Ilustrasi: Fa Vidhi/ngopibareng.id

Cerita Angka Corona

Ajar Edi 14 April 2020 10:36 WIB
Ujar Ajar

Angka tak pernah berbohong. Angka bisa bercerita apa yang sebenarnya terjadi. Semisal, tentang beberapa besar keberpihakan kita.

Pandemi Corona, memberikan banyak angka. Kita mulai dari hal yang tak jauh dari kita. Seputaran Asia Pacific saja, bagaimana tiap negara menanganinya.

Kita mulai dari angka hal positif. Tentang paket stimulus ekonomi yang dikucurkan tiap negara. Untuk menghadapi Corona ini tentu saja.

Kita mulai dari Indonesia. Presiden Joko Widodo menganggarkan, USD 24 milliar. Sekitar 2.5 persen dari produk domestik bruto (PDB).

Uang itu untuk stimulus seluruh negeri. Jumlah penduduk Indonesia sebanyak 268 juta jiwa per 1 Juli 2019. Sedangkan jumlah penderita Covid 19 per 13 April mencapai 4.557 orang.

Sepertinya, anggaran stimulus ekonominya terlihat sudah banyak. Namun, mari kita tenggok para negara jiran kita. Angkanya bervariasi.

Singapura menyiapkan USD 38 milliar. Sekitar 11 persen dari PDB. Jumlah penduduknya hanya 5,6 juta jiwa. Sedangkan yang sakit Covid 19 per 8 April lalu sebanyak 1623 jiwa.

Terlihat dari perbandingan jumlah penduduk dan uang untuk antisipasinya, jelas nilainya lebih tinggi dari negara kita. Padahal jumlah penduduk itu, hanya separuh warga Jakarta yang mencapai 10,4 juta jiwa pada 2018.

Ternyata, angka dari Malaysia lebih fantastis: USD 68 milliar. Nilainya 17 persen dari PDB. Jumlah penduduknya 33, 2 juta. Per 8 April lalu, penderita Covidnya 4119 orang.

Coba kita agak menjauh sedikit. Kita ke negara ginseng. Korea menyediakan uang sebesar USD 200 miliar untuk paket stimulusnya. Sekira 6,5 persen dari PDB.

Jumlah penduduknya 51,4 juta jiwa. Per 13 April lalu penderita Covid Menembus angka 10.537. Tentu saja, karena pelaksanaan rapid test di Korea, jumlah penderita yang terdeteksi tinggi.

Namun dari anggaran stimulus itu, terlihat level keseriusan tiap negara menghadapi pandemi ini. Oh ya, negaranya Presiden Donald Trump menggelontorkan anggaran US$ 2,1 triliun. Sekira 10,5% dari PDB.

Sedangkan saudara tua kita, Jepang, mengumumkan paket stimulus yang bunyinya triliun Dolar. Karena lebih dari US$ 1 triliun. Sekira 20% dari PDB.

Walau anggaran kita cuma 2,5 persen dari PDB, mohon jangan dibilang kita tidak serius. Terbaru, Presiden Joko Widodo menetapkan Covid 19 sebagai bencana Nasional. Itu bukti keseriusan nyata.

Demi urusan uang stimulus itu, bahkan pemerintah telah menerbitkan Global Bond. Nilainya sebesar US$ 4,3 miliar. Bentuknya berupa surat berharga global yaitu Surat Berharga Negara (SBN) seri RI1030, RI 1050, dan RI0470.

Surat utang ini terbesar yang pernah dikeluarkan dalam sejarah berdirinya Indonesia. Di negara Asean, yang berkena Covid 19, Indonesia jadi negara pertama.
Tentu ini salah satu pencapaian gemilang. Karena kita berhasil mencetak sejarah. Menjadi yang pertama tentu tidak bisa dikalahkan.

Nah, kenapa kita berhutang? Alasan sederhana, ya sama seperti kita saja. Pas butuh sesuatu, tapi kita tak punya uang. Ya, terpaksa berhutang. Pinjam ke tetangga, saudara, koperasi, atau ke bank.

Tentu ada bunga yang harus tanggung. Yang nanggung global bond itu, anak cucu kita nanti kok. Jadi jangan dipikirkan sekarang.

Tapi, sekali lagi, pilihan ini dilihat sebagai bukti keseriusan pemerintah. Untuk melawan Covid 19. Mohon jangan nyinyir ya.

Nah urusan nyinyir ini, mohon disingkirkan jauh-jauh. Ingat, perasaan positif dan gembira adalah sejatinya obat pandemi ini. Lha, vaksinnya saja belum ketemu.

Jadi selain gembira tadi, obatnya tetap membatasi gerak. Tak perlu ke luar rumah kalau tidak perlu banget. Jangan menambahi jumlah pasien.

Sebab, kalau pasien makin banyak, nanti pemerintah harus hutang lagi. Jadi, mari bantu pemerintah. Tinggal di rumah saja.

Tentu saja, tetap beribadah, tetap olahraga, serta istirahat yang cukup. Kecuali kita bagian dari mantan penderita, terus sudah sembuh. Sehingga tubuh kita sudah punya imun alami atas Covid 19 ini.

Kita kuat-kuatan, sampai vaksinnya ditemukan dan bisa dipakai untuk manusia. Tak percaya? Lho pemberitaan kembali ramai lagi di China.

Karena muncul pasien baru Covid 19. Ditemukan lebih dari 100 pasien. Padahal, dulu kesuksesan China, adalah dengan Ilmu Wuhan. Ilmu mengisolasi kota secara maksimal.

Namun, saat semua kehidupan pelan-pelan kembali menjadi normal, ada kemungkinan virus ini masuk lagi. Tanpa kita sadari. Menyusup menjangkiti kita lagi.

Untuk mencapai kondisi masyarakat mengalami imun alami, tentu dibutuhkan lebih banyak yang dijangkiti. Tapi tentu ada prasyaratnya, terutama kondisi kesehatan yang bagus.

Kalau yang kena adalah orang tua, atau orang yang sudah punya penyakit bawaan, atau anak kecil, ceritanya bisa berbeda. Korban meninggal bisa berjatuhan. Mirip seperti di Italia.

Bahkan, yang makin bikin pusing tujuh keliling, peneliti juga sudah menemukan, virus Corona beranak pinak. Sudah ada beberapa varian turunannya. Bisa jadi di tiap negara, jenis virus Corona berbeda.

Artinya, dia sudah beradaptasi. Bisa menurunkan generasi virus yang lebih kuat. Tentu saja, kita juga harus beradaptasi. Meningkatkan imun tubuh kita.

Lantas bagaimana dengan cara Indonesia beradaptasi? Tambah hutang lagi? Tentu tidak.

Kita bisa belajar dari kesuksesan negara lain. Tentu tiap negara ada konteks masing-masing. Taiwan bisa dijadikan contoh. Penggunaan big data jadi alat utama.

Atau tak perlu jauh-jauh, kita belajar dari negara tetangga. Bisa conference call dengan Gugus Tugas Covid di Vietnam. Bagaimana protokol secara ketat dilaksanakan.

Tentu saja, pegalaman kesuksesan itu bisa diaplikasikan di dalam negeri. Satu yang sederhana, adalah kembali ke khitah bangsa. Tolong menolong dan gotong royong.

Bila ada tetangga atau warga satu desa yang kena, tak perlu memandang suku atau agama. Bantulah sebisanya. Dilingkungan terkecil, seperti RT, bikin protokol sederhana.

Berbagi informasi yang positif. Saling mengingatkan. Tak perlu lagi penolakan atas jenazah penderita Covid saat dimakamkan. Baik itu petugas kesehatan atau warga biasa.


Tolong menolong adalah obat dalam menghadapi kondisi yang menantang ini. Simpati dan empati adalah oase. Oh ya, termasuk tolong menolong dalam memberi pinjaman.

Ajar Edi, kolomnis Ujar Ajar

Penulis : Ajar Edi

Editor : Riadi

Bagikan artikel ini

Berita terkait:

12 Aug 2020 21:50 WIB

18 Agustus, Jawa Timur Uji Coba Buka Sekolah SMA/SMK

Pendidikan

Zona orange 50 persen, zona kuning 25 persen.

12 Aug 2020 21:35 WIB

Khofifah dan Gus Ipul Lakukan Pertemuan “Empat Mata“ di Grahadi

Reportase

Pertemuan paling intens setelah Pilgub Jatim 2020.

12 Aug 2020 21:20 WIB

Mayat Tak Utuh Ditemukan di Sungai Sekarputih Probolinggo

Jawa Timur

Badan badan mayat terpisah di dua sungai berbeda.

Lihat semua

Topik Lainnya

Temukan topik menarik lainnya.

Tirto.ID
Loading...