Dewan Kesenian Surabaya, dan Aribowo. (Foto:m.ngopibareng.id/anis)

Chrisman dan Luhur Gak Usah Ikut Cawe-cawe Lagi Ngurusi DKS

Seni dan Budaya 27 December 2019 16:03 WIB

Aribowo, mantan Ketua Dewan Kesenian Surabaya (DKS) dan mantan Ketua Dewan Kesenian Jawa Timur  (DKJT) mengaku prihatin terhadap kondisi Dewan Kesenian Surabaya di bawah kepemimpinan Chrisman Hadi dan Luhur Kayungga sebagai sekretaris.

“Beberapa tahun belakangan ini saya mengikuti dari jauh, saya merasa sedih melihat DKS makin lama makin memprihatinkan. Dekaesnya ada, tapi tidak ada aktivitasnya,” kata Aribowo, dalam diskusi dengan beberapa seniman di Balai Pemuda, Kamis petang, untuk menolak diselenggarakannya Musyawarah Dewan Kesenian Surabaya yang diselenggarakan kepengurusan Chrisman dan Luhur.

Menurut Aribowo, yang juga mantan Dekan FIB (Fakultas Ilmu Budaya) Universitas Airlangga,  sekarang ini mengelola organisasi atau lembaga tidak boleh meniru gaya yang berlaku 40 atau 50 tahun lalu.

“Memilih orang-orang dari kelompoknya sendiri untuk diajak berunding kemudian memilih pengurus organisasi atau lembaga. Sekarang sudah gak jamannya lagi organisasi semacam itu. Semua harus terbuka, harus demokratis, tidak boleh diatur untuk kepentingan kelompoknya,” kata Aribowo.

“Demikian juga tentang penyelenggaraan musyawarah untuk memilih pengurus DKS sekarang ini, harus terbuka dan demokratis. Mengelola organisasi atau lembaga tidak boleh suka-suka dia. Itu ndeso, ” katanya.

“Sekarang ini kesempatan yang baik bagi Chrisman dan Luhur untuk memperbaiki DKS. Mereka selama jadi pengurus tidak melakukan apa-apa, malah merusak, sekarang kesempatan yang baik untuk memperbaiki apa yang telah mereka rusak. Keduanya sudah cukup.  Ngono yo ngono neng ojo ngono. Periode sudah selesai, dengan tanpa kegiatan. Jadi sudahlah, berikan kepada seniman secara bebas dan merdeka. Chrisman dan Luhur gak usah ikut cawe-cawe lagi. Apalagi keduanya sudah jadi pengurus DKJT,” tambahnya.

“Juga jangan bawa-bawa lembaga kesenian ke ranah politik. Saya melihat DKS, juga DKJT sekalipun,  dibawa ke ranah politik. Apalagi menjelang pilkada seperti sekarang. Itu tidak layak. Sangat merendahkan kesenian,” tambah Aribowo. (nis)

Penulis : M. Anis

Bagikan artikel ini

Berita terkait:

25 Feb 2020 20:30 WIB

DKS Nilai Alun-alun Surabaya Ambigu

Pemerintahan

DKS angkat bicara soal proyek alun-alun Surabaya.

03 Jan 2020 15:40 WIB

Pemkot Tidak Akui Dewan Kesenian Surabaya, Ini Alasannya

Seni dan Budaya

Ada alasan mengapa Pemkot tidak mengakui musyawarah DKS dan hasilnya.

02 Jan 2020 15:47 WIB

Chrisman Hadi Memimpin DKS Dengan Mimpi, Kesenian Dikorbankan

Seni dan Budaya

Seniman Surabaya tidak percaya kepada Pengurus DKS pimpinan Chrisman Hadi.

Lihat semua

Topik Lainnya

Temukan topik menarik lainnya.