Byuuuur..., Sapi Brujul Melesat Membelah Lumpur

07 Sep 2019 19:14 Jawa Timur

Meskipun sama-sama kerapan sapi, kerapan sapi di Kota Probolinggo ini berbeda dengan di Madura. Kerapan sapi brujul di Kota Bayuangga menggunakan sepasang sapi Peranakan Ongole (PO) dengan medan balapan berupa sawah berlumpur.

Tentu laju sapi brujul yang biasa digunakan membajak sawah itu lebih atraktif karena disertai cipratan lumpur yang tersibak. Tidak hanya joki yang berbasah-basah dan berkotor-kotor dengan air dan lumpur sawah, penonton yang terlalu dekat dengan arena kerapan juga terkena cipratan “tanah air” (lumpur).

Kali ini selama dua hari, Sabtu-Minggu, 6-7 September 2019 kerapan sapi brujul digelar di sebuah persawahan di Jl. KH. Syafii, Kelurahan Jrebeng Kidul, Kota Probolinggo. Kali ini kerapan sapi brujul untuk menyemarakkan even Seminggu di Kota Probolinggo (Semipro) 2019 dan Hari Jadi Kota Probolinggo ke-660.

“Orang Madura bisa bangga dengan kerapan sapi Madura atau sapi merah, orang Probolinggo punya sapi brujul,” ujar Wali Kota Probolinggo, Hadi Zainal Abidin saat membuka kerapan sapi, Sabtu siang.

Sebanyak 50 pasang sapi brujuk berlomba adu cepat di medan berlumpur. “Kami juga bangga sapi brujul sudah diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda (TBTB) milik Kota Probolinggo,” kata Habib Hadi, panggilan akrab wali kota.

SEPASANG sapi melesat di atas lahan berlumpur dalam kerapan sapi brujul di Kota Probolinggo foto Ikhsanngopibarengid
SEPASANG sapi melesat di atas lahan berlumpur dalam kerapan sapi brujul di Kota Probolinggo. (foto: Ikhsan/ngopibareng.id)

Sekadar diketahui, kerapan sapi brujul biasa digelar saat jeda pasca panen hingga menjelang tanam padi. Di awal September ini karena belum turun hujan, sawah yang dijadikan arena kerapan sapi brujul lebih dulu digenangi air melalui saluran irigasi tersier.

Lintasan berlumpur sepanjang 100 meter inilah yang menjadi arena pacuan sapi-sapi PO. Agar semakin bertenaga, pemiliknya sengaja memberika ramuan (jamu) tradisional kepada sapi-sapi kerapnya.

“Agar sapi larinya kencang perlu diberi jamu ramuan tradisional seperti jahe, madu, dan telur ayam kampung,” ujar seorang pemilik sapi kerap.

Awalnya, kerapan sapi brujul merupakan ajang petani bersilaturahmi pasca panen hingga menjelang tanam. Digelar kecil-kecilan di antara komunitas petani yang sedang menggarap sawah. Akhirnya tradisi ini diangkap ke even Semipro agar menjadi sajian wisata.

Belum Sedot Wisatawan
Di luar kerapan sapi brujuk yang atraktif dan eksotik ternyata belum menyedot perhatian wisatawan dari luar daerah. Apalagi wisatawan dari mancanegara, tidak tampak dalam lomba tersebut.

Sebagian besar penonton didominasi warga Kota Probolinggo ditambah sejumlah warga dari Kabupaten Probolinggo. Sebagian penonton merupakan “fans” berat dari tim pasangan sapi kerap yang ikut berlomba.

Guna lebih mengenalkan sapi brujul, Habib Hadi mengusulkan, peringatan Hari Jadi Provinsi Jawa Timur mendatang diwarnai even sapi brujul. “Hari Jadi Provinsi Jatim bisa digelar di Probolinggo dengan disemarakkan kerapan sapi brujul,” katanya.

Sementara, Kepala Bakorwil V Jember Tjahjo Widodo mengapresiasi, baik rencana walikota. “Even kerapan sapi brujul harus diangkat di tingkat regional. Bahkan bukan tidak mungkin bisa ke level internasional dengan mengundang sejumlah wisatawan asing,” katanya.

Penulis : Ikhsan Mahmudi
Editor : Riadi


Bagikan artikel ini