Budidaya Burung Merpati Balap, Harga per Ekor Mencapai Rp35 Juta

16 Jun 2019 10:30 Ngopibareng Pasuruan

Bagi sebagian orang mungkin tidak ada yang istimewa ketika menyaksikan burung merpati jantan terbang cepat di udara, menukik tajam, lalu menghampiri sang betina. Akan tetapi, sangat berbeda bagi para penggila burung yang hobi bermanuver ini. Memelihara burung merpati yang bisa terbang cepat, bahkan seringkali menjadi juara, jelas menjadi sebuah kebanggaan.

Siapa yang mengira, ternyata, hobi memelihara burung merpati bisa mendatangkan keuntungan. Mantan pemain Persekabpas (klub sepakbola Kabupaten Pasuruan), Ali Kasan merupakan salah satu peternak burung merpati balap. Ia tertarik budidaya ini sejak tiga tahun lalu.

Pemicunya, salah satu teman mengajak Ali Kasan ke sebuah kejuaraan burung merpati balap, plus bagaimana bisa menghasilkan burung merpati juara. Setelah dikenalkan, rasa ingin memiliki plus mengembangkan burung merpati balap langsung muncul. Hanya saja, untuk terjun ke bisnis ini, memang membutuhkan modal.

"Pertama kali membeli indukan satu pasang. Pejantan 'Kipli' beli dari Roy Akas Probolinggo (pebisnis burung merpati balap) seharga Rp 25 juta dan induk betina dari jombang seharga Rp 15 juta," ungkap warga Desa Kraton, Kecamatan Kraton, Kabupaten Pasuruan.

Dari modal awal itu, Kasan bercita-cita ingin meneruskan keturunan legenda merpati balap tingkat nasional. "Pelan-pelan impian ini jadi kenyataan. Setiap ekor anakan burung merpati balap harganya Rp 1,5-2 juta per ekor. Ada yang berani menawar Rp 35 juta untuk salah satu merpati," beber Ali Kasan.

Sekarang, Ali Kasan punya 20 pasang ekor merpati balap yang sudah siap berkompetisi. Bahkan, beberapa ekor peliharaannya sudah juara di level regional dan nasional. Diantaranya Bintang KSN (Kasan Sholeh), Moseng, Senator, dan Mobile Legend.
“Asyiknya beternak burung merpati balap terletak pada bagaimana menunggu anakannya. Rejeki-rejekian, belum tentu jadi anakan yang bagus meski induknya unggul. Kalau membudidayakan burung merpati harus dari hati, karena kalau sudah dilepas, pasti kita berdoa supaya jangan sampai hilang. Karena kalau sudah hilang, kita gak tau ke mana terbangnya. Harus ada chemistry antara burung dan pemiliknya,” urainya.
Dalam seminggu, Kasan melatih burung-burung merpati balap kesayangannya selama 4 hari, yakni mulai Kamis sampai Minggu. Mulai pukul 13.00 WIB sampai 15.00 WIB.
“Kenapa siang, karena seperti orang yang ingin jadi tentara, polisi, atlet, mesti latihan lari nya siang hari. Selain biar terbiasa dengan cuaca terik, latihan siang hari membikin kekuatan burung semakin bagus. Tapi asupan gizi nya juga harus terjaga,” tuturnya sembari memberi makan beberapa burung kesayangannya.
Asupan gizi yang dimaksud adalah makanan burung merpati. Setiap harinya, kasan memberi makan berupa kacang tanah, beras merah dan jagung. Sedangkan vitaminnya adalah B Complek dan Sakatonik.
“Namanya juga cinta, jadi Insya Allah saya akan terus membudidayakan burung merpati balap. Selain menguntungkan, ini juga hobi yang saya lakukan untuk merefresh pikiran,” ujar pria berprofesi Aparatur Sipil Negara di Badan Keuangan Daerah (BKD) Kabupaten Pasuruan itu. (emil)

Penulis : Yasmin Fitrida


Bagikan artikel ini