DISKUSI: Bedah Buku "Nalar Politik Rente" karya Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah, Dahnil Anzar Simanjuntak. (foto: ist)

Buku Nalar Politik Rente, Kritik Kader Muda Muhammadiyah

05 Mar 2018 12:58

Lihat versi non-AMP di Ngopibareng.id

Madrasah Anti Korupsi dan Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah menggelar acara peluncuran buku. Judulnya, ‘Nalar Politik Rente’ karya Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah, Dahnil Anzar Simanjuntak.

Dalam kegiatan yang digelar di gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah, Menteng Raya Jakarta Pusat itu, acara diisi pidato kebangsaan para tokoh.

Tercatat, beberapa tokoh hadir meramaikan pidato tersebut seperti Ketua MPR Zulkifli Hasan, mantan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Republik Indonesia Rizal Ramli, Walikota Tapanuli Tengah dan Bupati Sibolga, serta tokoh pengusaha dan budayawan Jaya Suprana.

CEO Kantor Berita Politik RMOL yang juga mantan ketua PP Pemuda Muhammadiyah Teguh Santosa menjelaskan bahwa buku ‘Nalar Politik Rente’ karya Dahnil tersebut adalah cetakan ke tiga yang disempurnakan.

“Arief Budiman (tokoh pergerakan orde lama dan orde baru) itu pernah menulis hal yang serupa tahun 1995. Bagaimana Korea Utara yang otoriter itu sukses melakukan pembangunan. Sementara Indonesia yang tidak otoriter ini justru kacau karena praktik rente. Arief mungkin senang jika bertemu pemuda seperti Dahnil,” ujar Teguh, belum lama ini.

Ketua Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah Dahnil Anzar Simanjuntak mengaku, yang menjadi inspirasinya menulis ‘Nalar Politik Rente’ adalah ‘Kelirumologi’ Jaya Suprana. Jaya Suprana menulis ‘Kelirumologi’ dalam rangka mempelajari kekeliruan yang terlanjur dianggap benar di tengah masyarakat.

Menurut Dahnil ada kekeliruan besar pada cara pandang elit politik dan masyarakat politik terhadap politik itu sendiri.

“Bagi mereka yang belajar teori politik, ada salah satu teori politik yang menarik oleh Auguste Comte. Comte membagi manusia menjadi dua macam. Satu bertipe egoistik yang mementingkan kepentingan diri sendiri dan satu yang lain adalah altruistik, mementingkan kepentingan oranglain. Politik kita hari ini, adalah politik egoistik,” terang Dahnil.

Dahnil menyayangkan kesalahan persepsi yang terjadi di tengah masyarakat seperti itu. Menurutnya, bingkai nalar dan tindakan politik itu seharusnya altruistik. Politik adalah ruang altruisme.

“Kita kehilangan tujuan. Orang ingin jadi PNS karena ingin mendapat jaminan tunjangan sampai hari tua. Orang ingin jadi politisi karena mengejar rente. Itu egoistik. Nalar egoistik itu harusnya berada di masalah ekonomi, bukan politik. Tapi karena nalarnya egoistik, yang muncul adalah politik oligopoli. Politik kita tidak kompetitif. Ada barrier, yaitu modal. Yang bertarung adalah uang, bukan gagasan. Politik kita kering karena yang punya gagasan kalah oleh yang punya uang,” tegas Dahnil.

Dahnil membandingkan ruang egoistik seperti itu dengan apa yang terjadi di dalam lingkungan Muhammadiyah. Menurutnya, Muhammadiyah memiliki semangat altruistik dalam teologi Al Ma’un yang menjadi jiwa Muhammadiyah.

“Kalau di Pemuda Muhammadiyah, politik adalah ruang untuk saling berlomba dalam kebaikan. Kami punya slogan ‘fastabiqul khairat’, saling berlomba-lomba dalam kebaikan. Seharusnya, politik kita seperti itu,” imbuhnya.

Ketua MPR Zulkifli Hasan mengakui bahwa memang ada yang belum benar di dalam ruang politik Indonesia, tanpa menafikan banyak hal yang sudah benar di dalam politik Indonesia.

Sementara itu mantan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Rizal Ramli mengaku bangga dengan apa yang dilakukan oleh Dahnil dan Pemuda Muhammadiyah.

“Saya bangga karena tradisi Muhammadiyah adalah intelektual. Pikirannya jernih. Seperti tokoh-tokoh pergerakan nasional kita yang datang dari Muhammadiyah, yaitu Sudirman dan Soekarno,” ujarnya.

Berkesempatan menyampaikan pandangannya, tokoh pengusaha dan budayawan Jaya Suprana menaruh harapan besar pada sosok Dahnil.

“Saya kagum dengan Dahnil. Ketika semua tokoh agama diundang oleh Presiden, Dahnil satu-satunya yang berani menyampaikan kritik di depan beliau. Pun ketika Kanisius mendapat masalah, Dahnil adalah yang pertama hadir dan menjamin melindungi Kanisius. Saya kira hal-hal seperti itu yang dilakukan Dahnil sudah melampaui batas-batas agama, tapi sudah mendarah daging. Nanti, di masa depan tolong pimpin negeri ini,” ujar Jaya Suprana yang disambut oleh tepuk tangan para hadirin.

Dahnil menegaskan, tujuan menulis buku ‘Nalar Politik Rente’ adalah mengawal akal sehat. Sebab menurutnya, turunan dan implikasi dari nalar rente itu membuat banyak mafsadat dan mudharat.

“Dialog yang kering, tidak ada gagasan, lahirnya dinasti, politik gincu dan bedak, dan akhirnya poliltisi yang dipilih adalah dari penampilan dan kemampuannya berakting, bukan dari gagasan,” maksud Dahnil.

“Mudah-mudahan buku ini bisa meluruskan nalar yang keliru dan mengembalikan kita kepada nalar yang sehat,” pungkasnya. (adi)