Peserta lomba mancing memadati sungai depan Masjid Ponpes Abdul Hadi di Desa Ngudirejo, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, pada Kamis, 20 Agustus 2020 pukul 19.30 WIB. (Foto: M.Rizqi/Ngopibareng.id)
Peserta lomba mancing memadati sungai depan Masjid Ponpes Abdul Hadi di Desa Ngudirejo, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, pada Kamis, 20 Agustus 2020 pukul 19.30 WIB. (Foto: M.Rizqi/Ngopibareng.id)

Bukan Sebatas Lomba Memancing Ikan di Jombang, Ada Filosofinya

Ngopibareng.id Feature 20 August 2020 22:53 WIB

Pelataran masjid pondok pesantren (ponpes) Abdul Hadi tampak ramai, pada Kamis 20 Agustus 2020 pukul 19.30 WIB. Para santri tampak bersiap mengikuti lomba memancing ikan lele di area masjid yang berlokasi di Desa Ngudirejo, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, Jawa Timur.

Dari jarak 100 meter terdengar keras suara pembawa acara mendengungkan peraturan lomba. Sebagian santri ada yang bermasker. Tapi sayang, ada sebagian orang lainnya yang mengabaikan protokol kesehatan Covid-19.

Di sisi lain, tampak para panitia berbaju merah menyiapkan ratusan ikan lele segar. Ini adalah momen pertama lomba mancing untuk umum. Warga setempat tentu tak mau melewatkan kegiatan yang bertepatan dengan libur Tahun Baru Islam 1 Muharram 1442 Hijriyah.

“Ini lomba pancing ikan pertama yang kami gelar untuk umum sampai pukul 23.00 WIB. Sebelumnya kami mengadakan lomba untuk santri saja. Lomba ini menyemarakkan HUT RI sekaligus Tahun Baru Islam,” kata Akhmad Makhrus, pendiri dan pengurus pondok pesantren Abdul Hadi kepada Ngopibareng.id.

Pria yang akrab disapa Gus Makhrus itu baru saja menyelesaikan salat isya. Berpeci hitam dan bersarung, dia menyebut ada sekitar 1500 lele dengan berbagai ukuran siap dituangkan ke sungai. Yang terberat ukuran 3 kilogram dengan panjang 1 meter, dan paling kecil beratnya 4 ons. Lele ini diperoleh dari tengkulak sekitar.

Sejumlah panitia menyiapkan ikan lele yang akan dihanyutkan di sungai Foto MRizqiNgopibarengidSejumlah panitia menyiapkan ikan lele yang akan dihanyutkan di sungai. (Foto: M.Rizqi/Ngopibareng.id)

Lomba Memancing sebagai Lambang Rezeki

Gus Makhrus menjelaskan lomba memancing digelar sebagai rasa syukur atas kemakmuran warga Indonesia. Selain itu juga untuk menjaga kerukunan masyarakat. Tak lupa menjaga sejarah dengan menanamkan jiwa kemerdekaan.

Menurut Gus Makhrus, ikan lele memiliki filosofi. Secara fisik, ikan lele bermulut besar, rakus, dan licik. Lele disimbolkan sebagai tindak tanduk penguasa yang korup. Penguasa bermulut besar, sering berbual, rakus dan tidak mau kalah harus segera diadili.

“Ikan lele itu simbol oknum pejabat yang banyak korupsi. Mulutnya besar, sering omong kosong serta membodohi umat. Mereka juga suka makan jatah orang kecil, semuanya diambil. Yang kecil dibantai, makanya harus segera diadili dengan cara dipancing,” ujarnya.

Di sisi lain, memancing menyimbolkan cara memperoleh rezeki yang berbeda-beda. Maksudnya kendati posisi dalam memancing tiap orang tidak sama, manusia masih bisa memperoleh rezekinya masing-masing.

“Mancing ini seperti simbol rezeki ya. Ada yang posisi di sudut ini dapat dua ikan. Ada yang di posisi lain nggak dapat ikan. Intinya itu perumpaan rezeki yang datangnya dari sang maha kuasa. Semuanya sudah diatur, jadi nggak perlu bertengkar,” tegas Gus Makhrus.

Mat Saiful kanan saat menyiapkan kail dan umpannya sebelum memulai lomba Foto MRizqiNgopibarengidMat Saiful (kanan) saat menyiapkan kail dan umpannya sebelum memulai lomba. (Foto: M.Rizqi/Ngopibareng.id)

Sungai Tempat Munajat Nabi Khidir

Lomba yang digelar Gus Makhrus sudah mengantongi izin dari kepala desa setempat. Jombang saat ini berstatus zona orange. Lomba memancing yang diikuti 185 orang ini dihelat di sungai depan masjid ponpes. Pesertanya berasal dari Kabupaten Jombang.

Ikan lele sengaja dihanyutkan ke sungai untuk mendapatkan berkah dan syafaat dari Nabi Khidir. Terlebih, meramaikan masjid serta ponpes.

“Ikan lele kami hanyutkan ke sungai agar meramaikan masjid dan ponpes. Harapannya juga agar mendapat berkah dari Nabi Khidir. Nabi dulu bermunajat di tepi sungai. Jadi semoga syafaat Rasululloh dan Nabi Khidir diterima santri, umat, dan masyarakat,” rinci Gus Makhrus.

Di sisi lain, sebelum lomba dimulai, salah satu peserta dari Desa Brambang Mat Saiful menyiapkan peralatan perangnya. Mulai dari alat pancing, kail, umpan serta tak lupa masker wajah. Mat Saiful tampak antusias dalam mengecek kelima kail serta umpannya. Ditemani sang kakak, Mat Saiful mengaku mengikuti lomba sebagai kegemarannya.

“Memancing hobi saya sejak usia 20 tahun. Saya tahu lomba ini dari WhatsApp. Saya siapkan 30 kail untuk jaga-jaga kalau putus. Umpannya ada jangkrik, cacing, daging ayam potong. Saya nggak takut corona yang penting sudah antisipasi,” ujarnya.

Berbeda dengan Mat Saiful, peserta yang lain, Kasiono dari Desa Plumbon Gambang mengikuti lomba pancing karena gratis. Selain itu, Kasiono ingin merelaksasikan uratnya agar tidak tegang.

“Ini pertama kalinya saya ikut lomba karena gratis. Saya ingin refreshing dan nyari hiburan. Di sini saya juga jaga jarak,” tutupnya.

Penulis : M. Rizqi

Editor : Yasmin Fitrida

Bagikan artikel ini

Berita terkait:

25 Jan 2021 07:15 WIB

Amerika dan Generasi Saya

Ajar Edi

Amerika Serikat telah memiliki pemimpin baru.

25 Jan 2021 07:01 WIB

Dunia Bagai Gunung Bersalju, Pesan Kiai Husein Muhammad

Islam Sehari-hari

Cara pandang orang-orang tasawuf

25 Jan 2021 06:44 WIB

Menolak Piagam Islam, Ini Sikap Tiga Kelompok Muslim Prancis

Internasional

Dianggap berisiko "melemahkan ikatan kepercayaan"

Lihat semua

Topik Lainnya

Temukan topik menarik lainnya.

Tirto.ID
Loading...