Arif Afandi (foto istimewa)

Cerita di Awal Penyebaran Covid Surabaya

Arif Afandi 13 May 2020 03:35 WIB

Sebagai Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kota Surabaya, saya pernah diundang Pemkot untuk rapat koordinasi pencegahan Covid-19. Itu terjadi di awal penyebaran Covid-19 di kota kita tercinta ini.

Karena begitu pentingnya acara itu, saya pun hadir sendiri dalam rapat yang berlangsung di Ruang Sawunggaling. Inilah kali pertama saya menginjakan kaki di ruang itu setelah 10 tahun meninggalkan Balaikota.

Kehadiran saya ini juga sebagai balasan karena sebelumnya Bu Wali Tri Rismaharini bersedia hadir di acara pelantikan pengurus DMI Kota Surabaya oleh Jusuf Kalla. Kehadiran Bu Wali yang membuat surprise ratusan takmir masjid di Surabaya.

Rapat yang dipimpin Bu Wali itu menghadirkan semua Forum Pimpinan Daerah Kota Surabaya dan semua stake holder Pemkot. Mulai dari kalangan pengusaha sampai dengan ormas keagamaan. Juga semua kepala dinas.

Setiap yang hadir mendapat satu botol pokak, 5 lembar masker, dan botol hand sanitizer. Beberapa instansi mendapatkan satu jerigen disinfektan bikinan Pemkot.

Pada saat itu, Bu Wali memaparkan langkah-langkah Pemkot dalam pencegahan dan penanganan Covid-19. Mulai langkah mengatasi disinfektan yang terbatas, rencana membuat dapur umum, dan membagi hand sanitizer ke puluhan ribu ojol.

Berkali-kali ia juga menegaskan kalau kota Surabaya tak akan melakukan lockdown. Kebetulan, saat itu, masih gencar tekanan kepada pemerintah untuk mengambil pilihan lockdown atau karantina wilayah untuk memutus mata rantai pandemi.

Saya mengapresiasi langkah-langkah yang gercep itu. Apalagi diceritakan juga bagaimana para pegawai Pemkot berhari-hari lemburan untuk membuat pokak dan disinfektan yang akan dibagi-bagi ke masyarakat.

Di akhir pertemuan dibukalah tanya jawab. Saya pun mengacungkan tangan untuk ikut urun rembug. Kebetulan, dua hari sebelumnya, atas inisiatif sendiri saya datang ke klinik khusus Covid-19 RS Unair untuk test swab.

Namun, karena yang antre banyak dan lama, saya batal melakukan test Covid secara mandiri. Sebetulnya saya diberi ruang untuk melalui jalur khusus oleh Pak Rektor Unair untuk dapat layanan test. Namun, melihat antrean warga yang banyak saya nggak tega menggunakan privilege itu.

Nah, dalam rapat koordinasi di Pemkot itu, saya mengusulkan kepada Bu Wali agar Pemkot juga menyediakan klinik khusus di RS Soewandhi dan BDH untuk membuka layanan swab untuk warga yang menginginkan.

Atas usul saya itu, Bu Wali tidak menjawab langsung. Ia hanya menjelaskan bahwa RS Rujukan Covid itu ditentukan pemerintah Pusat. Ada 15 RS di Surabaya yang ditunjuk. Saya lupa apakah 2 RS milik Pemkot tersebut juga menjadi salah duanya.

Selain soal layanan test Covid, saya sempat menyampaikan keluhan teman-teman RSUA mengenai keterbatasan APD dan tenaga medis yang menangani virus yang telah mewabah ke seluruh dunia ini. Juga keluhan mereka akan banyaknya warga yang minta test setelah Bu Wali mengumumkan gratis test untuk warga Surabaya.

Sebagai Ketua DMI Surabaya, saya juga menawarkan kemungkinan bekerjasama dengan Pemkot untuk penyemprotan disinfektan masjid dan musholla. "Kami sudah melakukan Pak Arif. Tapi baru atas inisiatif pribadi dan dana pribadi," kata Bu Wali.

Singkat kata, Bu Wali sebetulnya sudah gercep dalam mengantisipasi penyebaran Covid di wilayahnya. Sayang langkah gercep itu tak berkelanjutan. Bahkan sempat kebobolan dengan adanya cluster baru yang menghebohkan.

DMI Surabaya pun berpartisipasi untuk membantu Pemkot dengan penyemprotan disinfektan di sejumlah masjid. Tentu tidak bisa massif karena keterbatasan dana yang bisa digalang DMI. Juga membagi sembako ke sejumlah marbot dan terdampak lainnya.

Entah mengapa langkah gercep Pemkot di awal ini tak berlanjut hingga Surabaya memerah sekarang ini. Malah yang terjadi di permukaan saling berbantah dengan pemangku kebijakan di atasnya.

Ayo Bu Wali gercep lagi. Biar Surabaya jadi percontohan sukses dalam perang melawan Corona. Saya yakin banyak warga yang masih berharap demikian. Bukan hanya saya.

Menyelamatkan nyawa warga harus menjadi prioritas utama. Setelah itu baru melangkah ke recovery ekonomi yang diakibatkan pagebluk yang membikin banyak pihak jembuk ini.

Penulis : Arif Afandi

Editor : Moch. Amir

Bagikan artikel ini

Berita terkait:

03 Jun 2020 20:16 WIB

Tiga Hari Tak Ada Tambahan Kasus Corona Anak di Surabaya

Kesehatan

Dalam tiga hari ini tidak ada tambahan kasus corona anak di Surabaya.

03 Jun 2020 20:02 WIB

Saat New Normal, BLT Kemensos Dipotong Rp300 Ribu

Jawa Timur

Nominal BLT semula Rp 600.000 menjadi Rp 300.000.

03 Jun 2020 19:45 WIB

23 ASN asal Jombang yang Dilantik di BKD Jatim Non-Reaktif

Jawa Timur

Para peserta pelantikan asal Jombang jalani rapid test

Lihat semua

Topik Lainnya

Temukan topik menarik lainnya.

Tirto.ID
Loading...