Soal Film Sexy Killers, Ini Kata Aktivis Energi Terbarukan

16 Apr 2019 20:27 Warta Bumi

Menjelang Pemilu 2019, film Sexy Killers menjadi sorotan publik. Sebagian orang mengatakan kalau film ini justru mengarahkan penonton untuk golput.

Sebagian yang lain, lebih berpikir perihal yang bisa dilakukan setelah menonton film berdurasi 88 menit tersebut. 

Meskipun film ini berkaitan erat dengan kedua calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) dalam Pilpres besok. Ada beberapa hal yang penting dan tidak boleh dilupakan mengenai isi film.

Mutia, aktivis Enter Nusantara, sebuah organisasi yang konsen terhadap energi terbarukan, berbagi beberapa hal sederhana yang bisa dilakukan untuk melestarikan lingkungan dan membantu korban terdampak pembangunan.

"Film ini tidak membahas tentang golput, tapi mempromosikan energi terbarukan," ujarnya padapSenin 15 April 2019 di Malang.

Mutia mencontohkan cuplikan film Watchdoc lainnya yang berjudul "Kasepuhan Ciptagelar". Masyarakat di kampung Ciptagelar, Sukabumi, Jawa Barat, tidak menggunakan listrik yang dihasilkan oleh PLTU.

Melainkan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hydro yang memanfaatkan turbin arus sungai. Selain itu, masyarakat adat ini juga memanfaatkan panel surya untuk memasok kebutuhan listrik di kampungnya.

Bagi masyarakat urban mungkin hal ini sulit untuk dilakukan. Memulai energi terbarukan yang ramah lingkungan menurut Mutia memang tidak mudah. "Misal panel surya, ini pajaknya masih tinggi," ujarnya.

Tapi langkah-langkah kecil dengan mengurangi penggunaan gawai, juga bisa membantu menghemat energi. Mutia mengatakan betapa energi berlebihan yang kita gunakan sehari-hari ternyata memakan korban nyawa di lubang tambang sana. Seperti yang disampaikan Film Sexy Killers.

Pertama, hemat energi sebisa mungkin. Kemudian mulai menyebarkan informasi seluas-luasnya. Sehingga, peningkatan awareness lebih tinggi. Selain itu, bagi kaum milenial juga bisa lebih aktif mengikuti kegiatan kerelawanan.

"Jangan pernah merasa masalah listrik hanya dialami mereka yang di sana. Demand masyarakat urban tinggi, memperbesar kemungkinan penderitaan mereka. Bisa mengabdi pada masyarakat. Dampingi, berjuang, bersama masyarakat," kata Mutia. (fjr)

Penulis : Fajar Dwi Ariffandhi
Editor : Witanto


Bagikan artikel ini