Prosesi pemakaman KH Maimoen Zubair. (Foto: Istimewa)

Cerita Rizieq: Salah Lubang Hingga Isyarat Meninggalnya Mbah Moen

Nasional 10 August 2019 13:45 WIB

Berada di lubang yang salah saat pemakaman KH Maimun Zubair dibenarkan oleh Habib Rizieq Syihab. Menurut Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) itu, dirinya semula menunggu di gerbang utama pemakaman Al Ma'la, namun jenazah Mbah Moen ternyata masuk lewat pintu lainnya.

"Kita nunggu di situ, kemudian salat jenazah di situ. Jadi awalnya kita udah datang awal, kita sudah datang. Kita salat zuhur di Masjid Syajarah. Tahu-tahu ada kabar jenazah dibawa dari pintu Jafariah, nah saat itu crowded, jenazah dari sini jemaah dari sini," kata Rizieq saat bersilaturahmi dengan keluarga Mbah Moen seperti dikutip dari akun YouTube FrontTV, Sabtu, 10 Agustus 2019.

Saat itu, Rizieq mengaku dirinya berada di dekat liang lahat yang salah. Rizieq mengira tempat di mana Mbah Moen akan dimakamkan di lubang itu. Rizieq baru tersadar jika salah ketika diingatkan Sayyid Abdillah.

"Sayyid Abdillah bilang bukan ini, lubangnya sebelah sana. Akhirnya kita ke lubang yang satunya lagi. Alhamdulillah semua jadi tepat waktu," ujarnya.

Menurut Rizieq, sudah menjadi kewajiban setiap muslim Indonesia yang berada di Mekah untuk mensalati dan ikut menghormati pemakaman Mbah Moen. Apalagi Mbah Moen adalah ulama besar Indonesia.

"Itu kewajiban kita semua, wajib kita yang ada di Mekah, begitu mendengar meninggalnya Mbah Maimun, kita peduli, kita datangi, kita salati, kita doakan, jadi nggak boleh kita nggak peduli karena beliau adalah ulama besar," ujarnya.

Sementara itu, Rizieq berada di lubang yang salah awalnya diungkapkan oleh Duta Besar Indonesia untuk Arab Saudi, Agus Maftuh Abegebriel. "Saya lihat MRS (Muhammad Rizieq Syihab) memang hadir sejak awal dan berkerumun di lubang yang salah," kata Agus Maftuh.

Dalam kesempatan yang sama, Rizieq juga mengaku melihat adanya sebuah isyarat pada malam sebelum meninggalnya Mbah Moen. Saat itu, kata Rizieq terjadi rintik hujan yang berbeda dari hujan biasanya.

"Pada malam wafatnya beliau itu, ana di sini di rumah masih belum tidur sampai subuh, kita lihat hujan. Ana sempat lihat, buka jendela lihat hujan, kok hujannya beda," kata Rizieq.

Menurut Rizieq, udara ketika hujan saat Mbah Moen meninggal terasa sangat sejuk. "Biasanya hujan di sini berdebu, ada angin keras, tapi ini hujan tenang hawanya sejuk, nggak ada angin, tahu-tahu jam 4 pagi guru kita meninggal dunia. Ana pikir itu juga isyarat dari Allah akan kembalinya seorang yang mukhlis yang terbaik," kata dia.

Penulis : Rohman Taufik

Editor : M. Anis

Bagikan artikel ini

Berita terkait:

24 Feb 2020 04:22 WIB

Mars Syubbanul Wathan, Jati Diri Kaum Santri

Cethe Gus Staquf

Catatan khusus Gus Yahya tentang Nasionalisme dan Santri

19 Feb 2020 06:31 WIB

Santri Menikmati Duren, Begini Mbah Moen Memanfaatkan Waktu

Humor Sufi

Kisah humor sekaligus sufistik

19 Feb 2020 06:06 WIB

Tunaikan Ibadah Umrah, Ini Doa Gus Mus di Multazam

Khazanah

Doa khusus untuk Indonesia dan umat Islam sedunia.

Lihat semua

Topik Lainnya

Temukan topik menarik lainnya.