Ketua Umum PBNU Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj, MA saat memberi keterangan pers. (Foto: pbnu)

Cacat Demokrasi Amerika, PBNU: Indonesia Tak Perlu Membebek AS

Internasional 05 June 2020 18:28 WIB

Ketua Umum PBNU Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj, MA menegaskan, demokrasi di Amerika Serikat mengalami cacat. Karena itu, Indonesia tidak perlu membebek negeri Paman Sam itu, untuk membangun demokrasi yang selaras dengan jati diri dan karakter bangsa Indonesia.

Hal itu diungkapkan Kiai Said Aqil, dalam keterangan Jumat, 5 Juni 2020, menyikapi kondisi sosial di Amerika Serikat. Aksi unjuk rasa atas meninggalnya George Floyd meluas ke berbaragi penjuru Amerika Serikat. Sebanyak 25 kota di 16 negara bagian telah memberlakukan jam malam

Lebih lanjut dijelaskan Kiai Said Aqil, terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden Amerika ke-45 telah menguak borok demokrasi Amerika yang selama ini tampil bak ‘polisi’ demokrasi dunia. Kampanye ‘hitam’ Trump di musim kampanye Pilpres AS yang rasis, yang menunjukkan sentimen negatif terhadap imigran kulit warna dan kaum Muslim, telah menabung bara api yang meledak dalam kerusuhan rasial sekarang.

"Demokrasi Amerika tengah sekarat karena menghasilkan pemimpin konservatif yang menyeret demokrasi ke titik anti-klimaks dengan retorika-retorika politik iliberal yang selama ini dimusuhinya," kata Kiai Said Aqil Siroj.

Menurut Kiai Said, perubahan haluan yang drastis dari presiden yang diusung Partai Demokrat (Obama) ke presiden yang diusung Partai Republik (Trump) menunjukkan fondasi demokrasi Amerika tidak sekokoh seperti yang didengung-dengungkan.

Diskriminasi rasial dan kesenjangan ekonomi telah menjadi cacat bawaan seperti telah disinggung oleh Gunnar Myrdal sejak 1944 dalam bukunya An American Dilemma. Demokrasi Amerika akan terus dihantui oleh pertarungan abadi antara ide persamaan hak dan prasangka rasial.

"Keyakinan Myrdal bahwa pada akhirnya demokrasi akan menang atas rasisme tidak terbukti sampai sekarang. Diskriminasi atas warga Afro-Amerika telah memicu kerusuhan rasial yang terus berulang hingga 11 kali dalam setengah abad sejak 1965," tutur Kiai Said Aqil Siroj.

Ketua Umum PBNU Prof Dr KH Said Aqil Siroj MA saat memberi keterangan pers Foto pbnu Ketua Umum PBNU Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj, MA saat memberi keterangan pers. (Foto: pbnu)

Keadilan, persamaan hak, pemerataan, dan perlakuan tanpa diskriminasi terhadap seluruh kelompok masyarakat merupakan nilai-nilai demokrasi yang gagal dicontohkan Amerika. Standar ganda yang sering digunakan Amerika dalam isu HAM, perdagangan bebas, dan terorisme menunjukkan wajah bopeng demokrasi yang tidak patut ditiru.

"Nahdlatul Ulama (NU) memandang bahwa demokrasi masih merupakan sistem terbaik yang sejalan dengan konsep syûrâ di dalam Islam. Namun, NU menolak penyeragaman demokrasi liberal ala Amerika sebagai satu-satunya sistem terbaik untuk mengatur negara dan pemerintahan," kata Kiai Said Aqil Siroj.

PBNU mengingatkan, Indonesia tidak perlu membebek Amerika dan negara manapun untuk membangun demokrasi yang selaras dengan jati diri dan karakter bangsa Indonesia.

"Demokrasi yang perlu dibangun tetap harus berlandaskan pada prinsip musyawarah-mufakat dalam politik dan gotong royong dalam ekonomi. Demokrasi yang sejalan dengan penguatan cita politik sebagai bangsa yang nasionalis-religius dan religius-nasionalis," kata Kiai Said.

Menurutnya, Nahdlatul Ulama memandang bahwa kejadian kerusuhan rasial di Amerika saat ini perlu menjadi bahan refleksi serius agar peristiwa serupa tidak terulang di negara mana pun.

Seperti diketahui, Amerika Serikat sedang memanas. Aksi unjuk rasa atas meninggalnya George Floyd meluas ke berbaragi penjuru Amerika Serikat. Sebanyak 25 kota di 16 negara bagian telah memberlakukan jam malam, sebagian diantaranya bahkan diperpanjang hingga Senin 1 Juni pagi waktu setempat.

Bahkan, di kota Chicago, pusat distrik bisnis dan area downtown Loop ditutup Pemerintah Kota dan hanya dapat diakses pemilik bisnis dan warga yang tinggal di kawasan tersebut. Sementara di Minnesota, aparat menutup seluruh akses jalan tol.

Aksi protes tercatat terus berlanjut sejak hari Minggu 31 Mei hingga Senin dini hari di beberapa kota di Midwest, khususnya Chicago, Minneapolis dan St. Paul, meskipun telah diberlakukan perintah jam malam.

Seperti pada hari-hari sebelumnya, aksi demonstrasi dimulai dengan damai pada sore harinya, namun berubah menjadi aksi anarkis di malam hari dan berlanjut hingga pagi dini hari.

Penulis : Riadi

Bagikan artikel ini

Berita terkait:

11 Jul 2020 11:45 WIB

Logo Partai Gerindra Diganti Lobster, Ini Kata Susi Pudjiastuti

Nasional

Logo Partai Gerindra gambar kepala burung garuda diganti menjadi lobster.

11 Jul 2020 11:45 WIB

Logo Partai Gerindra Diganti Lobster, Ini Kata Susi Pudjiastuti

Nasional

Logo Partai Gerindra gambar kepala burung garuda diganti menjadi lobster.

11 Jul 2020 11:37 WIB

Di Jepang, Naik Rollercoster Dilarang Berteriak

Internasional

Penumpang boleh berteriak tapi di dalam hati.

Lihat semua

Topik Lainnya

Temukan topik menarik lainnya.

Tirto.ID
Loading...