi keislaman dan keindonesiaan telah di pelopori oleh Muhammadiyah sejal lama,” jelas Haedar, dalam keterangan diterima ngopibareng,id, Rabu 23 Oktober 2019.

Haedar menyampaikan, Muhammadiyah konkret berjuang untuk bangsa yakni dengan mencerdaskan dan memajukan lewat gerakan pendidikan, kesejahteraan sosial dan pemberdayaan masyarakat. Dan pekerjaan ini meluas sampai seluruh tanah air.

“Dan kami (Muhammadiyah) tidak pernah berpikir pamrih, tetapi selalu berbuat yang terbaik untuk bangsa, dan alhamdulillah sambutan dari masyarakat sangatlah baik,” terang Haedar Nashir.

Haedar Nashir mengungkapkan hal itu, terkait kegiatannya meresmikan tiga unit usaha Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) pada Minggu 19 Oktober lalu. Pada kesempatan itu, Haedar turut hadir memberikan amanat dalam konsolidasi persyarikatan Muhammadiyah.

Selain itu, Haedar juga menyampaikan, Muhammadiyah teguh dengan komitmen terhadap Pancasila dan akan selalu menjaga NKRI ini sekaligus bukan hanya jargon Indonesia dan NKRI milik bersama, tetapi juga harus dibangun bersama dengan aksi-aksi nyata bukan retorika.

“NKRI harus kita majukan dan sejahterakan, karena banyak tantangan yang kita hadapi disetiap periode Pemerintahan. Karena itu sebagai organisasi yang ikut menjadikan negara ini, Muhammadiyah tidak ingin bangsa ini terpecah belah karena perbedaan politik,” jelas Haedar.

Haedar mengatakan, demokrasi telah mengajarkan kita bahwa perbedaan politik itu selesai ketika pemilihan umum telah berlangsung, dan pemerintahan yang terpilih oleh pemilu adalah pemerintahan seluruh rakyat Indonesia.

Bersamaan dengan itu Haedar turut menyampaikan selamat atas pelantikan Presiden Jokowi dan Wapres Ma’ruf Amin.

Haedar berharap Pemerintahan kedepan dapat menjadi Pemerintahan untuk seluruh rakyat Indonesia, bukan hanya untuk satu golongan, bukan untuk satu kelompok.

“Rangkul lah seluruh kekuatan masyarakat. Saya yakin lima tahun kedepan ini dengan semangat kebersamaan tentu Indonesia akan jadi lebih. Dan tentu kita berharap pelantikan akan berjalan dengan baik, lancer, dan sukses, karena itu menyangkut kesuksesan dan ciri dari kematangan kita berdemokrasi dalam berbangsa dan bernegara,” kata pungkas Haedar.

Penulis : Riadi


Bagikan artikel ini