Burung Gosong Kaki Merah berada di sekitar sarang. Foto:Langgeng Arief Utomo
Burung Gosong Kaki Merah berada di sekitar sarang. Foto:Langgeng Arief Utomo
Catatan Perjalanan Ekspedisi Masalembu (2)

Burung Gosong Tak Terjamah Penelitian, Terakhir Diteliti Tahun 1917

Ngopibareng.id Feature 14 July 2018 07:30 WIB

Tahun 1917 Oberholser mendeskripsikan, seorang peneliti, Dr Abbot, pernah menjumpai burung Gosong Kaki Merah di Pulau Masakambing. Tidak di Pulau Masalembu. Jenis yang dijumpai Dr Abbot ini sama dengan jenis Burung Gosong yang dijumpai di Lombok dan Nusa Tenggara Timur.

______________

Pertanyaannya mungkin seperti heboh temuan Ikan Arapaima Gigas yang hidup di Sungai Amazon, Amerika, tahu-tahu muncul berkecipak di Sungai Brantas di Jawa Timur. Kok bisa. Darimana. Melompat dari pesawat? Atau jangan-jangan secara mistis Amazon punya terowongan panjang bawah benua hingga ke Brantas?

Lalu ke Burung Gosong, kenapa Burung Gosong yang tidak bisa terbang itu sampai begitu jauh bermigrasi ke Pulau Masalembu? Lompat dari pesawat, atau dicengekaram Burung Elang dan diewer-ewer hingga ke Masalembu dan tidak jadi dimangsa?

Mengacu pada buku panduan Pengenalan Jenis Burung Jawa-Bali karya Mac Kinnon, memang tidak ada referensi yang cukup mengenai keberadaan jenis Burung Gosong di Kepulauan Masalembu. Tetapi jika menilik deskripsi Oberholser 1917, Dr. Abbot pernah menjumpai adanya burung Gosong Kaki Merah di Pulau Masakambing. Jenis ini sama dengan jenis Burung Gosong yang dijumpai di Lombok dan Nusa Tenggara Timur.

Setelah Dr. Abbot melakukan penelitian ke Kepulauan Masalembu, sangat jarang sekali adanya kegiatan penelitian kembali di wilayah tersebut. Itu sebabnya keberadaan Burung Gosong Kaki Merah di Kepulauan Masalembu seolah tenggelam bersama surutnya kunjungan penelitian di kepulauan yang terpencil itu. Berpuluh tahun berselah setelah aktivitas Dr Abbot itu, Balai Besar KSDA Jawa Timur berhasil menemukan jejak di Masalembu, namun juga belum berhasil secara maksimal mendokumentasikan burung ini di kawasan konservasi itu.

Masalembu

Kelihatannya hanya berada dalam wilayah Sumenep, Madura. Tapi sebenarnya tak mudah mencapai pulau yang satu ini. Mengingat, transportasi yang sulit. Pulau Masalembu hanya dapat dicapai dengan perjalanan laut selama 14 jam melalui Pelabuhan Kalianget, Sumenep, Madura.

Di Pulau yang berpenduduk 22.599 jiwa, menurut data Bappeda Sumenep, keberadaan Burung Gosong dapat dipastikan melalui sarang-sarang aktifnya yang menakjubkan. Berupa gundukan tanah dengan diameter mencapai 2 meter, dan tinggi mencapai 1,5 meter.    

Di Kepulauan Masalembu ini terdapat tiga pulau besar. Masing-masing Pulau Masalembu, Pulau Masakambing, dan Pulau Keramaian. Secara administratif kepulauan ini termasuk dalam wilayah Kecamatan Masalembu, Kabupaten Sumenep, Provinsi Jawa Timur.

Posisi Pulau Masalembu berada di bagian utara wilayah Kabupaten Sumenep, dikelilingi oleh perairan laut bebas dan berjarak sekitar 112 mil laut dari Pelabuhan Kalianget. Kondisi ini menyebabkan Pulau Masalembu berbatasan langsung dengan perairan bebas yang acap kali menghempaskan gelombang-gelombang raksasa.

Masalembu fotoistimewagoogleMasalembu. foto:istimewa/google

Di ranah konservasi sumberdaya alam, Burung Gosong alias Megapodius reinwardt ini adalah salah satu hewan endemik di Pulau Saobi. Pulau Saobi berada di Kepulauan Kangean, juga di Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur.

Bila dilihat sekilas tanpa mengedipkan mata, Burung Gosong ini hampir mirip dengan saudaranya. yaitu burung maleo. Burung Maleo berada dan asli di Sulawesi. Namun ada beberapa perbedaan diantara keduanya meski sering disebut saudara.

Burung Gosong tergolong burung yang bersayap pendek dan hidup di atas tanah. Terbangnya kaku dan biasanya hanya untuk jarak yang pendek. Tetapi jangan tanya kalau sudah berlari menghindar dari apapun, dia mampu lari dengan baik dan tak terkejar oleh musuh. Bila dewasa, burung ini berukuran sedang sekitar 36cm. Warnanya coklat keabu-abuan dengan sisi muka kemerah-merahan dan memiliki jambul pendek.

Tubuh bagian atas coklat merah, bagian bawah keabu-abuan. Burung-burung muda berbintik dan bergaris-garis coklat serta coklat gelap. Pada bagiaan iris berwarna coklat, paruh berwarna kuning, dan kaki berwarna jingga.

Burung ini mempunyai kebiasaan hidup sendiri. Soliter. Atau juga berpasangan bila sudah kawin. Kebiasaannya adalah berlari tergesa-gesa di lantai hutan dan semak-semak, bahkan hutan bakau. Kebiasaan pastinya adalah menggaruk-garuk tanah untuk mencari serangga.

Kalau merasa terganggu burung ini akan berlari atau terbang rendah di atas tanah. Pada malam hari mereka bertengger pada ketinggian 5 sampai 10 meter di atas tanah.

Selain kebiasaan ini, burung gosong juga mempunyai kebiasaan unik yaitu pada malam hari mengeluarkan suara aneh dan menakutkan, kadang-kadang mengeluarkan suara pangilan berceguk-ceguk rendah. Makanan burung ini adalah buah-buahan kecil dan serangga.

Di luar Jawa Timur, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Nusa Tenggara Timur juga menjaga spesies Burung Gosong Kaki Merah. Sampai saat ini masih Burung Gosong hidup dan berkembang biak di daratan Pulau Flores dan Pulau Sumba dan bersarang di tanah. Burung Gosong diketahui sebarannya juga merata hampir seluruh Pulau Flores.

Jumlah populasi Burung Gosong di NTT? Belum diketahui persis karena belum dikaji secara mendalam. Namun, hasil patroli di kawasan konservasi masih gampang ditemui secara langsung maupun lewat perjumpaan sarangnya. (idi/habis)

Penulis : Widi Kamidi

Bagikan artikel ini

Berita terkait:

05 Feb 2021 21:23 WIB

Ngaji Maritim, NU Kangean Rumuskan Solusi untuk Nelayan Lokal

Jawa Timur

Potensi ikan bisa tergali dengan maksimal.

14 Jan 2021 17:57 WIB

Pemancar Rusak, Warga Raas Sumenep Dua Bulan Kesulitan Internet

Jawa Timur

Mereka mencari jaringan dari Pulau Sapudi.

20 Dec 2020 16:15 WIB

Muslim Wear Batik, Produksi Rutan Sumenep Karya Desainer Imus

Inovasi

Menyambut tahun baru, Imam Mustafa meluncurkan koleksi terbaru

Lihat semua

Topik Lainnya

Temukan topik menarik lainnya.

Tirto.ID
Loading...