Soekarno, Presiden RI pertama, selalu memesona dengan kopiah beludru. foto:dokumen/google

Kopiah, Satu Cerita Banyak Kisah (1)Ada Cerita Kopiah Ditukar Cengkeh Maluku

14 Jun 2018 12:36

Lihat versi non-AMP di Ngopibareng.id

Sesok wis bakdan. Bakdan itu istilah tradisional untuk Hari Raya Lebaran. Sebagian orang masih menggunakan istilah itu. Sebagiannya lagi tak punya perberdahaan kata ini. Sebentar lagi pasti juga raib dari perbendaharan tradisi. Ya sudahlah. Tidak apa-apa. Zaman memang begitu, bergerak dengan “algoritma” sendiri.

______________

Umumnya, bakdan lekat dengan dengan sesuatu yang baru. Baju baru, sandal baru, koko baru, sajadah baru, sarung baru, peci baru atau kopiah baru. Hanya dompet dan sempak dalam saja yang mungkin tidak baru. Karena memang letaknya yang tak pernah tampil dominan.

Iyalah, memang begitu, tak apa-apa. Kita ngomongin kopiah saja ya, biar ringan. Meski letaknya paling atas, di kepala, benda satu ini cukup jarang diomongkan. Padahal setiap saat juga nyading di dekat kita. Perajinnya juga makin banyak. Dan anggap saja tulisan ini adalah bagian dari promosi untuk urusan perkopiahan.

Begini: KOPIAH adalah tutup kepala yang terbuat dari beludru. Warna gelap dan tingginya 6 sampai 12 sentimetir saja. Bukan asli Indonesia sebenarnya, tapi merupakan modifikasi bentuk antara torbus Turki dengan peci India.

Kopiah di beberapa daerah punya nama lain di antaranya songkok dan peci. Dalam perkembangannya Kopiah menjadi cukup identik dengan masyarakat Islam di nusantara terutama kalangan pesantren.

Kopiah dalam agenda para tokoh Indonesia. Ilustrasi/foto:songkok.co

Di zaman para wali, zaman Sunan Giri di Gresik, kopiah sudah dikenal. Menurut catatan, santri Sunan Giri yang berasal di berbagai wilayah nusantara sudah memakainya. Salah seorang santrinya yang asal Maluku bahkan suka memakainya untuk pulang kampung. Kampung Hitu namanya, di dekat Kota Ambon. Santri tersebut suka meninggalkan kopiahnya untuk kemudian ditukar dengan cengkeh Maluku. Maka antara kopiah dan cengkeh saling bertukar dan masing-masing akhirnya menjadi komoditas.

Tidak begitu pasti tahunnya, Kopiah juga menyebar ke kalangan masyarakat Melayu di Malaysia, muslim Singapura, dan Thailand. Dalam kesusteraan Melayu lama kopiah juga telah disebut dalam Syair Siti Zubaidah yang dicipta tahin 1840. Disebutnya bukan kopiah tetapi songkok.  “…berbaju putih bersongkok merah….”. Songkok akan dipakai sebagai pelengkap baju adat Melayu yang dipakai untuk menghadiri pertemuan-pertemuan penting. Sementara di Nusantara, kopiah menjadi banyak fungsi. Kopiah menjadi resmi ketika menghadiri upacara-upacara seperti perkawinan, upacara keagamaan, upacara kenegaraan.

Jika di zaman Sunan Giri ada santri, di zaman sudah menjadi Indonesia kopiah melekat sangat melekat pada diri Bung Karno. Proklamator sekaligus presiden pertama RI itu adalah tokoh besar sesungguhnya dalam cerita kopiah. Bung Karno-lah yang membuat kopiah menjadi amat terkenal, juga menjadi identitas baru bagi masyarakat Indonesia hingga kini. Identitas nasional.

Maka, ketika ada orangbepergian ke luar negeri dan memakai kopiah hitam, pastilah itu adalah orang Indonesia. Padahal, itu belum tentu 100 persen benar.

Memakai kopiah ketika melakukan ibadah shalat adalah kebiasaan yang telah umum. Kalangan santri yang menularkannya. Pesantren malah mewajibkan tidak hanya kalangan santri tapi pemeluk Islam pada umumnya untuk selalu memakai tutup kepala yang digunakan sebagai bentuk kewiraian atau kezuhudan seseorang. Atau minimal sebagai bentuk kelaziman.

Kitab Ta’limulmuta’alim misalnya, sangat menekankan untuk selalu memakai tutup kepala dalam kehidupan. Oleh pesantren tidak diterjemahkandalam bentuk sorban atau tutup kepala lainnya, tetapi diwujudkan dalam bentuk kopiah. Di zaman nabi, kebiasaan Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya, baik dalam sholat, maupun di luar sholat, mereka senantiasa mengenakan imamah (surban), burnus (penutup kepala yang bersambung dengan pakaian).

Ada bermacam bentuk dan warna kopiah. Ada hitam, putih, dan warna-warni. Kopiah putih identik dengan kopiah haji. Ini biasanya sebagai identitas kiai. Sementara mereka yang hanya santri hanya makai kopiah berwarna hitam.

Ada kesepakatan tidak tertulis bahwa bagi santri atau orang Islam yang belum menunaikan ibadah haji tidak diperkenankan memakai kopiah haji. Karena itu bila ada orang belum haji tentu sangat malu dan dicela ketika memakai kopiah haji warna putih. Mereka harus tahu adat dan tetap mengunakan kopiah hitam.

Berkopiah massa. foto:gresik.go.id

Pada awal pergerakan Nasional 1908, para aktivis masih memakai destar dan tutup kepala blangkon. Ini lebih dekat ke tradisi priyayi dan aristokrat. Tetapi seiring dengan meluasnya gerakan sama rata sama rasa dan penolakan terhadap feodalisme termasuk dalam berpakaian dan berbahasa.

Tjokroaminoto aktivis Sarekat Islam (SI) berupaya membuat gerakan identitas baru. Sehari-hari Cokro menakai tradisi memakai kopiah. Dengan sendirinya penampilan tokoh idola yang selalu berkopiah itu menjadi anutan kaum pergerakan baik yang santri dan kalangan priyayi. Apalagi para murid Cokro sendiri termasuk Soekarno yang dulunya masih memakai blangkon juga memakai kopiah.

Sejak saat itu kopiah yang semula merupakan tradisi pesantren dijadikan sebagai songkok nasional atau kopiah nasional, sebagai identitas nasional yang dipelopori oleh kaum pergerakan. Sebagai orator yang ulung Soekarno tampil sebagai peraganya sendiri. Tampil sangat prima dan memesona, karena itu para aktivis dan priyayi mulai menggunakan kopiah tidak hanya sebagai simbol islamisme tetapi juga sekaligus sebagai simbol patriotisme dan nasionalisme.

Pada Muktamar NU ke 10 di Banjarmasin, NU mulai sangat aktif melibatkan diri dalam merespon perkembangan dunia luar baik nasional maupun internasional. Saat itu NU mengakui adanya Nasionalisme Hindia Belanda, dan pada saat yang sama membolehkan warganya untuk memakai pantalon, asal masih memakai kopiah, agar identitas kesantriannya masih tampak, sehingga masih bia dibedakan dengan kolonial Belanda.

Kaum pergerakan yang dalam acara resmi baik rapat maupun perundingan selalu memakai peci. Kebiasaan itu berkembang menjadi kelaziman yang tidak pernah ditinggalkan, karena itu bila ada ada tokoh yang tidak memakai kopiah pasti menjadi rasanan para aktivis lainnya. Ketika Muhammad Hatta mewakili Indonesia dalam Konfrensi Meja Bundar di Den Hag, 27 desember 1949, Hatta digunjing oleh para aktivis lainnya sebagai blootshoofd (tanpa kopiah), sehingga ciri khas Keindonesiaannya tidak ditampilkan, yang diharapkan bisa memberi garis tegas antara nasionalisme dan kolonialisme. (widikamidi/bersambung)