Muhammad Suedi (kanan), cosplayer Indian Apache di Taman Bulak, Kenjeran, Surabaya. (Foto: Rizky/ngopibareng.id)

Cosplayer Indian Apache, 3 Jam Nongkrong Dapat Duit Rp700 Ribu

Feature 04 February 2020 14:18 WIB

Menghabiskan liburan akhir pekan di taman, jadi pilihan menarik untuk melepas penat usai enam hari sekolah atau bekerja. Lokasi yang biasanya dikunjungi warga Surabaya adalah Taman Bungkul di Raya Darmo dan Taman Bulak di Kenjeran.

Nah, tidak lengkap rasanya datang ke taman ini tanpa berswafoto. Pengunjung pun tinggal pilih, mau foto bareng badut atau cosplayer yang mengenakan kostum Indian Apache.

Pemandangan itulah yang dilihat ngopibareng.id saat berjalan-jalan di Taman Bulak pada suatu sore. Saat itu, langit sedikit tak bersahabat. Tampak awan mendung pertanda akan turun hujan sewaktu-waktu.

Namun, sedikit gangguan itu rupanya tak mengurangi antusias warga yang liburan di taman. Dari awal masuk pintu utama Taman Bulak, tampak pengunjung sudah lesehan di area tersebut.

Ada anak-anak bermain layang-layang, muda-mudi tengah duduk santai, orangtua juga tampak menunggu anak-anaknya menggunakan fasilitas bermain.

Ada pemandangan unik ketika mata ngopibareng.id melihat tepat di bawah patung Suroboyo yang berdiri kokoh. Ya, di situ ada dua orang cosplayer. Penampilan mereka jelas mencolok. Ada hiasan Warbonet atau topi khas suku Indian, di kepala mereka.

ngopibareng.id pun berkenalan dengan dua 'Indian Apache' itu. Mereka adalah Muhammad Suedi dan Ipung.

Suedi, penggagas cosplayer Indian Apache itu, awalnya cuma iseng ikut lomba kostum dan keluar sebagai juara. Pertama kali dia ikut lomba jalan sehat P3 di Surabaya. Dia juara The Best Costume dan meraih hadiah uang 100 dolar Amerika Serikat.

Selanjutnya, Suedi ikut lomba di DTC Wonokromo yang disponsori iklan rokok juga menang juara 1.

Suedi bahkan sempat ikut lomba yang digelar acara YKS Trans TV, dan lagi-lagi dia keluar sebagai juara.

Lama-kelamaan Suedi bosan sendiri dengan kostum Indian Apache miliknya yang tampak polos dan klasik. Pria 45 tahun itu akhirnya terinspirasi kostum di film yang dibintangi Johnny Deep.

“Saya bosan tampilannya polos. Saya pingin yang anti mainstream. Saya melihat film The Lonely Ranger yang sempat booming saat itu. Akhirnya saya adaptasi,” kenang Suedi.

Dengan kostum baru hasil kreasinya, Suedi mencoba keberuntungan lain, yakni mangkal di taman sebagai cosplayer. Tinggal pakai kostum Indian Apache lalu jeprat-jepret menemani swafoto dan dikasih duit.

Suedi biasa mangkal di Taman Bungkul saat weekend mulai pukul 06.00-10.00 WIB. Kemudian, dia lanjut ke Taman Bulak pukul 16.00-22.00 WIB. Dari dua tempat tersebut, Suedi hanya butuh waktu tiga jam pose langsung bisa meraup untung hingga Rp700 ribu.

"Awal mula saya mencoba-coba saat diberitahu teman. Awal mangkal dapet Rp120 ribu, tetapi selanjutnya berturut-turut dapat Rp700 ribu. Lumayan buat sampingan," ungkapnya.

Muhammad Suedi kiri dan Ipung kanan mengenakan kostum Indian Apache Foto RizkyngopibarengidMuhammad Suedi (kiri) dan Ipung (kanan) mengenakan kostum Indian Apache. (Foto: Rizky/ngopibareng.id)

Pernak-pernik Cosplayer

Suedi kemudian bercerita soal kostum uniknya. "Ini namanya Warbonet, topi suku Indian. Sedangkan ini, gelang aksesoris sintetis. Kostum yang saya pakai bermotif etnik Indian asli,” katanya.

Pria asli Surabaya ini tidak mau sembarangan pilih kostum. Menurutnya, estetika seni dalam kostum harus tetap dijaga. Terlebih, cosplayer harus tetap terlihat gagah dan semarak.

"Kostum yang dibuat harus sesuai dengan ketebalan baju, tidak terlalu lembek maupun keras. Sehingga, saya butuh survei dan riset 2 hingga 3 kali agar tidak salah pilih," ujarnya.

Awalnya, lanjut Suedi, kain yang dipilih berbahan beludru. "Tetapi kok luntur dan kurang bagus. Akhirnya, saya browsing dan nemu suede. Kainnya tipis, lebih soft dan bolak baliknya bagus,” sambung dia.

Selain itu, untuk mendapatkan baju etnik asli dari Amerika itu, Suedi sampai berburu di Pasar Tugu Pahlawan dan dimodifikasi lagi.

“Ini baju saya nemu harganya 10 ribu, asli made in USA. Etniknya juga asli etnik meksiko. Baju ini diolah dan bisa menghasilkan ratusan ribu. Walau terkadang terasa gatal di badan,” katanya sambil tertawa

Begitupula untuk aksesoris dan makeup pendukung. Ia rela berburu ke Bali hingga Kalimantan demi tampil prima.

“Saat di Kalimantan ada expo, saya beli pernak-pernik tambahan ini. Bahkan juga sampai ke Bali biar matching dengan kostum saya. Semua ini untuk menunjang penampilan agar terlihat macho dan rame,” beber Suedi.

Untuk cat wajah, Suedi mengaku beli khusus impor dari China dan Hongkong. "Beli online, murah harganya tapi berkualitas dan nyaman untuk wajah, karena terbuat dari susu," imbuh dia.

Suedi beristirahat sejenak bersama rekanrekannya usai melayani sesi foto bareng pengunjung Taman Bulak Kenjeran Surabaya Foto RizkyngopibarengidSuedi beristirahat sejenak bersama rekan-rekannya usai melayani sesi foto bareng pengunjung Taman Bulak, Kenjeran, Surabaya. (Foto: Rizky/ngopibareng.id)

Lulusan Seni Rupa yang Belum Sempat Kuliah

Latar belakang pendidikan Suedi adalah seni rupa di SMKN 12. Dulunya, sekolah ini bernama Sekolah Menengah Seni Rupa (SMRS).
Namun sayang, Suedi hingga saat ini belum merasakan duduk di bangku kuliah. Padahal, dia sempat mendapatkan tawaran beasiswa ke sejumlah kampus ternama.

"Mulai dari masuk Unesa, ISI, hingga ITB secara gratis. Tapi saya sudah kerja jadi saya sibuk pilih pekerjaan," sesalnya.

Sebelum menjadi cosplayer, berbagai pekerjaan sudah dia lakoni. Diantaranya guru desain visual dan murator. Sejak lulus sekolah, ia berprofesi sebagai guru desain visual di yayasan sekolah internasional selama 6 tahun.

Selanjutnya dia beralih profesi menjadi decorator visual di beberapa tempat yang berbeda. Antara lain Ramayana Departmen Store di kawasan Terminal Bungurasih selama satu tahun, Vanda Decoration juga selama setahun, dan Dekorasi Visual di Kertajaya ini cukup lama selama 9 tahun.
Sekarang, pekerjaan utama Suedi sebagai pemilik vendor dekorasi dan murator. Sedangkan cosplayer adalah pekerjaan sampingannya.

Sempat Tidak Diapresiasi Warga

Di balik usaha kreatifnya menjadi cosplayer, ada juga pengalaman yang membuat Suedi sedih. Saat mencoba peruntungan di area Masjid Al Akbar Surabaya, dia justru tak mendapat sambutan hangat.

"Ada waktu satu jam untuk dandan setelah khutbah shalat Ied (Idul Fitri). Pas dandan saya berasa seperti siluman. Orang-orang melihatnya kayak gimana gitu, dan di situ sedihnya," kenang Suedi.

Kala itu, Suedi menyesuaikan momen Timur Tengah dengan mengenakan kostum jin seperti di film Aladin. Sayangnya, masyarakat tak merespon dandanannya tersebut.

Kelak Suedi berencana mengenakan kostum budaya Indonesia. Tujuannya untuk promosi budaya Indonesia melalui kostum.

“Saya ingin nanti pakai kostum leak khas Bali. Biar orang lebih tahu kesenian dan budaya Indonesia bukan hanya dari tarian saja,” tutupnya.

Penulis : M. Rizqi

Editor : Yasmin Fitrida

Bagikan artikel ini

Berita terkait:

12 Aug 2020 01:34 WIB

Cegah Pengambilan Paksa Jenazah, Pemkot Malang Ingatkan RS

Jawa Timur

Terkait video viral pengambilan paksa jenazah di Malang.

12 Aug 2020 00:30 WIB

Bertambah 20 Orang, Kasus Covid-19 di Pasuruan Total 737 Kasus

Ngopibareng Pasuruan

Dalam sehari kasus baru covid-19 di Pasuruan bertambah 20 orang.

11 Aug 2020 23:34 WIB

BNI Dukung Ketahanan Pangan Lewat KUR untuk Petani

BNI Peduli

Bekerjasama dengan Kementerian Pertanian.

Lihat semua

Topik Lainnya

Temukan topik menarik lainnya.

Tirto.ID
Loading...