Dr Dra Enny Zulaika M P saat menunjukan penelitiannya mengenai beton ramah lingkungan. (Foto:istimewa)
Dr Dra Enny Zulaika M P saat menunjukan penelitiannya mengenai beton ramah lingkungan. (Foto:istimewa)

Dosen ITS Kembangan Bakteri yang Bertugas Jahit Dinding Retak

Ngopibareng.id Teknologi dan Inovasi 27 January 2020 20:38 WIB

Dosen Departemen Biologi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Dr Dra Enny Zulaika M P membuat inovasi beton ramah lingkungan dengan menambahkan bakteri karbonoklastik dalam adonan beton.

Inovasi ini bermula dari masalah keretakan dinding yang banyak ditemui di rumah-rumah warga, akibat produksi beton yang kurang kuat.

"Kalsium karbonat yang ditambahkan pada beton inilah yang nantinya akan bekerja mencegah keretakan pada dinding," kata Enny.

Dosen yang akrab disapa Enny ini menjelaskan, bakteri karbonoklastik menghasilkan karbonat dalam bentuk kristal. Di antaranya adalah kalsit, vaterit, dan aragonit. Kristal-kristal tersebut nantinya akan menjahit sendiri saat ada dinding yang retak.

"Kristal kalsit merupakan kristal yang paling baik di antara dua kristal lainnya. Hal tersebut karena bentuk kristal kalsit dinilai stabil. Kestabilan bentuk kristal kalsit inilah yang membuatnya sangat baik untuk menjahit keretakan pada dinding. Kristal kalsit juga berfungsi untuk memperkuat beton," jelasnya.

Gambar kristal kalsit vaterin dan arogonit FotoistimewaGambar kristal kalsit, vaterin, dan arogonit. (Foto:istimewa)

Bakteri karbonoklastik sendiri diambil dari daerah pengunungan kapur. Menurutnya, kapur merupakan bahan dasar pembuatan semen, sehingga bakteri yang berasal dari daerah kapur dapat mudah beradaptasi.

"Saya sengaja mengambil dari pegunungan kapur agar bakteri mudah beradaptasi dengan bahan baku semen lainnya," ungkapnya.

Enny menyebutkan, ada tiga pegunungan kapur di Jawa Timur yang dipilihnya. Di antaranya adalah Gua Akbar di Tuban, Tambang Kapur Suci di Gresik, dan Bukit Jaddih di Bangkalan.

Lokasi-lokasi tersebut dipilihnya, karena butuh bakteri yang berasal dari lingkungan ekstrem.

"Beton dengan tambahan bakteri karbonoklastik ini memiliki kelebihan dibanding beton pada umumnya. Selain ramah lingkungan, ternyata dalam proses pembuatannya juga tidak membutuhkan biaya yang mahal," tuturnya.

Enny berharap setelah penelitiannya selesai, beton dengan kandungan bakteri ini dapat membantu orang-orang teknik untuk mengatasi dan mencegah masalah keretakan pada dinding.

"Saya harap penelitian ini segera selesai dan bisa diimplementasikan agar dapat dirasakan manfaatnya," tutupnya.

Penulis : Pita Sari

Editor : Dyah Ayu Pitaloka

Bagikan artikel ini

Berita terkait:

02 Mar 2021 17:19 WIB

Pemancing Tenggelam Ditemukan Mengambang di Laut Selatan

Jawa Timur

Korban tersapu ombak besar saat berusaha menangkap ikan.

02 Mar 2021 17:15 WIB

Waspada, Virus Corona asal Inggris Ada di Indonesia

Nasional

Kemenkes umumkan dua virus B117 asal Inggris.

02 Mar 2021 17:00 WIB

PCNU Banyuwangi Apresiasi Pencabutan Perpres Legalisasi Miras

Nasional

PCNU Banyuwangi apresiasi kepekaan Presiden Jokowi.

Lihat semua

Topik Lainnya

Temukan topik menarik lainnya.

Tirto.ID
Loading...