Tim CO2 Free Air Device (CFD) yang berhasil membuat alat untuk menurunkan CO2 di udara sampai 38 persen. (Foto: Istimewa)
Tim CO2 Free Air Device (CFD) yang berhasil membuat alat untuk menurunkan CO2 di udara sampai 38 persen. (Foto: Istimewa)

CFD Inovasi Mahasiswa ITS Untuk Solusi Daerah Kebakaran Hutan

Ngopibareng.id Teknologi dan Inovasi 04 November 2019 22:21 WIB

Mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) berhasil membuat inovasi CO2 Free Air Device (CFD). CFD merupakan alat yang difungsikan sebagai masker di area rawan kebakaran lahan dan hutan seperti Kalimantan, Pekanbaru, Riau dan lain sebagainya.

Tim CFD dipimpin Ferdi Saepulah dan beranggotakan Filo Sofia Kamila Mukmin, Ahmad Imam Fatoni, Hafiz Salam, dan Naufal Allam Gani Atmojo.

Ferdi Saepulah mengatakan, inovasi CFD ini berawal dari berita terkini asap kebakaran hutan yang dihadapi warga pulau Kalimantan dan Sumatera. Asap kebakaran yang berbahaya bagi kesehatan tersebut menjadi fokus dari tim. Merasa bahwa masker yang berada di pasaran kurang efektif dalam menyaring kadar CO2 yang berbahaya.

"Dari sini kami berfikir untuk membuat alat semacam masker, tapi lebih bisa menyaring CO2 yang berbahaya bagi pernapasan," ungkap mahasiswa kelahiran 1999 ini.

Ferdi Saepulah mengklaim karya timnya ini berbeda dengan masker biasa yang hanya menahan partikel padatan yang ada di udara. Padahal ada juga partikel seperti karbondioksida (CO2) yang berbahaya jika terhirup terlalu banyak oleh manusia, sehingga darah akan sulit untuk mengirimkan oksigen ke seluruh bagian tubuh.

CFD menggunakan prinsip pengontakan udara kotor dengan larutan kapur. "Kalsium (Ca) akan mengikat dengan CO2 menjadi endapan Kalsium karbonat (CaCO3). Alat CFD ini efektif menurunkan CO2 hingga 38 persen (satuan ppm),” klaim Ferdi Saepulah.

Inovasi CFD ini cukup terjangkau dan efektif. Kelebihan utama dari inovasi tim ini ialah low cost with high efficiency. Alat tim ini dibuat dengan mengutamakan pembersihan CO2 dari udara dengan teknik yang bisa dilakukan pada seluruh kondisi.

“Hal ini menuntut agar mudah diproduksi, mudah dipahami teknik penggunaannya, dan bahan dasar mudah ditemukan,” ungkap mahasiswa Teknik Kimia ITS ini.

Hebatnya, inovasi CFD ini berhasil meraih penghargaan perunggu dalam ajang International Invention and Innovative Competition (INIIC) Series 2 2019 di Palace of The Golden Horses, Selangor, Malaysia, Sabtu, 2 November 2019 lalu.

Keberhasilan tersebut, diakui Ferdi Saepulah, tak luput dari kinerja tim yang maksimal dan pembagian kerja yang efektif. Pemilihan anggota yang berlatar belakang angkatan yang berbeda-beda menjadi salah satu trik. Tim ini memiliki anggota dari angkatan 2019, 2018, hingga 2017.

Penulis : Pita Sari

Editor : Yasmin Fitrida

Bagikan artikel ini

Berita terkait:

26 Jul 2020 14:11 WIB

CFD di Banyuwangi Dibuka Lagi dengan Protokol Kesehatan Ketat

Jawa Timur

CFD akan kembali ditutup bila masyarakat membandel

05 Jul 2020 11:55 WIB

Anies Baswedan Ganti Nama CFD Jadi Kawasan Pesepeda

Nasional

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan  mengganti istilah car free day (CFD).

21 Jun 2020 01:00 WIB

CFD Jakarta Dibuka Lagi

Nasional

Car free day dibuka lagi, trek pejalan dan pelari dipisah.

Lihat semua

Topik Lainnya

Temukan topik menarik lainnya.

Tirto.ID
Loading...