Kue kering buatan Lailatur Rohmah (Foto: M.Rizqi/Ngopibareng.id)

Covid, Begini Nasib Bisnis Kue Kering Jelang Lebaran di Jombang

Feature 23 May 2020 20:29 WIB

Besok sudah lebaran. Semua umat muslim pun bersiap menyambut kehadirannya. Mulai dari menata rumah, membeli baju baru hingga memborong kue kering sebagai suguhan untuk tamu.

Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, lebaran tahun ini dirayakan di tengah pandemi Corona. Kendati demikian, bisnis kue lebaran masih laris pesanan. Salah satunya milik Lailatur Rohmah, pemilik usaha kue kering Ar-Rohmah Dusun Ngemplak Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, Jawa Timur.

Sejak seminggu sebelum puasa berakhir, setiap harinya perempuan yang bernama Lala itu mengirim kue sebanyak empat kali. Yaitu pagi, siang, sore dan malam. Semua kue buatannya diproduksi pada pagi hari dan langsung siap kirim. Tak heran, sekali pembuatan kue dalam sehari, dia tiga hingga empat kali bolak-balik kala berbelanja bahan.

“Saya seminggu terakhir ini sudah mengantar empat kali dalam sehari. Untuk produksinya sendiri biasanya pada hari yang sama langsung buat dan langsung dikirim” jelas Lala kepada Ngopibareng.id pada 23 Mei 2020.

Lala yang menggeluti kue sejak 2015 itu mengaku tak berani menggunakan pengawet kue dalam produknya. Hal ini lantaran ia ingin kue yang dijualnya bebas bahan pengawet. Mungkin hal ini juga yang membuat dirinya banjir pesanan. Tercatat hingga saat ini terhitung ada 973 toples kue kering yang sudah laku terjual.

Proses produksi kue di rumah Lala Foto MRizqiNgopibarengidProses produksi kue di rumah Lala (Foto: M.Rizqi/Ngopibareng.id)

Setiap harinya sendiri, perempuan yang dulu bekerja di salah satu rumah sakit di Jombang itu bisa memproduksi 70 lebih toples kue. Antara lain kastangel, nastar, monde susu, monde cokelat, salju sabit, roti kacang, dan bola salju. Di antara semua jenis kue yang ada, mayoritas pembeli mengidolakan nastar, monde susu dan kastangel. Harganya pun bervariasi, mulai dari Rp 13 ribu hingga Rp 18 ribu.

Untuk proses produksinya sendiri Lala dibantu suami dan kedua karyawannya. Suami pun membantu dalam promosi melalui WhatsApp dan Facebook dan mengantarkan langsung. Pelanggannya sendiri merupakan warga sekitar Jombang. Di samping itu, ada pula 20 reseller yang tersebar di Kediri, Nganjuk, Surabaya dan beberapa guru Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Meskipun pesanan saat ini masih banyak, namun Lala menganggap situasinya berbeda dengan tahun lalu. Omzetnya kali ini menurun. Pada tahun 2019 omzet kue bisa mencapai Rp 10 juta, sedangkan sekarang omzetnya melorot jadi Rp7 juta saja.

“Pesanan saya memang alhamdulillah masih banyak, tetapi ada penurunan. Tahun lalu bisa sampai Rp 10juta, sekarang turun menjadi Rp 7 juta” kata dia.

Senada dengan Lala, Merry Oktavianti pedagang kue kering yang lain di Desa Sumoyono, Kecamatan Diwek. Dia menjual berbagai macam kue antara lain nastar, kastangel, monde, cookies coklat dan kue kacang. Per toplesnya dibanderol mulai Rp 30 hingga Rp 35 ribu.

Merry yang sudah berdagang kue sejak empat tahun lalu itu juga mengalami hal yang sama. Ada penurunan pembeli meskipun pesanannya masih banyak. Jika pada tahun sebelumnya, kue kering yang terjual bisa mencapai 120 toples. Namun, untuk sekarang paling banyak kue yang bisa dihasilkan sejumlah 70 toples saja.

Merry Oktavianti pedagang kue kering di desa Sumoyono Kecamatan Diwek Kabupaten Jombang membuat kue cokelat Foto MRizqiNgopibarengidMerry Oktavianti, pedagang kue kering di desa Sumoyono, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang membuat kue cokelat (Foto: M.Rizqi/Ngopibareng.id)

“Pesanan kue kering memang masih ada, namun pembelinya menurun jika dibandingkan dengan tahun lalu. Tahun kemarin bisa habis 120 toples, tahun ini cuma 70 toples nggak sampai” ceritanya.

Merry menjelaskan tahun 2019 omzetnya bisa meraup Rp 2 juta. Namun, saat ini hanya berkisar Rp 1 juta saja. Rupanya selain penurunan pembeli, faktor lain yang mempengaruhi berkuranganya penjualan kue keringnya adalah keterbatasan alat dalam produksi serta berkurangnya jumlah reseller.

Oven yang digunakan Merry berukuruan kecil, sehingga untuk produksi dalam jumlah besar harus mengantre. Sementara itu, reseller Merry yang dulunya berjumlah delapan, sekarang hanya ada 3 reseller saja. Penyebab berkurangnya reseller ini pun beragam. Ada yang meninggal ada pula yang tidak bisa memasarkan kue karena lapak berjualannya ditutup akibat pandemi Corona.

Selain itu, semenjak adanya Covid-19, tidak banyak orang yang pulang kampung. Sedangkan mayoritas pembeli Merry sendiri mengkonsumsi kue kering sebagai buah tangan saat mudik.

“Semenjak corona ini menurun pembelinya, banyak sekali orang yang nggak mudik. Padahal selama ini kue kering dijadikan sebagai oleh-oleh. Selain itu banyak tempat jualan reseller yang ditutup” tutupnya.

Penulis : M. Rizqi

Editor : Moch. Amir

Bagikan artikel ini

Berita terkait:

29 May 2020 02:04 WIB

Pemkot Surabaya Minta Warga Belanja ke Tetangga

Surabaya

Sehingga pelanggaran PSBB bisa diminimalisir dan ekonomi tetap jalan

29 May 2020 01:30 WIB

DPRD Surabaya Setuju New Normal Diterapkan di Kota Pahlawan

Surabaya

Awi mengatakan, itu akan kembali menghidupkan lini masyarakat

29 May 2020 01:30 WIB

Petisi Tunda Masuk Sekolah Selama Pandemi

Pendidikan

Orangtua khawatir anak-anaknya akan tertular virus corona jika sekolah lagi

Lihat semua

Topik Lainnya

Temukan topik menarik lainnya.