Penulis saat bersama Cornelis Lay dalam sebuah acara di Fisipol UGM. (Foto: Dok/Ngopibareng.id)

Cornelis Lay, Gugurnya Pemikir Ke-Indonesia-an

05 Aug 2020 12:46

Lihat versi non-AMP di Ngopibareng.id

Tiba-tiba saja terlintas bayangan Cornelis Lay. Dalam benak. Sejak kemarin hingga tadi malam.

Ternyata subuh tadi ada kabar duka. Guru besar ilmu politik Fisipol UGM berusia 61 tahun itu meninggal dunia. Pukul 04.00 dini hari. Di RS Panti Rapih Jogjakarta.

Sepertinya, ilmuwan asal Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) ini ingin pamit kepada para sahabatnya. Rest in Peace kawan.

Memang sudah lama Conni --demikian ia biasa dipanggil-- hidup dengan jantung buatan. Dari mesin. Yang digerakkan dengan baterai.

Seharusnya, ia memeriksakan jantung buatanya ke Singapura sejak 6 bulan lalu. Tapi karena negeri itu tertutup karena Covid-19, hal itu tidak bisa dilakukan.

Bakteri yang bersarang di jantung buatannya mengantarkan ia harus beristirahat selamanya. Bangsa ini kehilangan satu pemikir ke-Indonesia-an.

Conni bukan sekadar ilmuwan biasa. Ia seorang pemikir yang sangat mencintai Indonesia. Yang selalu mencarikan jalan keluar agar bangsa ini tetap ada.

Dalam perbincangan di rumahnya dua tahun lalu, ia sedang memikirkan bagaimana komposisi perwakilan di parlemen seimbang. Antara partai berbasis Islam dan Nasionalis.

"Negeri ini akan stabil jika partai-partai berbasis Islam dan nasionalis seimbang. Minimal 45 persen untuk partai-partai Islam, Nasionalis 55 persen," katanya.

Saat itu memang sedang ramainya gerakan kelompok 212. Yang melakukan aksi unjuk rasa berjilid-jilid di Jakarta. Di periode pertama pemerintahan Presiden Joko Widodo.

Hanya saja, Conni melihat partai berbasis Islam yang ada belum berhasil untuk menggenjot perolehan suaranya. Malah yang terjadi perpecahan di dalamnya.

Ia berharap partai seperti PKB, PAN, dan PPP bisa mengembangkan diri menjadi partai besar. "Stabilitas politik tidak akan bisa terjaga dengan baik tanpa keseimbangan politik," katanya tegas.

Bagi saya, pikiran Conni ini sangat istimewa. Sebab, seorang pemikir non Muslim masih memikirkan perlunya partai berbasis Islam menjadi besar. Demi kestabilan dan keberlangsungan bangsanya.

Pemikiran akademisi pengagum Soekarno seperti ini hanya muncul dari kecintaannya akan Indonesia. Juga sejarah pergaulannya yang dia rawat semenjak ia menjadi mahasiswa di Jogja.

Saya mengenal Conni sejak ia dikenal sebagai tokoh GMNI di kampus. Juga saat ia menjadi rujukan kawan-kawan aktifis dari PMKRI (Persatuan Mahasiswa Kristen Indonesia).

Namun, pergaulan Conni sehari-hari sangat akrab dengan para aktifis HMI. Malah, ia tinggal di Sekretariat Koordinator Komisariat HMI UGM. Bersahabat dengan Ketua Korkom HMI saat itu Laurel Heydir. Persahabatan dua aktifis berlainan ideologi sampai kini.

Padahal, jaman itu pertarungan pengaruh antara GMNI dan HMI di kampus perjuangan di Yogyakarta ini sangat kenceng. Rasanya komitmen kepada keilmuwan dan kebangsaan membuat ia leluasa bergaul dengan siapa saja.

Conni juga penulis cepat. Ketika saya menjadi wartawan, ia adalah narasumber yang sangat terbuka untuk dimintai pendapat. Khususnya tentang dinamika politik di Indonesia. Langganan media untuk menulis esai.

Ia pun dengan ringan tangan menulis saat dimintai kata pengantar buku karya Saifullah Yusuf. Buku tentang pemikiran salah satu Ketua PBNU saat mau bertarung dalam pemilihan gubernur Jatim beberapa waktu lalu.

Meski dengan jantung buatan, Conni tetap bersemangat dengan dunia keilmuwannya. Bahkan, ia menyelesaikan disertasi doktornya dalam kondisi kesehatan yang tidak prima.

Selama 24 jam ia selalu menenteng tas berisi baterai yang tersambung ke jantungnya. Hanya saat tidur, tas baterai itu ditanggalkan.

"Kalau pas tidur, langsung dicolokkan ke saluran listrik. Seperti ngecharge handphone," katanya dengan enteng menceritakan kehidupan kesehariannya.

Saat mempertahankan disertasinya di depan koleganya para dosen Fisipol UGM, ia tampak begitu bersemangat. Bahkan, para sahabatnya sampai was-was dengan semangat yang berlebihan dalam menjawab pertanyaan para pengujinya.

Ia juga menyiapkan sendiri pidato pengukuhan guru besar UGM. Pidato hebat tentang relasi antara akademisi dengan negara. Pengukuhan yang dihadiri banyak tokoh politik dan negara. Menggambarkan keluasan pengaruhnya.

Saat Presiden Megawati Soekarnoputri menjabat, Conni menjadi salah satu pemikir utamanya. Saat Presiden Joko Widodo, ia masih sering dimintai pertimbangan-pertimbangan analisa politik dan kebijakan.

Meski demikian, ia tetap mampu menjaga kejernihan pikiran-pikirannya. Ia tetap kokoh sebagai akademisi yang terus aktif menerbitkan jurnal dan berbagai pemikiran di media. Juga tetap mengajar.

Conni, kini kau telah terbebas untuk ngecharge baterai agar mesin jantungmu tetap berdetak. Tapi detak keilmuan dan ke-Indonesia-anmu pasti dijaga oleh para mahasiswamu yang telah kau pintarkan.

Juga para sahabatmu yang kini banyak bertebaran di pemerintahan. Menjadi perancang maupun pengambil kebijakan. Juga karib dan muridmu yang bertebaran di berbagai partai politik.

Detak pemikiranmu tak akan terhenti. Ikut mewarnai negeri ini. Seperti detak jarum jam yang akan terus berdenting mengikuti perputaran bumi yang bulat ini.

Selamat jalan Bung Conni.