Buka Puasa di Mal Menjadi Gaya Hidup Mahal Tidak Masalah

13 May 2019 12:42 Serba-serbi

Berbuka puasa bersama di mal sekarang menjadi gaya hidup milenial. Hampir seluruh restoran di mal yang menawarkan paket berbuka puasa dengan menu khas Indonesia, dipenuhi umat muslim yang akan berbuka.

Pengunjung harus rela antre berjam-jam di depan restoran. Sampai waktu berbuka masih ada pengunjung yang belum mendapat tempat.

Sebelum berkeliling mal sambil menunggu waktu berbuka, pengunjung disarakan pesan tempat dulu. Sebutkan untuk berapa orang, dan menunya apa saja, lalu bayar.

Pemesan harus sudah ditempat 30 menit sebelum waktu berbuka. Kalau tidak akan diberikan kepada pengunjung lain, mengingat yang antre cukup banyak.

"Zaman dulu antre untuk mendapat jatah bahan makanan karena waktu itu kondisi ekonomi yang buruk, sekarang berbalik antre untuk membeli makanan," gerutu seorang pengunjung yang menunggu giliran.

Pantauan ngopibareng.id pemandangan seperti ini terjadi di hampir seluruh restoran di pusat pusat perbelanjaan modern yang menyajikan paket spesial berbuka.

Fenomena ini dimanfaatkan sebagai peluang bisnis oleh pengusaha restoran. Ada restoran yang sebelumnya menyajikan menu Eropa, Jepang dan China, sekarang ikut menyediakan paket berbuka dengan masakan Jawa dan Sunda. Tahu, tempe, gurame, cumi, ayam goreng, cah kangkung, lengkap dengan sambel orek dan lalapan.

"Kami harus menyesuaikan dengan kebutuhan pasar," kata Candra, seorang pengusaha restoran Jepang di Mal Citra Land, kawasan Jakarta Barat.

Untuk menyiapkan menu baru ini, Candra mendatangkan beberapa orang juru masak dari Garut dan Jawa Tengah, yang betul-betul ahli dengan masakan Indonesia. Tak salah, setiap menjelang berbuka puasa restorannya penuh. Ia mengaku kewalahan dan harus ikut membantu jadi pramusaji.

"Mengingat yang kami layani umat muslim yang akan berbuka, kesucian dan kehalalan makanan sangat kami jaga. Untuk menghormati pengunjung yang berpuasa, pramu sajinya disaran berkerudung," kata Candra.

Melihat di daftar menu ada nasi uduk, sayur asem, cah kankung, tahu tempe, bakwan jagung, ikan gurami, patin dan pecel lele dan sambel orek. Tapi jangan kemudian berpikir menu 'kampung' di restoran ini harganya murah meriah sama dengan warteg atau angkringan di pinggir jalan.

Dalam daftar menu paket berbuka tertulis tempe dan tahu goreng per potong harganya Rp8 ribu. Delapan kali lipat dari harga di warung angkringan. Ayam goreng Rp20 ribu, cah kangung Rp25 ribu, gurame penyet Rp75 ribu/ekor dan teh tawar Rp4 ribu.

Sebagai pembuka pengunjung di beri tiga butir buah korma secara gratis. Beberapa pengunjung milinial di restoran ini, memberikan jawaban atau alasan yang hampir sama waktu ditanya mengapa memilih berbuka puasa di mal."

Biasa sih tidak. Tapi sesekali bolehlah memanjakan lidah di bulan sambil jalan jalan," kata Lidia, mahasiswi semester lima Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia Depok. Ia berbuka dengan cara patungan bersama empat orang temannya.

"Saya tadi berlima habis Rp320ribuan. Menurut saya tidak mahal banget, kata Lidya waktu keluar dari Restoran Sambel Elok Mal Citra Land, Minggu 11 Mei 2019.

Berbeda dengan penuturan Ny. Sri Wibowo, karyawati sebuah perusahaan asuransi di Kawasan Sudirman ini. Makan di mal bukan kebiasaannya. Kebetulan setiap minggu mengajak putrinya Kenes Kawuriyan ke tempat bermain anak anak di mal. Mengingat bersamaan dengan waktu berbuka, sekalian mampir ke restoran yang menyediakan paket berbuka.

"Saya tidak menyangka kalau yang berbuka puasa di mal serame ini," katanya.

Ia memuji pengusaha restoran yang cerdas dalam memanfaatkan peluang bisnis di bulan puasa. "Menurut saya ini peluang, kalau bisa menunya jangan yang berat berat. Tidak semua pengunjung 'kantongnya' tebal. Ada kalanya sekadar mengajak anaknya bermain dan jalan jalan , contohnya saya," katanya sambil tertawa. (asm)

Reporter/Penulis : Asmanu Sudharso
Editor : Moch. Amir


Bagikan artikel ini