Citra Cemerlang Ciputra

29 Nov 2019 22:15 Ajar Edi
Ujar Ajar

Pak Ciputra meninggal dunia pada Rabu 27 November 2019. Sepertinya, mangkatnya bos besar Ciputra Group diiringi bau harum. Banyak orang menceritakan kebaikannya, karyanya, juga semangat entrepreneurnya.

Namun, euligi yang paling saya tunggu tentu dari Pak Dahlan Iskan. Mantan bos besar Jawa Pos Group. Karena, kelahiran Jawa Pos tak lepas dari Pak Ci, panggilan akrab Pak Ciputra.

Sebagai informasi, Jawa Pos dibidani oleh Majalah Tempo. Pak Ci, salah satu pemegang saham Tempo, mungkin secara pribadi juga melalui PT Pembangunan Jaya. Perusahaan kongsi Pak Ci dengan Pemprov DKI Jakarta.

Hubungan Pak Ci dengan Pemprov DKI Jakarta, membuat saya bisa bertemu dengannya. Ceritanya begini. Saat itu, sebagai wartawan, saya dapat jatah ngepos di Balaikota.

Jadi harus mengikuti apa tingkah dan kata Bang Sutiyoso, Gubernur DKI yang mantan Pangdam Jaya itu. Siang itu, dari agenda Bang Yos menerima Pak Ci. Kemungkinan besar melaporkan urusan bisnisnya.

Santer, saat itu Pak Ci punya ide membangun “Orchard Road” dan “Ginza Tokyo” di Jalan Prof Satrio. Agar ada landmark kota yang dituju wisatawan dunia. Sebagai ikon Jakarta, agar setara dengan kota-kota global.

Saat menanti masuk ke ruang tamu gubernur, kami sempat ngobrol sekilas. Yang saya masih ingat, tentu pesannya. “Jadi wartawan yang baik, bekerja dengan tulus dan penuh semangat,” katanya.

Kami tidak ngobrol lama. Karena protokol gubernur sudah memanggil Pak Ci. Seusai pertemuan, tentu saja, puluhan wartawan mengerubutinya.

Minta bocoran, apa yang diobrolkan dengan Bang Yos. “Hanya menyampaikan ide pembangunan Jakarta,” jawabnya berdiplomasi. Saat itu Pak Ci duduk, dan para juru warta mengelilinginya.

Mungkin karena ada agenda lain. Wawancara juga tak lama. Karena terburu-buru, jas Pak Ci yang disampirkan di lengan kursi tertinggal.

Seorang staf protokol pun buru-buru mengejarnya. Menyerahkan jas. Pak Ci pun membuka dompetnya. Memberi beberapa lembar uang. Dan senyum staff itupun mengembang.

Hubungan Pak Ci dengan para Gubernur DKI merentang lama. Dari jaman Pak Soemarno, Bang Ali Sadikin, sampai Bangi Yos, Bang Foke. Kiprahnya turut menyulap Jakarta dengan PT Pembangunan Jaya memang tak terbantahkan.

Di PT Pembangunan Jaya, Pak Ci, melahirkan Pak Eric Samola. Generasi penerusnya. Mereka juga berkongsi di beberapa bidang. Termasuk bisnis media, salah satunya di Jawa Pos.

Di Jawa Pos, polesan tangan Pak Eric juga seperti gurunya. Tak heran, Pak Eric, sudah dianggap sebagai ayah oleh Pak Dahlan. Karena memandunya membuat Jawa Pos menjadi gurita media tak terkalahkan.

Tangan dingin Pak Eric dan pompa semangatnya, telah melahirkan Pak Dahlan yang tremendous itu. Kiprah dahsyat Pak Dahlan, melahirkan gurita-gurita bisnis media Jawa Pos Group ke penjuru Indonesia.

Konon, terpentalnya Pak Dahlan dan keluarganya, juga ada berhubungan dengan Pak Ci. Kabarnya, Pak Ci jadi pemegang saham mayoritas Jawa Pos. Karena bukan lagi mayoritas, tentu Pak Dahlan tak bisa lagi memegang kendali.

Termasuk menempatkan generasi penerusnya. Baik itu putranya, Azrul Ananda atau kader-kader terbaiknya. Bahkan, Pak Dahlan sempat patah arang dan terbekap sedih pekat, saat banyak anak didiknya tak mendukungnya di masa kritis itu.

Sehari setelah meninggalnya Pak Ci, Pak Dahlan belum menulis. Akhirnya, tanggal 29 November, apa yang saya tunggu tiba. Pak Dahlan menulis tentang Pak Ci.

Eulogi itu berjudul: Entrepreneur Ciputraprenuer. Membacanya, saya menemukan satu kata kunci: Culture Ciputra. Budaya Pak Ci yang jadi warisan utamanya.

Di akhir artikelnya, Pak Dahlan menyebut etika dalam berkehidupan, termasuk urusan bisnis. “Mungkin karena jiwa seninya yang total itu bisnis Ciputra tergolong bisnis yang menegakkan etika,” tulisnya.

Di matanya, itulah warisan terbesar Pak Ci. Hal itu harus dijaga oleh penerusnya, anak cucunya, atau Pak Dahlan sendiri. Tentu saja, ada pesan tersirat yang ingin dikirimkan Pak Dahlan, kepada nahkoda Ciputra Group.

Entahlah, apakah ada hubungan dengan terpentalnya Pak Dahlan dan keluarga dari Jawa Pos.

Jenazah Pak Ciputra masih disemayamkan di Gedung Ciputra Artpreneur, Jakarta. Akan dimakamkan di samping makam ke dua orang tuanya di Memorial Park, Citra Indah pada hari Kamis, 5 Desember 2019. Pemakaman keluarga itu terletak di Desa Sukamaju, Jonggol, Bogor.

Jika kita melawat ke daerah Jonggol, jangan kaget, banyak proyek Group Ciputra bertebaran. Cirinya sederhana. Gerbangnya dibuat menawan. Lantas, patung-patung kuda bergerak yang menunjukkan semangat tak pernah padam.

Gedung Artprenuer itu menempel dengan Lotte Living World Ciputra. Inilah salah satu mall yang bercitarasa di koridor “Orchard Road”. Sebagian menyebutnya dengan kawasan segi tiga emas.

Mall ini terkesan sangat moderen. Banyak tempat duduk di selasarnya. Toiletnya bagus. Mushollanya bersih dan wangi.

Ada karya seni patung di depannya, yang terinsipirasi dari karya lukisan Hendra Gunawan. Maestro ini memang dekat dengan Pak Ci. Karya Hendra yang dikoleksi Pak Ci, semuanya dikumpulkan di Artprenuer.

Saya juga sempat ketemu lagi dengan Pak Ci di sini. Tak sengaja, saat hendak ke toilet. Dengan ramah, dia pun menyambut sapaan saya.

Saat masuk ke toilet, iseng, saya tanya ke petugas janitor. Ada apa Pak Ci ke toilet? “Beliau mengecek kebersihan toilet,” jawabnya pendek.

Tentu jawaban ini membuat saya takjub. Taipan kaya raya ini, begitu detail memastikan pelayanan kepada para pengunjung mallnya. Mungkin, ini salah satu manifestasi etika bisnisnya.

Ajar Edi, kolomnis “Ujar Ajar” di ngopibareng.id

Penulis : Ajar Edi
Editor : Witanto


Bagikan artikel ini